blabliblupblablop..

adi's posts with tag: jalan-jalan

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag jalan-jalan
Posted by adi on Feb 12, '08 6:19 AM for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Banyak orang yang menganggap hidup di dunia ini penuh dengan kerumitan. Kalau Anda termasuk yang seperti itu, tidak ada salahnya sedikit "mengintip" falsafah hidup masyarakat Kampung Bolang, Desa Cibuluh, Kecamatan Tanjung Siang, Kabupaten Subang.

Masyarakat yang bermukim sekitar 70 kilometer sebelah Utara Kota Bandung ini mengibaratkan kehidupan seperti sebuah kolecer (baling-baling). Mainan tradisional yang berputar dan mengeluarkan bunyi ketika angin berhembus. Permainan ini menjadi bagian tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat di sana. Abah Suminta (68), tetua di kampung itu menuturkan, kolecer menggambarkan satu putaran kehidupan manusia di dunia. Ada kalanya hidup di atas dan ada kalanya hidup di bawah.

Kolecer terbuat dari bambu dan kayu yang berbentuk huruf "T".

Bagian horizontalnya akan berputar jika tertiup angin dan bisa mengeluarkan suara seperti degungan ribuan tawon kalau angin cukup besar. "Menantang angin itu seperti menantang diri kita sendiri," kata Suminta di sela-sela prosesi doa syukur Festival Kolecer 2008 yang dibuat bersamaan dengan hajat lembur atau pesta rakyat, Jumat (2/1) lalu.

Selain doa, pembukaan prosesi hajat lembur menyertakan sejumlah penganan, tumpeng, umbi-umbian, leupeut (nasi yang dibungkus dengan daun pisang), ketupat (nasi yang bungkusnya berbentuk kubus terbuat dari anyaman janur kelapa), dan berbagai makanan khas kampung lainnya.

Setiap hidangan memiliki arti. Misalnya, kata Suminta, dua leupeut yang diikat tali menjadi satu merupakan gambaran Yang Maha Penguasa dalam menciptakan segala sesuatu di dunia ini berpasang-pasangan.

Ketupat , ungkap dia, menggambarkan empat arah mata angin yang memiliki satu sumber kekuatan di bagian tengahnya. Petuah bijak yang bisa diambil adalah manusia harus bisa menunjuk salah satu arah mata angin dengan kekuatan batin untuk kehidupan yang akan dihadapinya. Sedangkan umbi-umbian, digambarkan sebagai bekal manusia ketika hidup di dunia.

Makna Nama

Masyarakat yang sudah berkumpul di tengah-tengah kampung juga mengikutsertakan tiga kolecer terbuat dari kayu jati yang diameternya lebih dari lima meter. Usai doa bersama, tiga kolecer dan penganan diarak keliling kampung dan berhenti di lapangan yang pada salah satu sisinya sudah ada tiga tiang bambu, yang menanti dipasang kolecer.

Beberapa detik setelah dipasang, hujan turun dengan lebatnya. Hujan yang turun pada saat prosesi hajat lembur dan ngadegkeun kolecer (mendirikan baling-baling) adalah pertanda baik. Masyarakat pertanian menganggap kolecer hanya bakal dipasang saat musim angin Barat.

Semakin kencang anginnya, semakin kencang putaran dan suara yang dihasilkan kolecer. "Ada kepuasan batin," ungkap Tahwat (53), warga asli Cibuluh yang menggemari kolecer sejak berusia di bawah 10 tahun.

Secara teknis, kolecer yang baik terbuat dari kayu pilihan, sehingga tidak mudah patah. Selain kayu jati, kayu yang sering dijadikan kolecer adalah kayu tisuk, kayu bihbul, kayu surilem, kayu bang bik, dan kayu padok.

Untuk bagian batang dan tiang, terbuat dari bambu gombong (bambu besar). Batang kolecer biasanya berbentuk segitiga yang dihiasi. Masing-masing bagian mempunyai nama. Bagian depan disebut pongpok (kunci) kolecer pada poros (bangbrang), jajabik (hiasan dari bilik bambu), bangbayang (badan kolecer), solobong, bubuntut dan tiang.

Nama-nama itu mempunyai arti tersendiri. Misalnya, pongpok mengandung arti, bagaimana manusia bisa mengunci roda kehidupannya agar tidak melenceng. Bubuntut mengandung arti bagaimana manusia mengendalikan jalan kehidupannya. Sedangkan, jajabig mengambil bagian kehidupan kita yang selalu dihiasi berbagai hal yang bersifat duniawi.

