adi's posts with tag: performance
Posted by adi on Oct 25, '07 6:20 AM for everyone | Start: | Oct 28, '07 | | End: | Oct 31, '07 | | Location: | Venue Sasana Budaya Ganesa, Jl.Tamansari 73 Bandung |
a jazz gathering of diverse expressions Menyambut United Nation Day atau Hari Persatuan Bangsa-Bangsa yang jatuh pada tanggal 24 Oktober 2007 dan Hari Sumpah Pemuda yang jatuh pada tanggal 28 Oktober 2007, Jendela Jazz Sabuga memaknai momen penting tsb dengan menampilkan beragam keunikan ekspresi manusia dalam satu wadah, yaitu musik jazz. Musicians: -Jendela Ide Kids Percussion -Karinding Collaborative Project -4AM -Kyai Fatahillah -Imel Rosalin & the Gang -Gilang Ramadhan & friends Rangkaian acara 14.00 - 22.00 : Bazaar 14.00 – 16.00 : Workshop bersama Gilang Ramadhan 16.30 – 18.00 : Artist Talk bersama Jendela Ide Kids Percussion, Karinding Collaborative Project, Kyai Fatahillah, Imel Rosalin & the Gang, Gilang Ramadhan & Friends 19.00 – 22.00 : Konser Jazz: UNITY IN DIVERSITY
Posted by adi on Aug 11, '07 8:05 AM for everyone | Start: | Aug 14, '07 7:30p | | Location: | Auditorium CCF-Bandung |
Kisah drama heroik diambil dari naskah Asrul Sani-Naga Bonar. Oleh Green Symphony, karya Sophan Ajie, disutradarai Moch. Rizal S.A.
Posted by adi on Aug 10, '07 12:29 PM for everyone
Cara Indah untuk Memahami Perbedaan "Dalam konteks semacam ini, kami ingin berkisah tentang nilai-nilai filosofis yang dalam, bahwa kebahagiaan hidup itu tidak terletak pada hal-hal yang fisik tetapi pada nilai-nilai kerohanian." (Don Mamouney) Perempuan itu mengangkat kepala dua orang lelaki yang sangat mencintainya. Mata yang diangkat tertutup rapat. Yang satu mengenakan kacamata, layaknya pemikir. Yang satu lagi, memakai ikat kepala, layaknya jawara. Lelaki berkacamata itu bernama Ariel (Alex Blias), yang satunya lagi Ujang (Dedi Warsana). Dua kepala yang diangkat oleh Dewi (Maryam Supraba) itu tengah terpisah dari tubuhnya masing-masing. Dewi berusaha menempelkannya kembali. Dia memang tidak ingin ditinggalkan oleh Ariel sang suami, yang memotong kepala sebagai bentuk pengorbanan bagi sahabatnya, Ujang. Terlebih, Dewi belum sempat bercinta dengan Ujang, kekasih gelapnya. Keduanya memang bisa hidup kembali. Namun, kepala Ariel menempel di badan Ujang dan kepala Ujang menempel di badan Ariel. Kebingungan melanda Ariel, Ujang, dan Dewi. Mereka kesulitan menemukan siapakah suami Dewi yang sebenarnya. Kerumitan kisah cinta ini menjadi menarik dan mudah dipahami tatkala ditampilkan dengan gaya longser atau teater tradisional Sunda berjudul The Tangled Garden. Adalah Sidetrack Performance Group (Australia) dan Komunitas Celah-Celah Langit (CCL) Bandung yang menggarapnya. Longser dipilih karena sifatnya yang melibatkan penonton secara aktif dalam pertunjukannya. Perpaduan dunia barat seperti Ariel dan Ujang itu sendiri berawal dari penulisan naskah yang dilakukan oleh Don Mamouney dari Australia. Dia memadukan cerita The Transposed Heads karya Thomas Mann, The Hayavadana karya Girish Karnad, The Vetalapanchavismika dan mitologi Sunda. "Banyak benang merah di antara naskah-naskah itu dengan mitologi Sunda. Kami mengambil sisi kemasyarakatannya, Sri Pohaci," balas Don. Kembali ke panggung, beberapa batang pisang yang terpisah sekitar satu meter antara satu dengan lainnya, sengaja dipasang di bagian belakang panggung. Musik degung yang dimainkan oleh beberapa orang masyarakat dari sekitar CCL, mencirikan bahwa pertunjukan teater, tari, musik, dan multimedia ini mengambil setting di daerah pegunungan yang rimbun, Desa Sancang, Jawa Barat. Kerumitan cinta itu sebenarnya diawali oleh pertemuan kembali dua orang sahabat, Ariel, seorang anak muda keturunan campuran yang baru lulus dari universitas di kota dan Ujang, putra keluarga petani miskin yang bekerja pada ayah Ariel sang juragan perkebunan. "Ujang it's that you," tanya Ariel yang masih mengenakan helm usai mengendarai motor dari kota. Yang ditanya lalu membalas. "Ariel, tampangmu itu seperti orang terlalu banyak berpikir." Ariel yang lebih senang mencukur rambut di bagian wajahnya dengan menggunakan pisau cukur itu, berbahasa Inggris dalam