blabliblupblablop..

adi's posts with tag: pameran

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag pameran
Posted by adi on Jun 12, '08 8:16 AM for everyone
Pameran “KITA!!: Japanese Artist Meet Indonesia”

“…Pada saat itu, aku agak merasa malu. Terus terang saja, aku tak pernah merasa ini. Aku malu dan dengan terus terang memandang Indonesia dengan enteng. Kumohon maaf…”

Demikianlah pengakuan Toyoshima Hideki, Direktur Graf Media GM dari Jepang yang melakukan survei buat pameran “KITA!!: Japanese Artist Meet Indonesia”. Ini merupakan kedatangan pertamanya ke Indonesia.

Sebelumnya, Hideki yang menerima tugas dari Japan Foundation untuk menjadi kurator di pameran tersebut menganggap di Indonesia tidaklah banyak ruang seni dan kebudayaan.

Kenyataannya, survei di Yogyakarta, Bandung, dan Jakarta menunjukkan hal yang berbeda. Dalam kesempatan bincang-bincang di Bandung, beberapa waktu lalu, dia mengaku menemukan banyak ruang seni dan budaya dengan berbagai ukuran. Setiap tempatnya menunjukkan prinsip dan warna tersendiri dengan jelas. Hal ini jugalah yang membuatnya menuliskan permohonan maaf dalam pengantar kurasinya.

Singkat cerita, bersama Takahashi Mizuki yang sehari-hari menjadi kurator di Galeri Seni Menara Mito, mereka memilih seniman-seniman Jepang yang bakal berpameran di Indonesia.  “Kita coba menghubungkan Jakarta-Bandung-Yogya. Kita tidak ingin bawa tradisi Jepang, tapi apa yang terjadi di Jepang,” kata Hideki seraya menyatakan pameran ini sebagai bagian dari perayaan 50 tahun hubungan diplomatik Indonesia dan Jepang.

Seniman-seniman itu, sambung dia, harus datang dan tinggal dulu di Indonesia untuk membuat sesuatu atau berkarya. Hideki mengaku tidak ingin membuat kegiatan ini hanya sebagai sebuah peringatan, melainkan tonggak untuk memulai sebuah hubungan yang lebih baik.

Menurut dia, dengan tinggal, bertemu, dan makan bersama-sama orang Indonesia bakal muncul sesuatu yang dapat dijadikan karya untuk di tiga tempat terpisah, mulai 19 April 2008 hingga 18 Mei 2008 ini.

Salah satu yang karya di Selasar Sunaryo Art Space, Bandung, yang ‘mempertemukan’ seniman asal Jepang dan warga asli Indonesia adalah ‘Pika-Pika’. Karya yang digarap oleh pasangan suami istri, Nagata Takeshi dan Monno Kazue ini berkolaborasi dengan tukang becak, penjual nasi goreng, pengemudi angkutan kota, anak-anak dari Kota Bandung.

Dalam penggarapannya, kedua seniman ini mengajak anak-anak hingga orang tua untuk menggambar dengan menggunakan cahaya beraneka warna dari lampu senter. Kegiatan menggambar ini dilakukan dalam kondisi minim cahaya. Setiap gerakan yang dilakukan oleh sang penggambar direkam dalam kamera.

Setelah terkumpul, maka gambar-gambar itu akan disatukan dan diproses dengan dimasukkan suara. Hasil akhirnya yang berupa film animasi ini yang bisa dinikmati bersama dalam pameran.

Kegiatan yang diberi nama ‘Pika-Pika’ ini digarap di berbagai lokasi seperti kampus Institut Teknologi Bandung (ITB), Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat, Common Room, Terminal Dago, stasiun kereta api, dan Jalan Layang Pasteur Surapati. Film ini diberi judul “Thunder”.

“Menarik saja melihat angkutan kota yang warnanya sama begitu banyak di Kota Bandung,” kata Kazue menceritakan latar belakang pelibatan supir angkutan kota dalam karyanya.

Berbeda dengan Kazue yang berbicara dengan cahaya, Hayashi Yasuhiko dan Nakano Yusuke bekerjasama dengan sedikitnya enam orang mahasiswa seni rupa dari ITB. Mereka berdua membawa plarail, mainan jalur kereta api dari plastik untuk membuat karya yang disebut paramodel.

Ruangan di Selasar Sunaryo mereka rubah menjadi instalasi menuju dunia lain dengan warna dominan biru dan putih, menjadi sebuah Taman Firdaus ala paramodel. “Kami sangat dipengaruhi oleh masa kecil yang akrab dengan mainan,” kata Hayashi.

Dalam pembuatannya, mereka berdua yang tidak bisa berbahasa Inggris ini dipaksa berkomunikasi dengan enam mahasiswa asal Indonesia yang tidak bisa berbahasa Jepang. Hayashi dan Yusuke hanya menunjukkan denah pemasangan plarail yang diinginkannya dan para mahasiswa memasangnya. “Kita berkomunikasi dengan segala bahasa,” tutur Yusuke sembari tertawa menceritakan pengalamannya membuat karya pertama di luar Jepang.

Memperhatikan karya mereka, membuat kita berasa dalam sebuah dunia yang lain. Ruangan berwarna putih itu penuh dengan garis-garis berwarna biru. Perpaduannya menyerupai sebuah peta lapangan.


Buat mereka kondisi Taman Firdaus itu bukanlah sebuah utopia atau impian, melainkan sebuah ruang yang penuh dengan multi dimensi paradoks yang mengandung ironi. “Orang-orang kadang melupakan masa kecilnya,” ungkap Hayashi yang sudah berkarya dengan berbagai metode ekspresi seperti fotografi, video, dan juga menggambar.

Interaksi paling lama mungkin dialami oleh Matsumoto Chikara yang datang ke Indonesia semenjak 28 Maret 2008. Dia juga sempat menggelar pelatihan terkait dengan karyanya yang berupa gulungan gambar dengan kamera digital.