Pesan lainnya juga tergambar dari jumlah batang kolecer. Apabila dua, bermakna pada kesadaran bahwa kehidupan berasal dari dua orang manusia. Bertambahnya usia anak, bertambah juga jumlah batang kolecer.

Memasuki usia dewasa, biasanya kolecer dipasang di atas kayu yang lebih tinggi dan jumlah batangnya menjadi tiga. Dipercaya itu sebagai gambaran atau pemaknaan dari tiga alam di masyarakat Sunda, yakni Buana Larang (alam bawah), Buana Panca Tengah (dunia tengah), Buana Nyungcung (dunia atas).

Filosfi Permainan

Mohamad Zaini Alif, seorang peneliti permainan anak tradisional dari Komunitas Hong menyebutkan papat kalima pancer adalah cara pandang dunia dalam masyarakat Sunda yang erat hubungannya dengan kesadaran kosmologis. Sederhananya, kata dia, kehidupan antarmanusia sebaiknya dijalin sama baiknya dengan hubungan ke Sang Pencipta. Menurut pria yang memiliki nama panggilan Jae ini, setiap permainan yang ada sebaiknya melatih kepekaan manusia. Dia merunut pada ajaran Sunda yang mengungkapkan ingsun dina dada (diri kita ada dalam dada atau hati).

"Sadar atau tidak, orang yang tinggal di kampung, rasa empatinya lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang hidup di kota," tuturnya.

Dijelaskan, biasanya kolecer dimainkan di pematang sawah untuk mengusir burung, tetapi bunyinya dianggap bisa menyenangkan leluhur yakni Dewi Sri (Hyang Pohaci), sehingga padi menjadi subur. Tapi kepercayaan itu telah luntur dan menyebabkan kolecer tidak lagi digunakan untuk keperluan itu.

Mengenai biaya pembuatan kolecer, Tahwat mengaku dirinya rela mengeluarkan uang hingga Rp 2 juta untuk satu buah mainan tradisional itu. "Ini murni kesenangan batin. Penampilan juga indah. Suaranya merdu gitu lho," sambung guru sekolah dasar di SD Cibuluh ini.

Jae menyebut filosofi dalam permainan tradisional itu sudah ada sejak abad ke-15. Hal itu, dia temukan dalam naskah abad ke-15 Saweka Darma Sanghyang Siksakandang Karesian, Amanat Galunggung yang menyebutkan tentang hempul. Hempul adalah orang yang mengetahui aturan permainan, cara membuat, dan filosofi permainan. Namun, kini hempul sudah punah. Tidak ada masyarakat adat di Jawa Barat (Jabar) yang memiliki hempul.

Permainan kolecer bukan sekedar dibuat. Malah dari mainan itu, manusia bisa bersosialisasi, mengatasi kesepian, mengatur keseimbangan otak, dan saling bekerja sama. [SP/Adi Marsiela]

Diterbitkan tanggal 11/2/08

Posted by adi on Jan 9, '08 4:05 AM for everyone
Start:     Jan 23, '08
End:     Jan 27, '08
Location:     Kampung Budaya Sindangbarang, Pasir Eurih, Bogor
Jadwal acara,
Rabu, 23 Januari 2008
ziarah ke Makam Mama H. Ali, Makam Embah Jamaka, Makam Mama H. Abdullah, Makam Abah Lurah Etong

Kamis, 24 januari 2008
Pembukaan Bakti Sosial dan Doa
Proses Khitanan masal (Sudat: salah satu acara mengawali Seren Taun Guru Bumi)

Jumat, 25 Januari 2008
Mengambil air dari 7 mata air (Cai Kukulu)
Upacara Pembukaan Seren Taun (Ngangkat)
Siraman Rohani dalam rangka 1 Muharam
Doa

Sabtu, 26 Januari 2008
Ijab
Sedekah kue (meupeus Kue)
Ngarak Munding (Pelen) untuk disembelih
Penyembelihan Munding
Sedekah daging
Acara hiburan panggung
Hiburan Umum
Kecapi pantun Buhun

Minggu, 27 Januari 2008
Persiapan ngarak Dongdang
Helaran kesenian menuju kampung budaya
Acara inti upacara adat Seren Taun:
- Upacara Majikeun Pare
- Sambutan - sambutan
- Persembahan tarian masal oleh padepokan
- Doa bersama oleh saksi adat
- Berebut isi Dongdang

Warga Sindangbarang menyambut para tamu, rombongan tamu akan dipersilakan untuk menginap di rumah warga setelah mendaftar pada panitia.
Terima kasih atas perhatian Anda.