percakapannya. Sementara Ujang, yang memang besar di kampung, lebih memilih untuk membasuh wajah dengan air tanpa ada ritual lain untuk "merapihkan" wajah. Uniknya, Ujang yang sangat ndeso itu selalu mengerti omongan Ariel. Singkat cerita, mereka sepakat untuk pergi ke Rancamaya, tempat suci di mana Ujang akan meminta Dewi Sri Pohaci untuk memberkahi panen padinya. Ariel yang di kepalanya sarat dengan logika dan pemikiran barat ternyata bisa menerima tindakan Ujang yang sangat mempercayai mitos dewi kesuburan. Keakraban keduanya tergambar jelas dalam perjalanan tersebut. Kelelahan yang melanda setelah keduanya bersenda gurau dan mengenang romansa lalu membuat mereka tertidur. Saat pagi tiba-ditandai kokok ayam (Gusjur Mahesa)-keluarlah seorang gadis, Dewi, yang mandi di sungai. Ujang yang sudah kenal dengan Dewi semenjak dia terpilih menjadi Putri Panen, semakin jatuh cinta kepada perempuan itu. Hal yang sama juga dirasakan oleh Ariel yang baru pertama kali melihat Dewi. Bagi Ariel, perempuan itu merupakan sosok Sri Pohaci yang turun ke bumi dan menjelma menjadi manusia. "Dia itu Dewi yang aku angkat di bahuku waktu terpilih menjadi Putri Panen. Bukan dewi seperti yang kamu bayangkan," kata Ujang kepada Ariel. Semangat feminisme yang menancap di kepala Ariel membuatnya sangat menghargai kehadiran Dewi, meski baru dilihat sekilas saja olehnya. Ujang sendiri menganggap Dewi tidak lain dari seorang perempuan yang layak untuk dijadikan istri. Tidak ingin kehilangan sahabatnya akibat 'pertengkaran' itu, Ujang memberikan golok pusaka miliknya sebagai tanda kesetiaannya pada Ariel. "Kalau itu tidak cukup, aku juga akan merencanakan pernikahanmu dengan Dewi. Kamu setuju?," tanya Ujang. Yang ditanya pun langsung menyetujuinya. Interaksi penonton dengan para pemain sangat terasa tatkala akad nikah Ariel dan Dewi berlangsung. Layaknya akad nikah di masjid, Ariel mengucapkan ijab kabul sebagai tanda serah terima mas kawin bagi Dewi. Tanpa dikomando, penonton berteriak bahwa ijab kabul tersebut tidak sah. "Satu nafas Ariel. Dalam satu napas," teriak Ujang. Ariel mengulangi ijab kabul-nya yang menyertakan satu ekor kambing, satu motor, dan satu helm. "Sah," teriak para penonton bersamaan. Kemeriahan suasana perkawinan semakin terasa ketika pasangan pengantin itu nyawer. Dewi sebenarnya sangat berharap bisa menikah dengan Ujang. Di sinilah konflik mulai terjadi. Ariel sadar akan hal itu. Dia pun meminta agar Ujang menemani dirinya dan Dewi pergi ke tempat suci, Sanghyang Tikoro, yang sekarang dikenal sebagai sisa-sisa danau purba Bandung. Sesampainya di sana, Ariel mengasingkan diri dan bunuh diri. Dengan harapan Ujang dapat hidup bersama dengan Dewi. Takut dituduh sebagai pembunuh, Ujang yang menemukan badan Ariel terpisah dengan kepalanya akhirnya memilih bunuh diri dengan cara yang sama. Sebenarnya, Dewi sempat memutuskan untuk mengakhiri hidupnya saja ketika mengetahui dua lelaki itu memotong kepalanya masing-masing. Sri Pohaci (Monica Wulff ) atau dewi kesuburan dalam mitologi Sunda menyalahkan Dewi atas kebodohannya dan memberi tahu bahwa ia harus lebih berhati-hati karena sedang hamil. "I'm sorry Ujang, Ariel (Maafkan saya, Ujang, Ariel)," tutur Dewi yang salah meletakkan badan dengan kepala. Dewi, merupakan satu-satunya tokoh yang berdialog dalam dua bahasa, Inggris dan Indonesia. Ternyata kebahagiaan tidak juga menaungi kehidupan Dewi yang hidup dengan lelaki yang berkepala Ariel dan bertubuh Ujang. Kehadiran Samadi, anak mereka tidak mampu melepaskan bayangan Ujang dari kepala Dewi. Dia pun memutuskan pergi untuk kembali menemui Ujang. Ariel yang mencari keberadaan Dewi dan Samadi akhirnya berada dalam situasi sulit. Dia harus memilih istri atau sahabat dekatnya. Akhirnya, kedua sahabat itu bertarung mati-matian sampai keduanya jatuh bersamaan. Yang tersisa adalah Dewi dan Samadi. Dewi akhirnya harus menerima kenyataan bahwa kepuasan hidup bukan terletak pada wujud fisik tetapi pada wujud batiniah. "Dalam konteks semacam ini, kami ingin berkisah tentang nilai-nilai filosofis yang dalam, bahwa kebahagiaan hidup itu tidak terletak pada hal-hal yang fisik tetapi pada