Setiap peserta pelatihan atau pengunjung yang datang dipersilahkan menggambar apa saja dalam kertas yang lebarnya sekitar lima sentimeter. Gambar antar peserta -baik yang berwarna atau hitam putih- itu tidak terputus satu dengan lainnya, mereka berada di satu kertas yang sama. “Drawing jadi dasar dari karya ini. Itu sekaligus bisa memberikan emosi,” kata Chikara.

Gambar-gambar itu lantas disorot menggunakan kamera digital sembari ditarik dari ujung yang satu ke ujung lain, sehingga bisa tampak seperti animasi, layaknya sebuah film saja.

Interaksi yang dibangun oleh Chikara, paramodel, Pika-Pika, dan seniman Jepang lainnya di Bandung tidak ada satu pun yang menyentuh atau membahas pertemuan yang diawali oleh penjajahan.

Hal ini pula yang dipertanyakan oleh Aminuddin TH Siregar, kurator yang baru menyelesaikan program residensinya di Fukuoka Asian Art Museum, Jepang. Dalam diskusi “Seni Rupa Indonesia dan Jepang, Perspektif Sejarah dan Kekinian” yang mewarnai pameran ini, dia menyayangkan posisi Indonesia, baik seniman, mahasiwa, atau lainnya yang hanya menjadi penonton.

Mereka yang datang dan berkarya di Indonesia terlebih Kota Bandung, sama sekali tidak menyinggung fakta atau langkah maju apa yang sudah ada antara kedua negara ini di luar hubungan ekonomi.

Menurut Ucok, begitu dia biasa dipanggil, sama sekali tidak ada kegelisahan terkait romusha, jugun ianfu, dan sejenisnya yang diangkat dan menjadikan pameran ini lebih membawa arti dalam hubungan Indonesia dan Jepang. “Karena dalam dunia yang semakin global, kesempatan untuk membicarakan masalah ini semakin ada.”

Ketiadaan ini, paparnya, membuat karya-karya yang ada hanya ‘baik’ secara rupa saja. Secara konteks, yang bisa menjadi pegangan hubungan ke depan antara kedua negara ini sama sekali tidak ada. “Kalau seni bisa menjadi jembatan untuk ini, sesuatu yang lebih baik,” ungkap Ucok.

Terlepas dari fakta-fakta bahwa penjajahan itu membawa sengsara, segala aktivitas kesenian yang terjadi pada masa itu memberikan cara pandang baru. Jepang, lewat Keimin Bunka Shidosho berhasil menggelar banyak pameran semenjak tahun 1943.

Padahal, kata dia, lembaga ini sangat melecehkan posisi Indonesia. Secara harafiah, lembaga itu bisa diartikan sebagai pusat pencerahan budaya. Dalam konteks ini, Jepang memposisikan diri sebagai sebagai pengayom, pengarah, atau pencerah bagi Indonesia. “Mereka sangat terorganisir dibandingkan dengan Persagi (Persatoean Ahli-Ahli Gambar Indonesia).”

Organisasi yang disebut terakhir itu dibentuk pada 28 Oktober 1938, sebelum sebelum Jepang datang. Organisasi yang diketuai Agus Djaja dan S. Sudjojono sebagai sekretaris ini tidak terlepas dari keterlibatan mereka dalam pameran di Bataviasche Kunstkring, sebuah gedung pameran seni pemerintah Belanda yang letaknya di Jalan Teuku Umar, Jakarta sekarang ini.

“Keikutsertaan dalam pameran itu bertolak dari keyakinan serta keberanian untuk menonjolkan diri agar bisa menghapus hinaan-hinaan bahwa pelukis pribumi tidak memiliki potensi,” ujar Ucok.

Seiring masuknya Jepang ke Indonesia, pada tahun 1942, organisasi ini turut dibubarkan. Pada masanya, Persagi sendiri hanya berhasil menggelar kurang lebih tiga pameran.

Ucok mengungkapkan beberapa penulis dan kritikus Indonesia berselisih soal pengaruh dari pemerintahan Jepang, khususnya Keimin Bunka Shidosho, dalam perjalanan seni rupa Indonesia.

Sebagian menilai keberhasilan Jepang berdasar peningkatan jumlah seniman yang muncul pada masa itu. Selain itu, Jepang juga memberikan penghargaan dalam bentuk  uang melalui sayembara serta material, peralatan melukis.

Tapi, sambung Ucok, ada juga yang menganggap pada masa Jepang, seni di Indonesia tidak mempunyai pegangan, pijakan yang kokoh. “Sasarannya karena ada motif propaganda yang dilakukan oleh Jepang dalam pengerahan seniman-seniman Indonesia.”

Sudut pandang lain, dampak terbesarnya kepada seniman Indonesia adalah semakin tumbuhnya kesadaran berorganisasi yang terstruktur, kesadaran akan fungsi propaganda dalam seni, dan terakhir, kesadaran atas eksistensi seni dan seniman di tengah masyarakat.

Melihat sejarah panjang ini, seharusnya, pameran dari para seniman muda Jepang ini bisa memberikan sesuatu yang ‘baru’. Tidak sebatas kemampuan menyajikan kecanggihan teknologi semata. Demikian juga halnya dengan seniman Indonesia, agar dalam peringatan 50 tahun hubungan diplomatik Indonesia-Jepang ini tidak hanya menjadi penonton.

Posted by adi on Jan 21, '08 4:18 AM for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Bentangan kain katun yang didominasi warna hijau sebesar 2,7 meter X 2,7 meter di salah satu sudut Galeri Soemardja, Institut Teknologi Bandung (ITB) itu menyita perhatian saya. Tidak seperti biasanya, kain yang disebut sebagai batik ini menyajikan corak yang berbeda.

Struktur garis serta penempatannya yang saling tindih satu dengan lainnya, membuat kesan arah dan ruang yang dinamis. Ilusi bentuk pun tidak terhindarkan di atas kain tersebut. Seolah-olah segitiga, bujursangkar yang terpola di kain itu bergerak masuk ke dalam.