Salam Hormat,
Pupuhu
Ama Maki
Kontak:
Karbet 0859 2163 6414
Agi 0813 1660 3534

Posted by adi on Jan 1, '08 8:13 PM for everyone

Soal Hotel di Bandung (ini mengambil dari plank77.multiply.com, thank u plank)

Kata dia, data-data ini bisa diliat juga di www.tripadvisor.com, buka city: BANDUNG bagian hotels dan B&Bs (Bed & Breakfast)

Yang ada di sini tarif tahun 2007, kalau tahun 2008 ya tinggal di cek aja lagi...ada kontaknya ini....

 

Tarif Rp. 100.000 sampai Rp. 200.000

- Guntur Hotel, Jl. Otista 20 Telp. (022) 420 3763
- Harapan Indah Hotel, Jl. Gatot Subroto Telp. (022) 730 8561
- Harmoni Inn 2 Jl. Talaga Bodas, Telp. (022) 730 7457
- Karmila Hotel  Jl. Ir. H. Djuanda (Dago) Telp. (022) 420 6778
- Mutiara Hotel Jl. Station Telp. (022) 420 0333
- MQ Guest House, Jl. Geger Kalong Telp (022) 200 5105
- Progo Hotel, Jl. Progo Telp (022) 420 6249

Tarif Rp. 200.000 – Rp. 300.000


- Hotel Sawunggaling, Jl. Sawunggaling Telp. (022) 421 8254
- Cihampelas Hotel, Jl. Cihampelas Telp. (022) 204 3695, 203 3425
- Sany Rosa, Jl. Setiabudi Telp. (022) 203 3562
- Dequr Hotel Jl.Dipati Ukur  Telp. (022) 250 3536
- Utari Hotel Jl.Dago Telp. (022) 420 6810
- Cemerlang Hotel, Jl. Pasirkaliki
- Guci Hotel Jl. Pasir Kaliki

- Casa d' Ladera Jalan Setia Budi (depan UPI) (022) 2009059-Rp 300.000-600.000

 

Rekomendasi penginap:

-Wisma Gandapura di Jl. L.L.R.E. Martadinata 120 (Riau), tempatnya bersih. Room rate mulai dari 120rb. Booking weekend jauh2 hari coz djamin pinuh euy.

-Sangkuriang Home Stay, Jl. Sangkuriang no. 11 Telp. 022-2502169. Dijamin aman, soalnya di seberangnya ada kantor polisi Coblong :D. Ratenya kalo ga salah mulai dari 100rb double bed. Sekitar 5-10 menit jalan kaki dari simpang dago. Kalo rute angkot, dari stasiun bandung naik angkot Cisitu Tegallega (warna ungu), yg ke arah cisitu, turun di Kantor camat Coblong.

-HOTEL BUKIT DAGO, rate nya dari Rp 100 rb, dapet sarapan.

-Cassadua Guest House ( www.cassadua. com ) 100 meter tol pasteur rate Rp 75.000, 125,000 sd 200 ribu, 40 kamar fasilitas lengkap. Telp. 022 2005822

-Hotel Gemilang Rate 120 ribu, 11 kamar , Jl. Surya Sumantri 10
-Hotel Ilos Jl. Babakan Jeruk, samping ASTRA, 20 rooms, Rp 250 ribu
-Hotel Cherry Homes (www.cherryhomes.com) Jl. Babakan Jeruk VII, 60 rooms, Rp 250 ribuan
-Hotel Chrysanta Jl. Pasteur 33, 40 rooms, Rp 200 ribuan
-Hotel Catelia Jl. dr. Rum, 20 rooms, Rp 100 ribu
-Hotel Selekta Jl. Pasirkaliki, 20 rooms, Rp 100 ribuan
-Hotel Mutiara Jl. Kebon Kawung, Rp 200 ribuan
-Hotel Serena Jl. Marjuk 4 (depan stasion KA), Rp 200 ribuan
-Hotel Famili Jl. Pasirkaliki, dibawah 100 ribu
-Hotel Nyland Jl. Pasteur, 200 ribuan
-Hotel Edelweis Jl. Sukajadi, 180 ribuan
-Losmen Guntur Jl. Oto Iskandardinata, 100 ribuan


Posted by adi on Dec 28, '07 5:01 AM for everyone

 “Sometimes words are hard to find

i'm looking for that perfect line

to let you know you're always on my mind

yeah, this is love - and i've learned enough to know 
i'm never letting go 
no, no, no - won't let go,…”
 

Lantunan lagu berjudul 'The Best of Me' dari dalam pemutar kaset di KM Lake Toba Cruise 2 itu seakan-akan mengerti dengan apa yang tengah saya alami. Bryan Adams sendiri, menyanyikan lagu tersebut untuk menceritakan sesuatu yang indah dalam hidup tidaklah akan dilepaskan atau dilupakannya. 