nilai-nilai kerohanian," terang Don. Buat Iman Soleh pupuhu (kepala) Komunitas CCL, pertunjukan teater yang dipentaskan juga di Taman Ismail Marzuki Jakarta (10-11 Agustus 2007), Darwin (16-19 Agustus 2007), dan Sydney (23 Agustus-9 September 2007) ini merupakan sebuah proses pemahaman budaya yang berbeda antar bangsa. Pasalnya, mulai penulis naskah, sutradara, pemain, video artist, sampai pendukungnya berasal dari negara yang berbeda-beda. Misalnya, Assad Abdi yang menggarap video artist berasal dari Palestina, Carlos Gomes sang sutradara berasal dari Brazil, Monica Wulff dari Jerman, Alex Blias adalah keturunan Yunani-Australia, dan para pemeran asal Indonesia, Gusjur Mahesa, Maryam Supraba, dan Dedi Warsana. "Kerjasama ini lebih dari diplomasi budaya, tidak hanya cross cultural melainkan silaturahmi untuk saling memahami," kata Iman. Pendukung acara dari luar negeri yang datang sekitar tiga bulan lalu berkesempatan mengenali tingkah laku, kebiasaan, dan bahkan melakukan kegiatan sehari-hari bersama dengan masyarakat di sekitar CCL yang berada di sebuah gang di belakang Terminal Ledeng, Bandung. "Kami latihan di sini langsung dilihat anak kecil, ibu-ibu, dan tukang dagang. Ini sebuah hal yang sangat menarik. Saya diajak berkeliling ke berbagai tempat dan ternyata budaya Sunda itu cukup kaya. Saya bisa mengenal sisi Indonesia yang lain di luar Bali," kata Carlos. Bagi dia, penggarapan teater yang berangkat dari masyarakat atau komunitas itu dapat memberikan penilaian yang lebih jujur. Ini adalah cara yang lebih indah untuk saling mengerti," tuturnya. [SP/Adi Marsiela] published: 10/8/07
Posted by adi on Aug 9, '07 7:48 AM for everyone 
Lelaki itu terengah-engah. Dia memacu sepedanya, mulai dari duduk tegak di atas sadel sampai membungkukkan badannya. Mungkin, biar lebih cepat sampai tujuan. Sang perempuan yang sejak tadi diboncengnya pun semakin erat memeluk pinggang si pengemudi. Padahal sebelumnya, mereka bersepeda dengan santai menikmati angin yang menerpa dari depan. Malah yang dibonceng sempat makan kacang di tengah-tengah perjalanan. Tapi, kenikmatan itu su- dah berlalu. Sang lelaki semakin kencang memacu sepedanya.
Meskipun kelelahan, sang lelaki masih bisa melempar senyuman. Seakan senang mendapatkan pelukan yang semakin erat dari penumpangnya. "Enaknya Dogot yang tunggu kita," lirih sang perempuan dari bagian belakang. "Tapi kita tidak boleh terlambat," kata si lelaki. "Peduli amat," kata si perempuan lagi. "Terlalu cepat juga tidak baik," ungkapnya sebelum sempat disanggah sang lelaki. "Tapi kita sedang ditunggu Dogot," timpal lelaki. Perdebatan keduanya terus berlangsung sem- bari mereka mengayuh sepedanya. "Kamu saudaranya ya?" tanya sang perempuan yang membuat si lelaki tidak lagi mengayuh. Belum sempat yang lelaki menjawab, si perempuan bertanya lagi, bertanya lagi, dan bertanya lagi. Keduanya jadi terlibat dalam sebuah perdebatan. Bukan perdebatan yang mengakibatkan emosi sehingga keduanya harus berpisah, melainkan sebuah adu argumentasi yang secara tidak disadari menggali tujuan dan niat-niat masing-masing mereka dalam sebuah perjalanan. Masalahnya, sang lelaki yang membonceng si perempuan tidaklah dapat menjelaskan siapa sebenarnya Dogot yang menunggu mereka berdua. Perjalanan mereka yang penuh dengan dialog tentang esensi sebuah pertemuan mewarnai pertunjukan teater berjudul Ditunggu Dogot di Pusat Kebudayaan Prancis, Bandung, Rabu (25/7). Adalah Komunitas Hitam-Putih Indonesia yang menafsirkan dan mewujudkan cerita pendek karya Sapardi Djoko Damono ini bentuk pertunjukan teater. Dari judulnya, kita dapat melihat sang penulis terinspirasi oleh 'Menunggu Godot' karya Samuel Beckett. Dia mencoba memahami persoalan "menunggu" yang tidak akan lengkap tanpa ada yang "ditunggu". Kurniasih Zaitun atau akrab dipanggil Tintun, sang sutradara menyederhanakan pemaknaan "menunggu" dan "ditunggu" menjadi sebuah hal yang memang sudah seharusnya berpasang-pasangan. Seperti halnya, ada lelaki (Rudi M) dan perempuan (Meria Eliza), gelap-terang, siang-malam, dan sebagainya. "Harus ada yang mera-sa ditunggu biar Dogot ti-dak kerepotan," kata sang lelaki.
