blabliblupblablop..

adi's posts with tag: unpublished

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag unpublished
Posted by adi on Sep 26, '07 6:36 AM for everyone
“Bagaimana kabarnya kang,” tanya saya kepada Mohamad Sunjaya beberapa hari lalu.

 

“Baik-baik saja,” jawabnya ketika bertemu dalam sebuah pembukaan pameran seni serat di kawasan Bandung utara.

 

Jawaban itu sekaligus menghilangkan kekhawatiran saya akan kondisi kesehatan Kang Yoyon-demikian dia akrab dipanggil. Pasalnya, di awal bulan September lalu, dia sempat menginap di rumah sakit akibat penyakit jantung yang dideritanya. Maklum saja usia Kang Yoyon sudah 70 tahun.

 

Namun penyakit dan usia itu justru bukanlah halangan baginya untuk tetap tampil memerankan Bob, seorang aktor pensiunan dalam “Kehidupan di Teater”. Lakon ini sengaja dipersembahkan sebagai syukuran 8 Tahun Actor Unlimited dan ulang tahun Kang Yoyon.

 

Dalam pementasan yang digelar di auditorium Pusat Kebudayaan Francis (CCF) Bandung, Jumat (7/9) lalu, tokoh Bob ini, bagi saya lebih merupakan representasi kehidupan Kang Yoyon. Hal yang sama diungkapkan oleh sutradara “Kehidupan di Teater”, Wawan Sofwan.

 

“Pas sekali, harus Kang Yoyon yang main,” ujar Wawan yang membeli naskah itu satu tahun lalu. Gubahannya atas naskah itu lebih pada penamaan karakter saja, dari yang semula Robert menjadi Bob. Dialog di atas panggung, meski tidak sepenuhnya, menjadi tempat bagi kedua orang aktor untuk mengekspresikan diri.

 

Pertunjukkan teater yang berlangsung selama dua hari ini sendiri diawali oleh perbincangan Bob dan John (Wrachma Rachladi Adji) di ruang kostum. Iringan piano berirama klasik menjadi suara latar saat Bob mengomentari pementasan tersebut dengan sangat serius. John, yang lebih muda dan tengah naik namanya, hanya mengiyakan omongan seniornya.

 

“Bagaimana pertunjukkan saya tadi,” tanya Bob.

 

“Bagus, sudah bagus. Hanya ada yang kurang, seperti penghayatan,” jawab John.

 

Kedua tokoh ini terus berdiskusi tentang pertunjukkan yang baru saja dilaluinya. Hal-hal semacam ini memang sangat jarang kita temui dalam dunia teater. Naskah-naskah teater yang membahas kehidupan di belakang panggung memang tidak banyak. Sebut saja, naskah “Nyanyian Angsa” karya Anton Chekov.

 

Kembali ke panggung. Komentar saling kritik dan puji ternyata menjadi bagian dalam kehidupan keduanya, setelah memainkan perannya masing-masing di panggung.

 

Kesendirian dan kesepian tampaknya menjadi beban bagi Bob, yang memang hanya mendedikasikan hidupnya untuk berkesenian di atas panggung. Hal ini terlihat dari tidak adanya lagi kegiatan dia di luar panggung selain ‘menemani’ dan memberi bimbingan kepada sang aktor muda dalam latihannya. Selebihnya mereka berdua memainkan peranannya masing-masing dalam pertunjukkan.

 

Bob, tampak sebagai aktor yang sudah berhasil mencapai ketenarannya sendiri. Dia malah tampak takut tersaingi oleh John. Terlebih saat Bob memilih untuk mengikuti dan mengamati latihan John di sebuah gedung pertunjukkan tua.

 

“Kau ada di sana Bob?” tanya John yang tengah melakukan pemanasan.

 

Tidak ada jawaban sampai akhirnya ada tepukan tangan ketika John menyelesaikan sebuah dialog sembari membawa pedang. Bob pun menunjukkan dirinya kepada John.

 

Senang mendapatkan pujian dari aktor yang lebih senior, John juga merasa dirinya tidak bebas. Gestur tubuhnya menyiratkan kalau dia tidaklah nyaman berlatih dengan adanya kehadiran Bob di sisinya. Tidak sulit untuk melihat kekesalan John, terlebih Wrachma Rachladi Adji memang memiliki kelebihan dalam olah tubuhnya.