Batik yang dilukis dengan canting cap, canting tulis, colet dan celup ini merupakan satu dari sekian karya almarhum Hasanudin yang dipajang dalam Pameran Batik Bandung Kontemporer di ITB, 10-12 Januari pekan lalu.

Dalam mengolah batik, Hasan -panggilan akrab almarhum- memadukan berbagai motif batik tradisional menjadi sebuah karya baru dengan konfigurasi yang berbeda. Pengetahuan dan kepeduliannya terhadap batik diperlihatkan dengan mengambil topik penelitian soal itu semenjak sarjana hingga magister di seni rupa ITB.

"Dia pernah berkeliling Pulau Jawa dengan mobilnya selama dua bulan untuk mengumpulkan semua artefak batik," ungkap Prof Yusuf Affendi, kolega almarhum.

Hasan memang memiliki peranan penting dalam pengembangan karya batik, terutama ketika karya tersebut menjadi barang dagangan. Dia menjual karyanya dengan merek "Hasan Batik". Ciri utamanya adalah permainan pola-pola geometris, seperti persegi, lingkaran, dan kotak dengan beragam teknik dan warna dalam satu kain.

Alga Indria, salah seorang panitia menuturkan Hasan dalam melakukan pengolahan motif membakukan struktur motif yang lebih teratur. "Sehingga proses pengulangan yang dilakukan menghasilkan konfigurasi yang berbeda," kata dia.

Selain itu, pria yang pernah menjabat sebagai Ketua Departemen Kriya Tekstil Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ITB ini menciptakan batik tambal. Karya ini pengembangan dari batik-batik tambal di daerah Yogyakarta dan Pekalongan. Pada batik tambal ini, komposisi sangat mempertimbangkan struktur yang teratur. Hasilnya, kata Alga, terciptalah sebuah patch-work batik yang menampilkan efek optik yakni "Memiliki kesan arah dan ruang."

Karya-karya seperti ini, jelas Dekan FSRD ITB, Biranul Anas mencirikan kekinian dalam hal batik. Dia mencontohkan penyebutan batik oleh masyarakat sekarang ini lebih banyak dikaitkan dengan nama pembuatnya. "Misalnya batik Apip, batik Obin, dan lainnya. Individu muncul dalam pembatikan," terangnya.

Hal ini, sambungnya, tidak bisa dilepaskan dari gagasan pembatikan yang dilakukan oleh masyarakat Jawa (baca Kraton) dan juga pesisir. Kekinian yang muncul adalah pengembangan dari corak-corak batik yang sebelumnya sudah ada.

Pengamat budaya, Jacob Sumardjo mengungkapkan batik itu seni lukis. Kanvasnya kain mori dan catnya celupan. Tekniknya menggambar. Batik sebenarnya mirip grafis karena mengandung seni cetak juga.

"Dengan demikian batik tidak dapat dikategorikan dalam seni rupa modern kita. Batik adalah seni rupa pra-modern," kata Jacob.

Menurut Jacob, asal usul batik berasal dari Jawa meskipun seni ini telah menyebar di seluruh Indonesia, Asia tenggara, dan dunia. Penyebutan 'batik' itu berasal dari akar kata "thik".

"Padanannya pada sethitihik, mlethik, titik, thithik, yang berarti kecil, sedikit, percik. Barangkali karena dalam senin batik selalu ada isen-isen berupa titik-titik, baik kecil maupun besar," ujarnya ketika menjadi pembicara dalam diskusi "Membedah Batik Nusantar"' di sela-sela penyelenggaraan pameran.

Alam Pikiran Kolektif

Seni batik, kata dia, tidak dapat dipisahkan dari alam pikir Jawa pra-modern. Karena di dalamnya mengandung alam pikiran kolektif masyarakatnya.

Mengapa kolektif? Jacob mengungkapkan gambar batik yang mengandung alam pikiran itu dibutuhkan oleh masyarakatnya, bukan hanya kebutuhan nilai estetiknya, tetapi juga etik dan spiritual. Makanya, dalam seni Jawa ada tingkat-tingkat nilai.

Pertama, wirogo. "Artinya bentuk wadahnya. Anda boleh terampil membuat satu jenis gambar batik, misal parang rusak, yang bentuknya persis sama seperti dituntut oleh pakemnya (masyarakat). Namun belum tentu punya tingkat keduanya, wiromo," terang Jacob lagi.

Wiromo mengacu pada estetiknya menurut paham kita. Yakni membangkitkan pengalaman rasa dan pikir kita. "Tapi itu juga belum cukup 'seni' kalau belum mencapai tingkat wiroso, rasa sejati atau pengalaman spiritual. Ada daya-daya transenden yang bangkit dari batik itu."

Meski demikian, tidak semua batik dibuat dengan tujuan spiritualitas sampai tingkat wiroso. "Banyak batik yang hanya memenuhi kebutuhan wirogo belaka, yakni kebutuhan profam (duniawi) manusia sehari-hari. Tapi ada juga yang tingkat wiroso diperlukan, misalnya kalau acara pernikahan, kelahiran, kematian, dan sebagainya," tutur dia.

Keterampilan seni semacam ini tidak hanya berlaku pada seni batik, tapi juga seni gerabah misalnya. Ada gerabah untuk memasak sehari-hari, ada juga yang untuk hajatan, sesajen. "Proses pembuatannya berbeda meskipun menghasilkan bentuk wirogo yang sama."

Jacob sendiri memandang seniman batik (empu batik) adalah mereka-mereka yang menciptakan batik dengan daya-daya transenden, spiritualitas, meskipun menyalahi aturan wirogo. Kesalahan itu bukanlah sesuatu yang fatal, kata Jacob. Pasalnya, seperti seniman modern, seniman batik juga memiliki semacam licentia puitica atau hak istimewa untuk "salah".

Karena lewat yang 'beda' atau 'lain' itu, seniman mampu menghadirkan yang transenden. Bedanya, samnbung dia, seniman modern menghadirkan yang transenden dalam wilayah pengalaman dan pikiran (kesadaran), sedang seniman batik benar-benar menghadirkan daya-daya transenden itu.