Apabila kita tarik dalam kehidupan sehari-hari, aktivitas menunggu memang bukanlah sebuah pekerjaan yang menyenangkan. Terlebih yang ditunggunya itu tidak kunjung datang atau sekedar memberi kabar. Tintun mencoba menyadarkan kita semua, aktivitas menunggu itu tidak akan menjadi sesuatu yang sia-sia apabila yang ditunggu itu merasa ada sebuah nilai yang harus dicapai. Nilai yang dimaksud adalah esensi dari sebuah pertemuan. Tidak jarang kalau kita ditunggu seseorang, maka posisi orang yang menunggu itu, kita tempatkan sebagai objek penderita. Sederhananya, yang membutuhkan kita itu pasti menunggu, tanpa kita sa- dari penantian tersebut sebenarnya tidaklah selalu menyenangkan.
Inti cerita sendiri terdapat dalam dialog antara sang lelaki dan perempuan. Tintun berharap dengan menggunakan konsep stage on stage (panggung di atas panggung) yang menghadirkan panggung bergerak (berputar) dapat membuat penonton merasakan perpindahan waktu dan blocking. Penonton sendiri sebenarnya dimudahkan untuk mengapresiasi pentas tersebut. Sayangnya, pertunjukan yang rencananya bakal digelar di Sanggar Baru, Taman Ismail Marzuki, Cikini Jakarta Pusat (27 Juli 2007) dan Taman Kambojo, Kampus Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta (28 Juli 2007) nanti terkesan memaksakan latar belakang panggung. Multimedia yang ditembakkan ke layar putih itu tidak tergarap secara sempurna. Tidak ada benang merah antara yang ada di panggung dengan latarnya. Meski demikian, perdebatan antara sang lelaki dan perempuan dapat menyentuh akal sehat kita. Tentang sebuah makna dari "menunggu" dan "ditunggu". Terserah kita mau mengartikannya sebagai sebuah harapan akan kehidupan setelah kematian atau hanya sekedar rutinitas sehari-hari. Misalnya menanti pacar yang tidak kunjung datang padahal sudah mengucap janji untuk berkencan. Perjalanan hidup manusia yang tak pernah bisa ditebak, namun bisa dirasakan, dijalani dan dinikmati. [SP/Adi Marsiela] Published: 28/7/07
Posted by adi on Jul 4, '07 6:25 AM for everyone Piano Concert Kanisius Kevin Suherman and The Orchestra Hembusan angin terasa menusuk malam itu. Lepas kumandang adzan magrib di lembah Babakan Siliwangi, Bandung, kilauan lampu berwarna kuning mulai menyoroti tempat parkir Sasana Budaya Ganesha (Sabuga). Berpuluh-puluh mobil dan motor mencari tempatnya masing-masing. Suara-suara penumpang yang turun dari kendaraannya lirih terdengar di depan pintu gedung itu. Mereka semua datang dengan satu tujuan yang sama. Untuk menyaksikan perjalanan Kanisius Kevin Suherman mengukirkan sejarahnya dalam perkembangan musik klasik di Indonesia. Minggu, 17 Juli 2007 lalu, merupakan pertama kalinya seorang anak yang masih berusia 12 tahun menggelar konser piano solo dengan iringan orkestra. Siswa kelas 1 SMP Bina Bakti program Martius ini membuka konsernya dengan membawakan komposisi Schumann Variatons on the Name "Abegg" opus 1. Kevin yang tampil dengan mengenakan setelan tuxedo putih, dasi abu-abu, dan celana panjang hitam ini memainkan jemarinya dengan tenang. Kenangan Robert Schumann yang menyenangkan dan sekaligus menyedihkan tentang temannya, Meta Abegg mampu ditampilkan dengan baik oleh Kevin. Sesekali tangan kanan Kevin menyilang di atas tangan kirinya, ketika ia memainkan komposisi yang diciptakan oleh Schumann antara tahun 1829 dan 1830 itu. Usai komposisi tersebut, dia membawakan Premiere Ballade F. Chopin opus 23. Kevin mengawali karya komponis Polandia ini dengan tempo lambat, membuat pendengarnya merasakan nuansa kesepian. Kesan itu pula yang membuat sutradara Roman Polanski memasukkan komposisi ini dalam filmnya yang berjudul The