 

Merasakan ketidaknyamanan dalam diri John, Bob pun memilih untuk menyingkir. Namun kepergiannya itu dibarengi dengan pemikiran kalau eksistensi dan popularitas dirinya mulai terpinggirkan dengan kehadiran aktor muda seperti John. Adegan ini, seakan-akan sulit dipisahkan dari keseharian yang dijalani oleh Kang Yoyon.

 

Dia memang sering hadir, kalau tidak berhalangan, ke berbagai acara teater. Selain itu, Kang Yoyo selalu memberikan kritik dan masukan apabila para pemain teater selesai manggung. Sulit membedakan apakah Kang Yoyon hanya berakting sebagai Bob atau Kang Yoyon tengah mengeksperikan dirinya sendiri, hanya nama saja yang berbeda.

 

Memang tidak seluruh naskah itu diadaptasi dalam lakon ini. Wawan sengaja memilih yang dialog yang memiliki nilai kesamaan dengan kultur di Indonesia. Kang Yoyon yang mendapati naskah itu pun melengkapinya dengan improvisasi sendiri. Misalnya saat Bob dan John menikmati hidangan mie.

 

“Mie ini enak, dari mana?” tanya John.

 

“Ini dari restoran Mister Sung dekat hospital,” jawab Bob.

 

Dialog ini tidak mungkin ada dalam naskah aslinya. Restoran yang dimaksud memang milik Sonny Soeng, seorang sahabat Kang Yoyon yang turut mendirikan kelompok teater Actors Unlimited pada 28 Agustus 1999.

 

Bagi Sutardjo A. Wiramihardja, Ketua Umum Studiklub Teater Bandung, pementasan “Kehidupan di Teater” memiliki keunikan. Cara David Mamet bercerita itu membuat penonton membutuhkan waktu lebih lama agar bisa mencerna apa yang sedang terjadi di panggung.

Selepas itu barulah penonton bisa bersikap kritis terhadap bagaimana kejadian itu ditampilkan dalam bentuk pemeranan dengan segala aspeknya, termasuk kostum dan tata cahaya.

 

Yang menarik diperhatikan dalam pementasan ini adalah setting panggung yang cukup unik. Satu panggung dibuat lebih rendah dibandingkan yang lain. Setting ini juga yang menjadi pemisah saat kedua aktor memerankan tokoh lain ketika manggung dan satu lagi menjadi tempat kedua bercengkarama serta berlatih di luar pentas.

 

“Itu memang untuk memecahkan ruang termasuk penonton,” kata Wawan yang juga menyutradarai “Nyai Ontosoroh” di Jakarta beberapa waktu lalu.

 

* * *

 

 

 

Kang Yoyon sendiri memang berbeda dengan kedua saudara kandungnya, Yogi S Memet (alm), yang mantan Gubernur Jawa Barat dan mantan Menteri Dalam Negeri (Mendagri) serta Tutty Anwar, yang sampai saat ini masih menjabat sebagai Bupati Majalengka.

 

Dia memilih untuk mengabdikan dirinya dalam kehidupan teater. Badannya kurus dan tidak tinggi. Namun di balik tubuh itu, dia dengan suaranya yang berat mampu menyihir para penonton teater, sampai usianya yang ke-70 tahun.

 

Penggemar musik klasik ini mengungkapkan kalau dirinya sangat bersyukur masih diberikan kesempatan oleh Sang Pencipta untuk bermain teater. “Saya berhenti minum (bir) tahun 2003. Masuk rumah sakit lagi tahun 2007, sekarang saya sudah tidak merokok, disuruh berhenti,” paparnya sesaat setelah selesai manggung.

 

Baginya pementasan “Kehidupan di Teater” merupakan sebuah gambaran bagi seorang aktor dalam menjalani kehidupan di dunia teater. Baik itu di dalam atau di luar panggung. “Makanya saya suka sinis kalau ada aktor muda yang cepat puas,” tegas Kang Yoyon yang sempat menghirup oksigen di sela-sela latihannya.

 

Menurut dia, seorang aktor itu memang tidak boleh puas dengan penampilannya. Harus selalu mau menggali dan menggali lagi soal permainan peran. “Kalau sudah main itu yang ada hanya kenikmatan.”

 

Saya sempat bertanya, apakah setelah pementasan ini, Kang Yoyon masih bermain teater? “Kalau masih diberi kesempatan (oleh Tuhan), kenapa tidak?” katanya balik bertanya.