"Seniman modern menghadirkannya lewat bentuk simbolik, sedangkan seniman batik lewat medium batiknya. Itu juga sebabnya, batik merupakan salah satu benda pusaka, sedangkan lukisan modern tetap benda biasa," ujar Jacob.

Terkait dengan karya-karya Hasan yang sekarang ini lebih banyak dikembangkan dengan merek dagang Batik Hasan, Anas mengatakan tidak ada masalah. "Karena ini semua berkembang dan semenjak awal kriya memang terkait dengan (kebutuhan) pasar," terangnya.

Menurutnya, identitas Indonesia dalam urusan batik tidak akan pudar pada pasar apabila tidak memiliki nilai-nilai transenden. Buktinya, usaha Hasan yang dilanjutkan oleh ketiga orang puterinya Sania Sari, Tri Asayani, dan Rani Tria Rani bisa menyentuh ruang-ruang pribadi orang.

Batik tidak hanya menjadi urusan fesyen. Karyanya juga bisa diaplikasikan pada produk-produk lain seperti pelengkap dekorasi dalam rumah, mulai meja, sofa, hingga partisi ruangan. Batik makin bisa dinikmati dalam tampilan yang lebih modern.

Menyoal judul diskusi yang menyebut-nyebut batik Nusantara, Anas mengatakan, seharusnya dunia kampus khususnya di bidang kriya meredefinisi istilah "batik Nusantara" Pasalnya, pengakuan atas istilah tersebut bisa menimbulkan perdebatan.

Secara sederhana, Biranul Anas, Dekan Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung (ITB) mewacanakan "Nusantara" sebagai sebuah kawasan wilayah yang bukan hanya monopoli Indonesia. "Malaysia, Filipina, juga ada di dalamnya," tuturnya.

Anas juga mengungkapkan penciptaan batik, misal di Jawa Barat, sudah berlangsung semenjak dahulu seperti batik Trusmi dari Cirebon , batik Priangan serta batik Garutan. Dengan berbagai motif seperti parang, sawat, meru, sido mukti, prabu anom, atau kawung, seperti yang dikenal di Solo dan Yogyakarta. Ada juga motif liris seno, naga liman, atau gendongan sunyaragi, seperti yang terdapat pada motif batik Cirebon.

Menurut Anas, penciptaan batik seperti yang dilakukan oleh Batik Hasan lebih terbuka terhadap berbagai gagasan, khususnya dalam hal ide pencorakan. Namun berisiko merambah tidak terkendali sehingga sama sekali kehilangan sentuhan batik.

"Ini yang harus diwaspadai, sebab bagaimanapun, batik adalah sebuah ungkapan budaya yang bertolak dari tradisi kaya dan panjang dalam kebudayaan bangsa Indonesia," tegas Anas yang dikenal lewat karya-karya seni seratnya.

[SP/Adi Marsiela]-published 21/1/08

Posted by adi on Jan 10, '08 11:23 PM for everyone
Start:     Jan 18, '08
End:     Jan 27, '08
Location:     Galeri Soemardja, Jalan Ganesha 10, Bandung
Selama 40 tahun, Oom Pasikom menyindir, mengkritik, dan mengolok-olok banyak orang, banyak pihak tanpa mempermalukan dan menyakiti hati mereka yang jadi sasarannya, walaupun harus tersenyum kcut. Ia juga mengajak kita menertawakan diri sendiri. Inilah laku moral GM Sudarta sepanjang karirnya sebagai empu karikatur yang pintar mengungkap isi hati masyarakat. (ini dari undangan panitia)

Pembukaan pameran Kamis, 17 Januari 2008, pukul 19.00

Posted by adi on Jan 10, '08 11:06 PM for everyone
Start:     Jan 19, '08
End:     Feb 10, '08
Location:     Selasar Soenaryo Art Space-Jalan Bukit Pakar Timur 100-Bandung
Pameran Fotografi Kontemporer Jepang karya Eikoh HOSOE, Hiroshi SUGIMOTO, Miho AKIOKA, Miyuki ICHIKAWA, Akiko SUGIYAMA, Chie YASUDA, Kazuo KATASE, Hiroko INOUE, Tomoko YONEDA, Tomoaki ISHIHARA, dan Michihiro SHIBUMABUKU
Pembukaan : Jumat, 18 Januari 2008 pukul 19.00 WIB

Posted by adi on Jan 8, '08 7:08 AM for everyone
Start:     Jan 10, '08
End:     Jan 12, '08
Location:     Galeri Soemardja, Kampus ITB, Jalan Ganesha 10 Bandung
Jejak-jejak pemikiran Almarhum Drs. H. Hasanudin M.Sn dalam Pengembangan Batik Nusantara

Pameran tersebut ditujukan untuk meningkatkan dan menstimulus apresiasi masyarakat terhadap perkembangan batik, serta membawa kembali batik ke dalam wilayah edukasi yang sarat akan muatan lokal melalui karya-karya Alm. Bpk. Drs. H. Hasanudin, M.Sn.

Pameran akan diadakan pada tanggal 10 – 12 Januari 2008 bertempat di Galeri Soemardja, Kampus ITB, Jl. Ganesha No. 10 Bandung

Kamis 10 jan 2008
19.00 – 21.00
Pembukaan Pameran
-prosesi pembukaan pameran
-pemutaran video profile batik bandung
-fashion show batik bandung

Jum’at 11 jan 2008
13.30 – 16.30
Dialog “ Membedah Batik Nusantara”
Pembicara:
1. Prof. Yususf Affendi
2. Prof. Jacop Sumarja
3. Dr. Biranul ANas
4. H. Afif Syakur

Sabtu 12 jan 2008
09.00 – 17.00
Demo Batik
Demo pembuatan cap Batik

Informasi selanjutnya dapat menghubungi Panitia Pameran Batik Bandung Kontemporer
Jl. Cigadung Raya Timur 136 Bandung. Ph. +62.22.2501029
Jl. Muararajeun Baru II No. 18 Bandung. Ph. +62.22.7272043
Sania Sari – 0818464354
Alga Indria – 0818921766 / 022 -70969774