Pianist. Dalam film itu, seorang pianis bernama Władysław Szpilman memainkan karya pertama Frederic Chopin untuk piano solo. Szpilman yang dikejar-kejar tentara Jerman saat itu melarikan diri dan menemukan sebuah piano tua dalam rumah sakit yang sudah hancur akibat perang. Penderitaan yang dialaminya, dia ekspresikan lewat piano tersebut. Komposisi ini sendiri dibangun dalam dua tema, yang mulanya merupakan pembukaan dalam tujuh bar, dan bagian kedua sebanyak 69 bar. Kedua bagian ini sendiri membutuhkan teknik yang tidak enteng. Emosi pemainnya harus dapat dijaga karena ada beberapa tempo yang harus dimainkan beriringan dalam waktu dekat. Karya pertama dari empat bagian untuk solo piano dari composer Polandia, Frederic Chopin ini, dia bawakan sekitar sembilan menit. Karya klasik yang diciptakan antara tahun 1835-1836 ketika Chopin memasuki Paris ini memang tidak usang oleh waktu. Permainan Kevin membuktikan hal itu. Tidak hanya karya-karya komposer dunia yang dia tampilkan. Lagu Es Lilin yang diaransemen olehnya pun dia bawakan sebagai penutup sesi pertama konsernya. Nada mendayu-dayu yang biasanya terdengar kala lagu daerah Jawa Barat ini dimainkan dengan alat musik tradisional juga terasa dalam dentingan piano Kevin. Kevin akhirnya berdiri dan meninggalkan pianonya setelah kira-kira lima menit dia memainkan karya Mursih, yang sering diperdengarkan di hajatan pernikahan terutama orang Sunda. Selesailah bagian pertama dari konser tersebut. Memasuki bagian kedua, pianis cilik itu tidak sendiri. Ada 44 anggota orkestra dari Institut Seni Indonesia Yogyakarta yang sudah menantinya. Masing-masing memegang instrument berbeda seperti, biola, kontra bas, flute, obo, klarinet, dan bas drum. “Semoga ini bukan penampilan Kevin yang terakhir dengan orkestra,” ungkap Prof. Andre de Quadros, seorang komposer, dirigen, pendidik, spesialis musik klasik dari Boston University, Amerika, sekaligus konduktor malam itu. Penampilan Kevin pun sedikit berbeda, dia terlihat lebih dewasa dibandingkan anak-anak seusianya dengan jas hitam di badannya. Dia duduk di bagian tengah panggung dengan deretan pemain orkestra yang mengelilinginya dalam bentuk setengah lingkaran. Kesan suram dan kelam mewarnai konser di bagian kedua yang dibuka oleh komposisi Chopin Piano Concerto no 1 in E minor, opus 11. Kevin harus menanti sekitar dua menit sebelum akhirnya dia bisa menunjukkan ekspresinya di atas tuts piano. Kondisi ini mengingatkan kita tentang komposisi yang dibuat oleh Chopin pada tahun 1830. Karya tersebut dibawakannya pertama kali pada 11 Oktober 1830 di Warsawa, sebagai tanda perpisahan sebelum dia meninggalkan Polandia. Ekspresi sekaligus gairah Chopin yang mengucapkan perpisahan cukup terwakilkan oleh perpindahan dan tekanan jemari Kevin. Penonton dibuai romansa Chopin tentang Polandia dengan segala daya tariknya. Sedikitnya permainan piano dalam karya ini bisa kita artikan bahwa Chopin membuat latar orkestra dengan sangat hati-hati dan disengaja untuk memasukkan suara piano. Hal ini kontras dengan kerumitan harmoninya. Permainan Kevin sangat mumpuni untuk membawakan komposisi bertipe Allegro-Maestoso ( ceria dan cepat tapi elegan), Romance–Larghetto (pelan-pelan) dan Rondo-Vivace (biasanya agak cepat) ini. Tepukan tangan penonton pun membahana usai dia membawakan komposisi yang berdurasi sekitar 25 menit tersebut. Pengakuan Andre akan penguasaan teknik dari Kevin yang sangat kuat dan stabil di usianya terbukti saat dia membawakan komposisi The Piano Concerto No. 3 in C minor, Opus. 37. Karya Ludwig van Beethoven tahun 1800 ini dibawakannya tanpa cacat. Karya yang terbagi ke dalam