 

Memang sulit memisahkan kehidupan dengan dunia teater dari diri Mohammad Sunjaya yang pertama kali berakting di atas panggung sejak masih SMA pada tahun 1955. Saat itu dia tampil dalam lakon “Di Langit Ada Bintang” karya Utuy Tatang Sontani yang disutradarai Noor Asmara.

 

Kang Yoyon juga merupakan aktor angkatan pertama di Studiklub Teater Bandung (STB) yang berdiri tahun 1958, dan sempat menjabat sekretaris di STB. Dia juga yang kemudian mendirikan Actors Unlimited, sebuah organisasi nirlaba yang bergerak dalam bidang teater. Lembaga ini dia bentuk bersamaan dengan usianya yang ke 62 tahun pada 28 Agustus 1999 bersama Wawan Sofwan, IGN Arya Sanjaya, Diana G. Leksanawati, Fathul A. Husein, dan Sonny Soeng.

 

“Saya bukan penguasa, atau pengusaha, dan bukan orang partai politik yang punya target dan program-program. Hidup saya mengalir saja,” katanya ketika ditanya targetnya untuk kembali ke atas panggung.

 

 

 

 

Selain bermain teater, lelaki yang masih membujang ini juga sempat menceburkan diri sebagai penyiar Radio Mara di Bandung. Kesenangannya akan dunia siaran ini juga yang membuatnya diberhentikan dari jabatannya sebagai Pemimpin Redaksi Pusat Pemberitaan Radio pada Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia. Kala itu dia menugaskan reporternya meliput demonstrasi mahasiswa.

 

Perjuangannya terhadap kemerdekaan pers dan kebebasan berekspresi dia salurkan bersama Goenawan Mohamad, Fikri Jufri, Aritides Katoppo, dan rekan-rekan yang lain dengan mendirikan ISAI (Institut Studi Arus Informasi). Pembentukan ISAI ini sendiri dilatarbelakangi pembredelan majalah berita Tempo dan Editor serta tabloid DeTIK pada 21 Juni 1994.

 

“Saya juga sempat merekam berbagai berita dari sejumlah radio asing seperti BBC, Radio Netherland, Radio Australia, Voice of America, dan Deutshe Welle. Rekamannya sampai lebih dari 35 kaset yang durasinya 90 menit, itu semua diterbitkan jadi buku Breidel di Udara,” ujar Kang Yoyon yang sempat menjadi penyiar radio dengan program  musik klasik ini.

 

Semua itu memang sudah dilaluinya. Namun dia masih belum terpuaskan. “Puas ada di waktu kita mati,” ujarnya singkat meninggalkan saya dan beberapa kawan yang masih berbincang-bincang soal aktingnya dalam lakon “Kehidupan di Teater”. [SP/Adi Marsiela] 

 


Posted by adi on Sep 4, '07 6:28 AM for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Kota Bandung Bermartabat-demikian slogan yang dicanangkan oleh Walikota Bandung Dada Rosada untuk menyejahterakan sekitar 2,4 juta warganya. Salah satunya adalah Elis Siti Khodijah (28) yang memiliki kebutuhan khusus.

Perempuan yang tergabung dalam komunitas Bandung Independent Living ini berusaha agar rekan-rekannya yang berkebutuhan khusus berani keluar dari rumahnya. Minimal bersosialisasi.

Keenganan keluar rumah tersebut disebabkan kurang ramahnya kebijakan dan fasilitas kota bagi aksesibilitas seluruh warga, termasuk yang berkebutuhan khusus. Misalnya, trotoar yang terlalu tinggi, jalan masuk ke tempat umum berupa anak tangga, dan tidak adanya angkutan kota bagi mereka yang memudahkan aksesibilitas.

Kantor Sosial Kota Bandung mencatat ada 3.393 orang berkebutuhan khusus, sementara lembaga kesehatan Persatuan Bangsa-Bangsa memperkirakan jumlah orang berkebutuhan khusus itu mencapai 10 persen dari total jumlah penduduk di setiap kota/kabupaten, provinsi, dan negara

Posted by adi on Aug 9, '07 8:48 AM for everyone

Cara berpakaiannya sederhana saja, baju koko tangan panjang berwarna biru dipadu dengan sebuah rompi coklat. Baju khas Bangladesh, seperti halnya batik di Indonesia. Rambut putihnya sama sekali tidak mengurangi semangat dia untuk berbicara tentang hal-hal positif yang bisa kita lakukan dengan diri kita sendiri. Dia mampu berbicara sembari berdiri sekitar satu jam.