Posted by adi on Sep 15, '07 4:02 AM for everyone
Start:     Sep 21, '07
End:     Oct 21, '07
Location:     Selasar Sunaryo
A crossbreeding of contemporary art and textiles. Curated by Yves Sabourin (Delegasi Seni Rupa, Departemen Kebudayaan dan Komunikasi) bakal mampir ke Indonesia. Pameran ini berisi 52 karya koleksi French National Fund of Contemporary Art dan koleksi pribadi. Tenun, sulaman, tatahan, aplikasi, dan lilitan. 7 karya yang mewakili tekstil Indonesia juga turut dipamerkan.
Selasar Sunaryo Sunaryo Art Space-21 September sampai 21 Oktober 2007
Museum Nasional, Jakarta-8-23 November 2007
Opening Friday, 21 September 2007 at 8 pm


Posted by adi on Sep 4, '07 5:38 AM for everyone

Tentara di Indonesia ternyata bisa tampil bercahaya dan glamour juga. Tidak ada kesan menyeramkan atau galak sebagai barisan depan penjaga pertahanan negara. Kesan itu bukan hilang oleh senyuman, melainkan warna-warni yang ada padanya.

Mulai dari raut wajah sampai baju lorengnya berubah warna. Sebut saja warna putih, biru, merah, orange, dan lainnya yang membentuk garis karakter wajah, tubuh, seragam, dan senjatanya. Tentara seperti ini hanya ada dalam alam pikiran Beatrix Henriani Kaswara.

Beatrix merealisasikan imajinasinya lewat lukisan berjudul Indonesian Army #2. Tidak hanya satu, Beatrix yang akrab dipanggil Bex itu, memainkan "tentara" lewat tiga karyanya yang berjudul sama, hanya berbeda nomor urut. Bagian latar dan sebagian besar bidang lukisan berwarna gelap merata, tanpa kedalaman. Ini adalah upayanya untuk lebih menonjol warna-warni tadi.

"Satu sisi saya bangga dengan tentara, tapi ada di sisi lain kecewa," ujar Beatrix singkat mengomentari karya-karyanya yang dipajang bersama 19 lukisan karya Dadan Setiawan, Dikdik Sayahdikumullah, Harry Cahaya, Iman Sapari, J Ariadhitya Pramuhendra, dan Willy Himawan di Selasar Sunaryo Art Space, Bandung dalam pameran bertajuk errata-optika. Pameran ini berlangsung sejak Jumat (24/8) hingga Jumat (14/8) nanti.

Bex mengaku tiga karya itu merupakan pencapaian tercepatnya dalam berkarya. Sebelum melukis, dia terlebih dahulu memilih foto tentara dan mengolahnya lewat peranti lunak di komputer.

"Pakai Adobe Photoshop, terus dengan (efek) Glowing Edge. Baru dilukis ulang," papar dia menerangkan caranya melukis tentara-tentara yang 'menyala' itu.

Gaya lukisan realisme seperti ini yang menjadi benang merah dalam pameran tersebut. Semua karya pameran berasal dari sebuah pencitraan lewat teknologi (optik) yang sudah diolah terlebih dahulu baru dilukis memakai acrylic, cat minyak, dan arang ke dalam berbagai ukuran kanvas.

Beberapa figur terkenal-sayangnya tidak menggunakan profil tokoh kekinian-juga tidak luput dari pencitraan ini. J Ariadhitya Pramuhendra alis Hendra memakai pemburaman dalam menggambarkan Paus Yohanes Paulus II, John Lennon-Yoko Ono, dan Marilyn Monroe. Tapi, biar diburamkan, orang pasti mengetahui siapa yang ada di lukisannya.

Agung Hutjanikajenong kurator pameran menyebutkan karya-karya Hendra mengangkat kenangan masa lalu yang pada saat bersamaan misterius. Meskipun demikian, karya Hendra sekaligus juga auratik.

Karya berjudul And Conclude this to Memorize Me yang menggambarkan prosesi sakramen komuni yang dipimpin oleh Paus Yohanes Paulus II dianggap mewakili semua hal yang diungkapkan Agung.

"Sekilas seperti gagal namun tetap impresif," ujar Agung.

Berbeda dengan Bex dan Hendra, Harry Cahaya lebih mengangkat tema alam dalam karyanya yang berjudul Seescope #4. Dia mengambil citraan air laut beserta riaknya. Warna air bagi Harry tidak menjadi masalah, mau hijau, kuning, biru, atau merah. "Jadi laut bukan sebagai objeknya, tapi nuansa yang ada di sana," paparnya.

Tenang dan Teduh

Memang ketika memandangi Seescope #4 yang dilukis dengan cat minyak dan berukuran 285 X 145 centimeter itu, ada rasa tenang dan teduh di mata. Apalagi lukisan itu dipajang sendirian di lorong perantara pada tempat pameran.

Sayangnya, dari tujuh pelukis yang menghadirkan karyanya dalam pameran ini, hanya Willy Himawan yang berani keluar dari area kenyamanannya. Dia mengambil objek dari televisi- Motion and Stillness-dan juga sebuah buku- On Page 9. Dikdik Sayahdikumullah, peserta pameran paling senior sekaligus dosen di kampus Fakultas Seni Rupa Institut Teknologi Bandung tidak juga keluar dari zona itu.

Dikdik "terjebak" mempresentasikan Sweet Deception dan Red Ad Hoc, gambaran dari balik kaca mobil saat basah tersiram hujan. Yang berbeda hanyalah objek di depan kaca itu.

Meski demikian, Red Ad Hoc dengan lampu-lampu belakang mobil yang biasanya baru kita perhatikan saat berkendara. Efek air yang memendarkan lampu-lampu itu memberikan pengalaman baru bagi yang biasa melihat suatu objek dalam bentuk pastinya.