tiga movement, Allegro con brio (ceria,cepat, dengan tenaga), Largo (pelan), dan Rondo: Molto allegro (sangat cepat) itu, dia bawakan dengan tenang. Sesekali, suara pianonya bergantian terdengar dengan iringan orkestra atau bisa disebut Abacada. Bagian refrain diselingi dengan beberapa tema yang kontras. Di bagian pertama (allegro), kira-kira dua setengah menit awal hanya ada pengenalan orkestra tanpa ada piano. Suara piano masuk dengan skala C minor yang kuat. Coda (akhir)-nya dramatis, yang berawal dari getaran yang sangat pelan yang terus menghasilkan klimaks yang megah tapi juga gelap. Masuk bagian kedua (largo) dengan E mayor, Kevin membukanya dengan melodi yang sangat terpuji untuk piano solo. Pada bagian akhirnya, dimulai dengan C minor dan disudahi dengan tempo cepat di C major. Beethoven memainkan komposisi ini 5 april 1803 dengan hanya berlandaskan ingatannya. Demikian juga Kevin. Malam itu, seluruh permainannya dilakukan tanpa bantuan partitur (not balok). “Dia punya dorongan dan gairah dalam dirinya,” ujar Andre mengomentari penampilan Kevin. Hal senada disampaikan oleh Pully (32) yang rela membayar Rp 100 ribu untuk tiket konser itu. “Luar biasa untuk anak seusianya. Saya baru melihat dia sekarang. Saya kagum,” paparnya. Sayangnya, lingkungan di Indonesia kurang mendukung untuk perkembangan musikalitas Kevin. Nino Aryo Wijaya (21), pemain clarinet yang mengiringi Kevin mengatakan kemampuan tersebut harus diasah di luar negeri. Karena, sambung dia, di Indonesia kekurangan pengajar untuk musik klasik. “Permainan dia luar biasa untuk ukuran orang Indonesia, makanya sayang kalau tidak belajar ke luar negeri. Tidak sembarangan orang bisa memainkan karya-karya itu,” tutur mahasiswa jurusan musik pertunjukkan ISI Yogyakarta yang pernah mengiringi pemusik dunia seperti Maxim. [Adi Marsiela]
Posted by adi on Jul 4, '07 6:20 AM for everyone  Hujan Bulan Juni Tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan Juni dihapusnya jejak-jejak kakinya yang ragu-ragu di jalan itu Penggalan musikalisasi puisi Hujan di Bulan Juni karya Sapardi Djoko Damono yang dinyanyikan Dua Ibu (Reda dan Tatyana) terdengar sayup-sayup di amphitheater Selasar Sunaryo Art Space, Sabtu (23/6) malam lalu. Bulan pun menampakkan dirinya tanpa malu meski usianya baru mencapai setengah purnama. Hawa dingin Bandung bagian utara yang menusuk kulit tertutup oleh hangatnya sajian kopi, teh manis, dan mie kocok. Puluhan pengunjung sudah hadir untuk mengikuti puncak acara Hujan Bulan Juni yang diselenggarakan oleh Yayasan Lontar dan Selasar Sunaryo. Siapa sangka, meski hanya dengan mie kocok, makan malam itu menjadi sebuah pengalaman berbeda. Yayasan Lontar yang berusia 20 tahun pada 28 Oktober 2007 mendatang memutarkan Rendra-Si Burung Merak, salah satu film dari On The Record Tokoh-Tokoh Sastra Indonesia yang memang dibuat untuk melengkapi kurangnya dokumentasi para tokoh sastra di Indonesia. Jadilah, kami makan sembari menyaksikan lembaran hidup Willibrordus Surendra Broto Rendra, pendiri Bengkel Teater, Yogyakarta. Melengkapi cerita yang disajikan, sejumlah kritikus juga tampil memberikan komentarnya dalam film itu. Sesekali Rendra sendiri yang menuturkan pandangannya tentang karya dan bangsanya. Selepas magrib, acara di sana bisa dibilang menjadi miliknya penyair. Usai Rendra, tampil Iman Soleh, penyair asli Bandung yang juga mengelola Pusat Kebudayaan Ledeng. Mengenakan baju lengan pendek berwarna hitam dengan balutan celana jeans, penyair berambut gondrong itu membacakan cerita pendek karya Pramoedya Ananta Toer bertajuk Sunat. “Cerpen ini saya pilih karena menarik dan anak