Tidak ada yang keluar dari mulutnya tidak berarti sama sekali. Tapi ah, sayangnya, menurut kantor saya, seluruh omongannya itu tidak berarti. Buktinya, omongan lelaki itu yang sudah dirangkum sedemikian rupa dalam sebuah berita, tidak dimuat dalam penerbitan surat kabar keesokan harinya.

Lelaki itu bernama Muhammad Yunus. Dunia mengenalnya sebagai pemenang Nobel Perdamaian tahun 2006-yang ditentang oleh Amerika sebagai bosnya kapitalisme.
Ide Yunus sangat sederhana. Menurutnya, kita hidup dan bekerja sudah seharusnya mampu memberikan kebahagiaan untuk orang lain.

"Human being is not money maker," kata dia.

Pandangan dan tindakan Yunus sangatlah membumi. Ide dia untuk memberantas kemiskinan dengan memberikan lebih banyak kesempatan pada kaum miskin sebenarnya bisa dilakukan juga di negara kita ini. Bedanya, dia mau mencoba dan melakukannya. Di Indonesia? Mungkin harus buat dulu proposalnya, diajukan ke legislatif, kalau sudah masih harus menanti eksekutif, dan bla, bla, bla, bla.

"Poverty not created by the poor people, their victim. Poverty come from the system we made, our institution, and also the policy our goverment made. There is no poor people in the world. Everybody should have the same chance," papar dia.

Memang benar, semakin pintar seseorang semakin mudah dia akan dimengerti oleh orang lain. Hal lain yang menarik darinya adalah konsep bisnis sosial. Bisnis dalam mata Yunus, tidak harus menguntungkan pebisnisnya.

"Charity is the part from human being since long time ago. The more profit you have, the more success you are. That's insult. Human being is bigger than money maker," tegas Yunus.

Yunus bersama Grameen Bank (grameen artinya pedesaan) memberikan pinjaman kepada masyarakat miskin dan perempuan di desa-desa Bangladesh. Jaminan yang diminta oleh bank konvensional dalam hal pinjaman, tidak dia terapkan. Dia mendatangi para calon peminjam dana ke desa-desa. Semakin miskin dia, semakin tertarik Yunus memberinya pinjaman.

Orang-orang miskin, kata Yunus, lebih bisa dipercaya dibandingkan mereka yang membawa surat bukti kepemilikan tanah, modal, pengacara, dan lainnya ketika menghadap bank untuk meminta kredit. Selama 31 tahun Grameen Bank beroperasi, tidak pernah ada kasus peminjam yang tidak membayar kewajibannya. Semua berjalan normal dan aman.

"I trust them. We use the handshake law," paparnya.

"By giving money to the poor, you give them a debt loan?" tanya seorang wartawan dalam kesempatan konferensi pers.

"You see I not only give them the loan and then they pay it back to the bank. The wonder is I have employed
young people into the bank who collect money from you and the brink it the bank account. They took a lot of
money, from one people to another. But they never run away by taking money with them. This has been what
happen for 30 years in the Grameen Bank. Something we called as honesty. And we show to the governmet
official, politician what was the concrete way to be honest, to work hard ini Bangladesh which is one of
the top countries in corruption," jawab Yunus.

Inisiatif meliput kuliah umum Muhammad Yunus dalam rangkaian Dies Natalis ke-50 Unpad, di Gedung
Merdeka, Bandung, Kamis (8/8) ternyata tidak sia-sia, biar tidak dimuat beritanya oleh kantor.
Setiap bepergian, Yunus selalu menggunakan bajunya yang sederhana itu. Dia tetap bangga mempromosikan
produksi negaranya, meskipun Transparancy International menyatakan negaranya sebagai negara terkorup dalam 5 tahun terakhir.

Posted by adi on Jun 22, '07 4:59 AM for everyone

[BANDUNG] Pemberitaan isu kesehatan di media massa sebaiknya bersifat informatif dan tidak menimbulkan kepanikan. Umumnya, media massa baik di Indonesia atau negara lainnya tidak memperhitungkan dampak negatif dari sebuah pemberitaan kesehatan yang bombastis atau sensasional.

 

Hal itu terungkap dalam Kuliah Umum Strategi Pengelolaan Isu Flu Burung dan Penyakit Menular Lainnya Sesuai dengan Standar Internasional di Ruang Serba Guna Universitas Padjadjaran, Bandung, Kamis (21/6). Pembicara tunggal dalam acara tersebut adalah konsultan Centers for Diseases Control and Prevention, Dan Rutz, Master of Public Health.