Kecermatan Dikdik memanfaatkan refraksi cahaya, warna, dan bayangan pemandangan disajikannya lewat Sweet Deception. Ketidakjelasan selain warna hijau yang mendominasi menjadikan gaya realisme itu menjadi sebuah cara baru menikmati lukisan. Tidak dosa juga rasanya memandang karya itu sebagai sebuah lukisan surealisme.

Pameran ini, kata Agung, ingin memperlihatkan orientasi baru yang ditunjukkan oleh sejumlah seniman Bandung-yang semuanya berasal dari kampus yang sama-dalam mengolah dan menampilkan rupa realistik.

"Gambarnya kurang hidup kalau hanya membesarkan hasil foto. Makanya dilukis lagi," ujar Bex mengomentari alasannya melukis.

Lukisan-lukisan yang digambar dengan mengkopi realitas itu menunjukkan usaha seniman untuk "merebut" kembali persepsi yang sebenarnya sudah bisa diwakilkan oleh mesin seperti kamera dan mesin fotokopi.

"Dengan adanya realitas artifisial (buatan) maka penginderaan manusia diperpanjang. Kalau hanya memotret atau fotokopi, kita menikmati dan menghayati cara mesin di jaman seperti ini," ungkap Guru Besar Filsafat Universitas Parahyangan Bambang Sugiharto saat membuka pameran tersebut.

Oleh karena itu, Bambang berpendapat harus ada langkah lebih lanjut dari kegiatan ini sampai ke teoritisasi. Pameran ini cukup menjanjikan. [SP/Adi Marsiela]

Published: 31/8/07


Posted by adi on Aug 16, '07 7:59 AM for everyone
Start:     Aug 29, '07
Location:     CCF Jl. Purnawarman 32 Bandung
Rabu, 29 Agustus pkl 18.00 – 21.00
@ Auditorium CCF Bandung, Jl. Purnawarman No:32
Pemutaran :
“IntenCITY” - Lowave/“Displacement Project’’ & Seniman Bandung (1)
Presentasi “Lowave” :
1. Silke Schmickl
2. Thomas Lambert

IntenCity, dari satu kota ke kota lainnya, mengumpulkan sepuluh seniman dari sembilan negara yang berkarya tentang masalah perkotaan. IntenCITY merupakan kompilasi karya yang belum diterbitkan pada saat itu, menawarkan suatu pandangan baru terhadap estetika kota dan persepsi artistiknya dalam bidang video art dan sinema eksperimental.

Program IntenCity, dirancang oleh label DVD independen Lowave, menawarkan suatu pandangan baru mengenai pengolahan tema perkotaan di dalam kreasi-kreasi sinematografis kontemporer. Film-film yang menggambarkan kekayaan stilistik dan orisinalitas para seniman internasional label ini berasal dari berbagai macam DVD yang disunting oleh Lowave (City2City, Visions urbaines, HC Gilje : Cityscapes, Valerie Pavia) sepanjang tiga tahun terakhir.

Lowave adalah label kompilasi film dan pembaharu yang menawarkan kreasi seni terkini bertaraf internasional. Tujuannya adalah menawarkan suatu style dan menciptakan suatu pasar baru, mampu mempromosikan seniman-seniman terbaik yang belum terlalu terkenal pada saat itu, dan masih berkaitan dengan jaringan distribusi klasik www.lowave.com

Posted by adi on Aug 16, '07 7:53 AM for everyone
Start:     Aug 24, '07
Location:     Selasar Sunaryo-Bandung
Para seniman yang berpameran: Beatrix Hendriani Kaswara, Dadan Setiawan, Dikdik Sayahdikumullah, Harry Cahaya, Iman Sapari, J. Ariadhitya Pramuhendra dan Willy Himawan.

Pembukaan Pameran
Hari/Tanggal : Jumat/24 Agustus 2007
Waktu : Pk.19.00-21.00 WIB

Diskusi
Hari/Tanggal : Sabtu/8 September 2007
Waktu : Pk. 15.00-17.00 WIB
Pembicara : Agung Hujatnikajennong (Kurator pameran) dan para seniman errata-optika


Posted by adi on Aug 11, '07 6:47 AM for everyone
Start:     Aug 20, '07 7:00p
End:     Aug 25, '07
Location:     CCF Jl. Purnawarman 32 Bandung
Pameran tunggal seni rupa Rahmat Jabaril yang diselingi diskusi seni dan juga pengumpulan dana amal buat anak-anak di sekolah yang dikelolanya. Pembukaan hari Senin (20/8), jam 7 malam. Pameran berlangsung sampai Sabtu (25/8).

Posted by adi on Aug 9, '07 8:05 AM for everyone

Wajah manusia dan sosoknya selalu menjadi objek menarik bagi pelukis untuk menyalurkan ekspresinya. Baik itu dengan meminjam rupa, sosok orang lain atau wajah perupanya sendiri. Terkadang pengalaman, harapan, dan kegelisahan yang dialami perupa menjadi inspirasinya dalam mengeksplorasi figur.

Tiga perupa yang mengenyam pendidikan seni lukis di Bandung secara berani mengungkapkannya dalam pameran lukisan Explosive Figurative yang digelar di Galeri Rumah Teh, Bandung mulai 14 hingga 21 Juli 2007. Mereka masing-masing adalah Yanas, Qoyim Bana Nasution, dan Muharlia Umar (Muhar).

Semangat pemberontakan dan pembaruan yang pernah populer oleh 'flower generation" di era 1960-an menjadi salah satu inspirasi yang mencuat dalam pameran ini.

Sebut saja Jimi Hendrix yang tampil dengan sesosok perempuan berwarna putih dengan rambut kuningnya yang terurai panjang. Nilai-nilai perlawanan Jimi terhadap wajib militer yang dahulu diterapkan oleh Amerika terlihat jelas dalam lukisan pakaian yang dikenakannya. Sosok perempuan itu sendiri lebih mewakili isu gender yang mencari perhatian publik dalam karya berukuran 150 x 120 cm itu.