saya juga mau disunat bulan depan,” katanya sebelum membacakan cerita itu. Kemampuan Iman Soleh membacakan cerita ini sangat mumpuni. Keyakinan seorang anak dari Blora tentang sunat sebagai suatu proses pengiktirafan untuk menjadi seorang jejaka dan layak kawin terwakilkan di dalamnya. Intonasi dan mimik Iman juga mengundang tawa, terlebih saat dia sampai pada bagian sang anak menanti giliran disunat. Rasa takut akibat mendengarkan temannya yang sudah lebih dulu dipotong, dia sampaikan dengan matanya yang melotot sembari merapatkan kedua kakinya ke arah paha. Geli sekaligus miris. Keyakinan sang anak yang goyah ketika mengetahui dirinya belum menjadi seorang penganut Islam yang sejati juga terpapar di bagian akhir cerita. Suara lirihnya mewakili pertanyaan sang anak kepada bapaknya yang tidak juga mampu berbuat haji, menaiki kapal ke negeri Arab. Pandangannya yang kosong seolah-olah mengatakan bagaimana harapan sang anak hilang harapan untuk menjadi orang Islam sejati. Menjadi saksi pembacaan cerita pendek itu memang cukup mengasyikan. Apalagi jika para pengunjung sempat menyaksikan pemutaran film tentang Ramadhan KH, NH Dini, Selasih, Achdiat Kartamihardja, dan Pramoedya Ananta Toer. Setidaknya kita bisa mengetahui kalau ternyata Selasih, perempuan penyair pertama yang menulis puisi dan novel dalam bahasa Indonesia dan sangat menjunjung tinggi emansipasi perempuan ternyata tidak pernah memasak seumur hidupnya. “Ibu hanya tahu teori tapi tidak tahu praktek,” kata penulis novel Kalau Tak Untung ini menuturkan omongan anak-anaknya. Bagaimana pula Pramoedya Ananta Toer yang rendah diri semenjak kecil bisa menjadi seseorang yang sangat berani dan tegas dalam mengambil sikap, saya dapatkan dari pemutaran film itu. Menurut Pram, panggilan akrabnya, perubahan itu dia dapatkan ketika usianya mencapai 27 tahun. Saat itu, kata Pram, dirinya tengah berada di Belanda dan jatuh cinta pada seorang noni Belanda. Singkat cerita, dua anak manusia itu memadu kasih sampai akhirnya berhubungan sex. “Sejak saat itu saya merasa sederajat dengan siapapun. Terima kasih kepada pacar Belanda saya,” ungkap Pram di film yang disutradari oleh Sriketon M itu. Kembali ke amphitheater. Usai pembacaan cerita pendek, berturut-turut hadir Wedang Jahe, Dedi Koral, dan deKasta. Selain Dedi, adalah kelompok musikalisasi puisi dari Universitas Pendidikan Indonesia. Puisi karya Sutan Takdir Alisyahbana, H.B. Yassin, serta Makmur Saadi dibawakan dengan irama keroncong oleh Wedang Jahe. Cara baru menikmati puisi. Dedi Koral menambah keriuhan pengunjung. Pasalnya, beres dia membacakan puisi tanpa text, turun satu per satu pengunjung yang ikut menyumbangkan puisinya secara spontan. Acara yang diawali oleh diskusi sastra “Yang Muda Yang Bersastra: Sastra di Mata Anak Muda” pada Jumat (22/6) itu ditutup oleh penampilan deKasta yang terdiri dari seorang pria dan tiga perempuan. Usaha mereka membawakan puisi dengan gaya musik modern yang dilengkapi sebuah keyboard patut diapresiasi. Terlebih saat membawakan karya Presiden Penyair, Sutardji Calzoum Bachri berjudul ‘Sepisaupi’. Mantra dalam puisi itu terasa jelas dalam gaya musik jazz yang mereka mainkan. Satu hal yang sebenarnya sangat dinantikan oleh para pengunjung adalah musikalisasi puisi karya Sapardi Djoko Damono di tengah-tengah acara itu. Tapi sayang, sampai akhir acara yang judulnya menyerupai sebuah puisi karya Sapardi, penantian itu tidak membuahkan hasil. Untung saja masih terdengar sayup-sayup suara Dua Ibu dari pengeras suara. …tak ada yang lebih arif dari hujan bulan Juni dibiarkannya yang tak terucapkan diserap akar pohon bunga itu.