 

Mantan koresponden kesehatan di kantor berita CNN ini menuturkan, pengelolaan isu kesehatan haruslah mengedepankan kepentingan publik, cara-cara melindungi diri mereka dari suatu penyakit, serta turut menyadarkan masyarakat tentang pentingnya penatalaksanaan kesehatan diri dan lingkungan.

 

“Gunakan data ilmiah dari narasumber yang kredibel dan bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah,” sambung dia.

 

Hal terpenting, kata Dan, dalam mengelola isu kesehatan adalah untuk meningkatkan kesadaran masyarakat. Dia juga menyadari setiap media massa pastilah berusaha membuat pemberitaannya tetap menarik.

 

Dia mencontohkan sebuah kasus mengenai dampak flu burung di Nigeria yang sempat diangkat oleh kantor berita Reuteurs. Dalam pemberitaannya, disebutkan sejumlah maskapai asing tidak akan mengambil persediaan makanan dari Nigeria. Hal ini diakibatkan adanya isu flu burung.

 

“Bayangkan, Nigeria itu negara miskin, kalau hal ini terjadi maka potensi pemasukannya akan berkurang,” ungkap dia.

 

Menurut dia, sebelum menurunkan sebuah berita yang terkait dengan isu kesehatan, media massa jangan hanya melihatnya sebagai sebuah fakta yang bsia diolah menjadi berita sensasional. “Pertimbangkan dampaknya. Contoh tadi bisa berkembang sampai mengganggu perekonomian suatu negara.”

 

Untuk mengatasi hal seperti itu, Dan menghimbau pelaku media memahami terlebih dahulu dimensi dari isu yang akan diangkatnya. “Pelajari bagaimana karakteristik masyarakat yang mungkin mengkonsumsi berita itu. Sikap empati sangat penting dan selalu lakukan verifikasi atas segala data dan fakta yang ada,” jelasnya.

 

Terkait dengan peranan pemerintah, dia menjelaskan, media harus menempatkannya sebagai mitra dalam mencapai tujuan bersama. Pada masalah ini, tujuannya adalah menuntaskan penyebaran penyakit. Pasalnya, masalah kesehatan itu bukan hanya menjadi tanggungjawab pemerintah saja, melainkan semua pemegang kepentingan.

 

“Pemerintah, media massa, dan masyarakat terlibat di dalamnya. Harus saling mendukung. Pemerintah juga jangan bersikap tertutup apabila memang ada pernyataan atau pemberitaan yang tidak sesuai. Semua ini demi kepentingan publik,” kata Dan

Posted by adi on Jun 19, '07 5:29 AM for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Semenjak tahun 1960, Pemerintah Indonesia telah membuat sebuah peraturan tentang Pembaruan Agraria. Peraturan itu seyogyanya mampu memberikan keadilan bagi para petani penggarap untuk memiliki tanah atau lahannya sendiri. Namun, pemerintah tidak kunjung merealisasikannya.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sendiri pada paruh Mei 2007 melalui Badan Pertanahan Nasional telah mengeluarkan kebijakan nasional dalam upaya menyelesaikan sengketa agraria. Program Pembaruan Agraria Nasional, namanya.
Permasalahannya, sampai sekarang pemerintah di tingkat provinsi sampai ke kabupaten/kota dan yang di bawahnya masih belum menerapkan program tersebut. Hasilnya, bisa kita lihat kasus di penembakan di Alas Tlogo, Pasuruan yang dilakukan oleh aparat. Tidak hanya itu, kasus sengketa tanah di Meruya Selatan membuktikan carut marutnya sertifikasi dan perijinan di negara kita.
Semoga saja niatan sekitar 10 ribu petani yang tergabung dalam Gerakan Petani Jawa Barat Menggugat untuk mempertanyakan program itu di depan Gedung Sate, Bandung, Selasa (19/6) dapat membuahkan hasil.
Mereka yang datang dari berbagai daerah di Jawa Barat seperti Tasikmalaya, Sumedang, Subang, Sukabumi, Garut, dan Cianjur itu hanya meminta pemerintah dapat memberikan rasa keadilan bagi petani penggarap dan masyarakat miskin kota.
Ini sedikit hasil pandangan mata saya….
Hidup Petani!!!
Hidup Petani!!!
Hidup Petani!!!

© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help