Dia tidak sendirian. Joan Baez, Janis Joplin, dan Maharesi Mahisa Yogi yang eksis pada kurun waktu yang sama turut hadir dalam pameran ini. Benang merah dari beberapa lukisan figur ini ditandai dengan adanya pola praba mandala yang dalam bahasa Sansekerta adalah lingkaran. Penggunaan praba mandala dalam keempat lukisan itu sebagai sebuah pusat untuk meditasi atau harapan akan pencerahan.

"Saya menyenangi seni lukis dan juga musik," kata Yanas, sang perupa jebolan Seni Rupa Universitas Pendidikan Indonesia menerangkan karyanya.

Selain itu, ungkap dia, figur pemusik atau Maharesi yang pernah dijadikan guru spiritual oleh grup musik The Beatles itu untuk mendekatkan orang awam dengan karya-karyanya yang menggunakan cat minyak.

"Saya ingin sesuatu yang greget. Pengaruh dari tahun 1960-an itu saya percaya masih bisa langgeng sampai ke depannya," terang dia.

Aroma surealis juga merebak dalam pameran ini. Setidaknya, Qoyim menggunakan genre itu untuk mengekspresikan kegelisahannya akan kehidupan. Dia meminjam rupanya sendi- ri untuk menjelaskan hal tersebut.

Lihat saja karyanya yang bertajuk Keenness. Dalam lukisan berukuran 150 x 120 cm yang diseting vertikal, sang perupa tampak telanjang dada dan menengadah ke angkasa. Berusaha menerawang dan mencari keseimbangan dalam hidupnya. Falsafah hubungan hidup harus terjalin dengan baik ke Sang Pencipta dan ke sesama, dia rupakan dalam jalinan tangan yang berbentuk segitiga di depan matanya.

Dalam pencariannya itu, Qoyim tampil seadanya. Dia hanya mengenakan sepasang sepatu kets dengan rambut panjangnya yang dibiarkan terurai. "Realitas dan mimpi itu hal yang menarik," kata dia memaparkan konsep dasar karyanya.

Eksplorasinya tentang mimpi juga ditampilkan dalam Shirathal mustaqim (ke-Jalan yang lurus). Dalam lukisan berukuran 165 x 95 cm ini, Qoyim menempatkan diri sebagai objek yang tengah mencari kebenaran. Dia seakan bermimpi dan berada di atas sebuah ruas jalan yang berwarna-warni. Dia melihat dirinya yang lain di bawah tengah jongkok, sementara dirinya yang berjalan masih belum mengetahui tujuan akhir dari jalanan itu.

Pertanyaan-pertanyaan tentang kehidupan setelah kematian dia jawab dengan menggunakan imajinasi. Menurutnya semenjak kanak-kanak, dia hanya bisa ingat bahwa rasa aman itu datang dan diperoleh jika dirinya kehilangan kesadaran atas segala sesuatu yang dianggap sebagai realitas. Mimpi salah satu pelariannya.

Kekinian juga hadir dalam pameran ini. Perupa yang menggunakan lambang kekinian itu adalah Muharmalia Umar alias Muhar. Karya-karya Muhar didominasi oleh teknik fotografi yang direpro melalui komputer, sebelum akhirnya dia lukiskan di atas kanvas. Pop art, demikian dia menyebut gaya lukisannya. Namun benang merah figur yang menjadi bagian dari judul pameran ini tetap tampil.

Dia memandang dirinya sebagai objek karena tidak ingin mengangkat kebaikan atau keburukan orang lain. "Saya tidak mau menghakimi orang lain, makanya menggunakan citra saya," papar dia.

Muhar tampil dalam beragam gaya, misalnya dia sedang mengayuh sepeda, duduk di kursi, sampai ketika dia tengah memakai payung. Tapi bukan berarti tidak ada yang ingin disampaikannya. Misalnya, lukisan berjudul Dissappoint yang terdiri atas tiga buah lukisan vertikal.

Masing-masing lukisan memiliki kesamaan objek. Muhar yang tengah menggunakan payung. Dalam karya ini, dia sengaja mengambil siluet hitam yang terbangun dari dirinya dan payung. Yang berbeda hanya goresan warna cat serta pola yang ada pada bagian latarnya.

Mungkin itu tanda kekecewaannya terhadap seseorang yang selalu memandang dirinya hanya dari bagian luar. Padahal setiap orang pastilah memiliki sesuatu yang berbeda dan bahkan di luar bayangan kita sebelumnya. Bayangan di luar kenyataan itu dia citrakan dengan pemilihan warna seperti merah, hijau, dan putih. Tidak lupa, dia juga selalu mencantumkan barcode atau identitas diri layaknya sebuah makanan dalam kemasan yang diproduksi massal.

Kurator Galeri Rumah Teh, Isa Perkasa mengatakan pameran ini menawarkan sebuah narsisme berupa eksplorasi figur secara fotografis yang berbeda. Dia mencontohkan Agus Suwage, Hendra Gunawan, Affandi, atau S Sudjojono yang menitikberatkan pada peminjaman potret dirinya atau tubuh telanjangnya guna menyampaikan pesan yang menggelitik.

"Karya-karya perupa ini cenderung menghadirkan ulang pose-pose dari sebuah potret dengan penggubahan pada latar, sehingga tawaran fotografis lebih menonjol," ungkap Isa. [SP/Adi Marsiela]

published: 24/7/07


Posted by adi on Aug 9, '07 7:35 AM for everyone

Estetika bukan nilai utama yang dicari dalam pameran ini. Nilai kritis dan refleksi kehidupan merupakan hal yang lebih berharga. Kehidupan yang serba dinamis seringkali membuat manusia kurang memperhatikan kondisi sekitarnya.

Setiap individu berusaha memenuhi kebutuhannya masing-masing. Andaikan ada interaksi sosial di antaranya, tidak lain untuk menegaskan bahwa sebenarnya manusia itu adalah makhluk sosial yang harus bergantung dengan orang lain dalam menjalani hidup ini.