Posted by adi on Jun 22, '07 6:38 AM for everyone |  | Mengesankan, luar biasa, dashyat, beragam kata sifat itu tampaknya cukup menggambarkan perasaan saya usai menyaksikan pertunjukkan sirkus kontemporer, yang ditampilkan oleh Eric Lecomte, seniman sekaligus pendiri kelompok sirkus 9.81 yang digelar pada Jumat (15/6) lalu di Teater Terbuka Taman Budaya Jawa Barat, sebelumnya hal yang sama dia lakukan di Amphitheatre Erasmus Huis Jakarta, Rabu (13/6) malam, namun siapa sangka, totalitas Eric sebagai seniman sirkus yang dimulai 15 tahun lalu itu tetap memukau walaupun mengalami pengulangan, maklum saja selain menjadi pelaku dari pertunjukkannya itu, dia juga yang menulis sendiri skenarionya, beragam tafsir dipastikan muncul pada benak setiap orang yang menyaksikannya, bagaimana tidak, dia bisa meluncur di lantai seakan-akan dirinya adalah seekor ikan, belum lama dia bermain air, tiang yang ada di sisi kanan dan kirinya mulai dia panjati, layaknya seekor kera, semuanya dilakukan sembari mendapatkan sorotan cahaya kuning temaram dengan latar belakang suara alam yang mungkin masih bisa kita dengarkan di Taman Hutan Raya Ir. H. Juanda, Bandung, kala mentari pagi menyinari dedaunan di sana, makanya jangan heran, tubuh Eric bisa tiba-tiba saja berjalan tegak lurus dengan tiang yang diinjaknya, sekilas kita melihatnya bagai tokoh komik Spiderman yang berjalan memanjat dengan membentuk sudut 90 derajat terhadap tempatnya berpijak, begitu sampai di atas, Eric bertransformasi lagi, kali ini dia menjadi seperti seekor burung, kegiatannya terbang dan melayang dia presentasikan dengan mengenakan tali pengaman yang membuatnya bisa terbang ke kiri dan kanan, buat saya sendiri, itu belumlah seberapa dibandingkan kemampuannya memikirkan konsep sirkus kontemporer yang ditampilkannya sehingga terasa memanjakan indera pendengaran dan penglihatan, padahal peralatan yang dipakainya terbilang sederhana, untuk menyegarkan mata, dia memakai tubuh dan juga papan berbentuk prisma segitiga yang dipasang sekitar 15 meter di atas lantai, layaknya sebungkus cokelat bermerek Toblerone, ditambah dengan proyektor yabng ditaruh wadah kue kering diatasnya lengkap dengan air dan ikan hidup, untuk warnanya sendiri, dimasukkan minyak yang warnanya beragam, jadilah pergerakan minyak dan air yang memang tidak bisa disatukan ini cukup dinamis, disertai goyangan ikan-ikan kecil di wadah itu, kepiawaian Eric memanjat dan mengeksploitasi tubuhnya melakukan gerakan-gerakan tertentu juga menjadi daya tarik sebuah sirkus yang dia sebut kontemporer, kemampuan itu ditunjang hobinya memanjat tebing yang kemudian terlihat saat dia berusaha membolak-balik badannya dengan hanya berpegang pada papan persegi yang berlubang-lubang pada setiap sisinya, namun justru di situ Eric memperlihatkan sebuah kelenturan, kekuataan, dan estetika seni sebuah pertunjukkan bisu yang membebaskan setiap pengunjung berkhayal dengan alam pikirannya masing-masing, untuk menuju ke arah itu, Eric pernah bergabung dengan berbagai kelompok sirkus seperti Oliver Farge, Ex Nihilo, Retouramont, bahkan untuk mengembangkan keterampilannya, ia membuat dan mengembangkan teknik tarian di udara, tari akobrasi, tarian di tangga, memasuki tahun 1998, Eric bergabung dengan kelompok Chanin-caha dan berkolaborasi pada pertunjukan "ChiencrU", "Grimm" pada tahun 2003, merasa tidak cukup, dia pun memilih karirnya sendirian, sampai kita bisa menyaksikannya dalam pertunjukkan kelompok sirkus 9.81, buat yang tidak sempat datang, ini ada sedikit kenang-kenangannya. |
Posted by adi on Jun 14, '07 7:54 AM for everyone |  | "Mas, mas, jangan lupa ya nanti siang ada press konference Level 42," demikian suara perempuan yang ada di ujung telepon genggam saya. Menarik juga, itu hal pertama yang terpikirkan oleh saya. Apalagi belakangan ini, berbagai berita yang saya buat untuk halaman nusantara di tempat gue kerja, sering tidak tayang di koran. Beda dengan berita hiburan atau seni/budaya yang memang mengakomodir berbagai laporan dari koresponden di daerah. Bulatlah tekad saya buat datang dan meliput konser Level 42, grup musik kondang asal Inggris yang udah mencetak berbagai hits dan 11 album itu. Ternyata, memang cukup menarik penampilan mereka, terlebih Mark King (vokal, bas) yang memang memiliki skill mumpuni...belum lagi kemampuan Mike Lindup yang suaranya sengau tapi apik bermain keyboard. singkatnya, saya tidak menyesal datang ke acara itu. Buat ente2 ini ada sedikit hasil jepretan yang mungkin bisa dinikmati.... |
Posted by adi on May 28, '07 6:44 AM for everyone |  | Dashyat...itu kesan pertama yang saya dapat waktu menyaksikan penampilan penari asal kota Lyon, Perancis ini di Teater Tertutup Taman Budaya, Sabtu (26/5). berbagai teknik dan unsur estetik bisa mereka padukan menjadi sebuah tontonan yang sedap dipandang mata. Sebuah hal baru buat generasi hip hop. selamat menikmati foto-fotonya. |
| |