Seringkali manusia atau individu-individu itu berjalan sendiri-sendiri. Interaksi yang didorong pemenuhan kebutuhan hidupnya terkesan samar-samar. Karena pada ujung-ujungnya, setiap individu pasti menginginkan timbal balik saat melakukan interaksi sosial.

Arief Tousiga seorang pematung lulusan Fakultas Seni Rupa dan Desain Ins- titut Teknologi Bandung (FSRD ITB) mencoba menyentuh aspek dasar kehidupan itu lewat tujuh buah patung berwarna abu-abu dalam pameran Konstelasi Abu-abu yang digelar semenjak Selasa (24/7) hingga Selasa (31/7) lalu.

Uniknya, setiap patung pameran ini tidak digelar hanya dalam satu ruangan melainkan enam ruangan berbeda yang terpisah cukup jauh satu dengan lainnya.

Namun setiap ruang yang dia pilih merupakan tempat umum yang dapat dikunjungi secara bebas, mulai dari Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Jl Ir H Juanda, gerai makanan cepat saji Mc Donald's Setiabudi, perpustakaan FSRD ITB, factory outlet Cascade di Jl RE Marta-dinata, dan Apotik Kimia Farma di Jl Braga.

"Kalau yang di Selasar Sunaryo itu sudah umum. Namanya juga galeri seni," ujar Arief.

Tampaknya sang perupa memang sengaja memilih tempat-tempat itu. Bukanlah sebuah hal yang aneh ketika kita duduk, berdiri, memesan makanan di restoran cepat saji, kita akan kembali ke kursi dan menghabiskan makanan. Kehadiran orang lain di tempat tersebut hanya menjadi sebuah "penghias" bagi mereka yang tengah berusaha memenuhi kebutuhan perutnya, makan.

Hal yang sama terjadi juga di perpustakaan, apotek, dan juga tempat lainnya.

Pemerhati budaya pop Yasraf Amir Piliang menilai Arief tengah mempersoalkan kebertakberjarakan yang mengasingkan manusia dari derajat keintiman di dalam abad informasi sekarang ini.

"Jangan-jangan orang yang duduk di sebelah kita itu tak lebih dari pa-tung-patung, yang tidak intim dengan kita," terangnya.

Patung karya Arief memang mengambil citra manusia seperti dalam kesehariaannya. Ukurannya satu berbanding satu dengan ukuran manusia. Hanya warnanya saja yang berbeda, abu-abu.

"Hal itu sebenarnya untuk menghindari kontro-versi," katanya berterus- terang.

Masing-masing patung itu mencoba memberikan makna dan nilai yang mendalam kepada setiap mereka yang melihatnya. Sebagai contoh saja, Arief sampai memasang tulisan "Jangan Disentuh" pada patungnya yang ada di restoran cepat saji. Patung itu sudah sempat patah jari-jari tangannya karena dipermainkan oleh anak-anak yang datang ke sana.

Namun Arief memaklumi hal tersebut. Pasalnya, restoran cepat saji itu memang sudah memiliki ikon dalam bentuk patung yang cukup menarik bagi anak-anak. Ronald Mc Donald's, nama ikon itu. Bedanya, patung milik Arief berpakaian seperti orang pada umumnya. Patung itu duduk santai seperti layaknya pelanggan yang tengah menyantap kentang goreng dan hamburger.

Beda lagi patung yang disimpannya di apotek. Mereka tampak sangat nyata dari bagian belakang. Bagaimana tidak, Arief mencitrakan karyanya seperti dua orang perempuan yang saling bercakap-cakap lengkap dengan satu patung yang memegang telepon seluler.

Aspek berkesenian dari Arief sebenarnya bukanlah patung-patung itu. Mereka hanyalah pemicu. Kurator pameran Heru Hikayat menjelaskan pameran tersebut membidik seluruh peristiwa di lokasi bersangkutan. Penempatan patung-patung itu diyakini dapat mengundang reaksi dari orang-orang yang kebetulan ada atau lewat pada beberapa lokasi tersebut.

"Reaksi-reaksi mereka yang melihat patung itu yang menjadi penting buat saya. Sayangnya, saya tidak bisa mendokumentasikan itu semua," ungkap Arief.

Proyek yang digarap dalam waktu tiga tahun ini memang dikerjakan secara rinci. Arief sangatlah memperhatikan berbagai unsur detail seperti pakaian, aksesoris, dan properti dari pameran. "Belinya juga menyicil."

Soal perjalanan seniman yang pernah ikut pameran bersama dalam "CP Biennale II 2005" dalam berkarya juga bisa dilihat dalam rangkaian foto dan video yang dipasang di galeri Selasar Sunaryo Art Space.

Secara umum pameran ini memang terasa sangat idealis. Semuanya dibuat melalui peniruan dari tingkah laku manusia dengan harapan bisa menimbulkan refleksi diri mereka yang melihatnya. Entah sampai tingkat mana refleksi itu bisa dicapai, karena memang harapan Arief mendapatkan sesuatu yang total itu adalah sebuah hal mustahil.

Namun demikian, pengamatan terhadap pameran ini menjadi sesuatu yang bisa dibilang berhasil. Lihat saja patung-patung yang rusak karena dipermainkan oleh anak-anak atau kegiatan berfoto bersama dengan patung oleh orang-orang yang melihatnya. Ini sebuah pengakuan bahwa sebe- narnya, karya itu diakui keberadaannya.

Menurut Heru keberadaan orang di ruang tunggu apotek menjadikan mereka memusatkan perhatiannya pada hal yang dia tunggu. Namun dengan adanya patung tersebut, maka kegiatan menunggu dapat berubah menjadi sebuah pengalaman yang berbeda, terutama kalau kita kemudian mengabadikannya lewat kamera.

"Proses menunggu itu menjadi menonton. Kita melihat citra kita sedang menunggu," paparnya.

Semoga saja melalui karya ini, Arief bisa menyadarkan (minimal) orang-orang yang melihat karyanya bahwa kehidupan itu memang seringkali terasa datar. Tapi karya seni tidak akan pernah membiarkannya begitu. [SP/Adi Marsiela]
Published: 7/8/07


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help