Saat mendengar lagu itu, saya tengah berada di kapal motor meyeberang ke Pulau Samosir di kawasan Danau Toba dari Parapat (disebut pula Prapat). Menarik memang menikmati keindahan pemandangan alam, terlebih ini kunjungan pertama saya ke danau vulkanik terbesar di Asia Tenggara. Apalagi letaknya merupakan yang tertinggi di dunia.  

Pulau Samosir yang saya tuju memiliki panjangnya sekitar 130 kilometer. Apabila ada waktu lebih, kita dapat mengelilinginya lewat perjalanan darat. “Pulau di atas pulau dan danau di atas danau,” demikian slogan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara untuk mempromosikan dunia pariwisatanya.  

Merunut pada tulisan seorang ahli geologi asal Jerman, Van Bemmelen, pulau itu terbentuk akibat letusan Gunung Toba ratusan abad silam. Secara teori, papar dia, letusan Tumor (gunung) Toba waktu itu merupakan letusan terbesar yang pernah tercatat dalam sejarah manusia.  

Buktinya bisa ditemukan pada struktur kawasan yang berbatu-batu. Diyakini, dulunya sedimen pulau ini berada di bagian bawah gunung, yang karena pergeseran tektonik akhirnya bergerak ke permukaan saat letusan terjadi. Aktifitas gunung api sendiri bis ditemukan di bagian barat pulau ini yang ditandai dengan munculnya titik-titik air panas. 

Samosir sendiri adalah pulau yang berada di tengah Danau Toba. Dia berada pada ketinggian 1.000 meter di atas permukaan laut. Memasuki tahun 2004, Samosir menjadi sebuah kabupaten tersendiri dengan sembilan kecamatan. Sebelumnya, masih menjadi bagian Kabupaten Tapanuli Utara Kawasan ini pun terdiri atas 9 kecamatan, yakni;. 

Untuk menuju ke sana, saya memulainya dari Parapat, sebuah kota tujuan wisata di tepi Danau Toba. Kota ini berada di wilayah Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara. Jaraknya sekitar 48 kilometer dari Pematangsiantar. Parapat menjadi salah satu titik persinggahan penting dari Jalan Raya Lintas Sumatera bagian barat yang menghubungkan Kota Medan dengan Kota Padang.  

Menyeberang dengan perahu motor dari pelabuhan Tiga Raja, Parapat ke Samosir memakan waktu antara setengah hingga satu jam. Masyarakat sekitar yang menggunakan motor, bus, dan truk pengangkut barang, bisa menyeberang dengan kapal feri yang nantinya bersandar di dermaga Aji Bata tiap tiga jam sekali. 

“Tarif kendaraan roda empat untuk sekali menyeberang Rp 78 ribu, sedangkan penumpang biasa hanya dikenai Rp 1.500,” tutur M. Idris Nasution yang memandu perjalanan wisata saya dan rekan-rekan jurnalis dari Jakarta

Di sela-sela perjalanan menyeberang, Idris sempat menceritakan asal muasal terjadinya Danau Toba. Cerita ini berawal ketika seorang pemuda yatim piatu pergi memancing. Kegiatan ini merupakan salah satu mata pencahariannya selain bertani. Maklum dia pemuda yang miskin.  

Ketika memancing, dia mendapatkan ikan tangkapan yang aneh. Ikan itu besar dan sangat indah. Warnanya keemasan. Dibawanya ikan itu ke rumahnya. Ketika dia tinggalkan, ikan itu berubah menjadi seorang putri yang cantik. Singkat cerita, ikan itu mengaku dirinya telah dikutuk dewata dan bisa berubah menjadi manusia karena sudah disentuh oleh sang pemuda.  

Singkat cerita si pemuda melamar gadis untuk menjadi istrinya. Sesaat sebelum menerima lamaran, sang gadis meminta agar pemuda itu memenuhi syarat yang diajukannya. “Aku bersedia menjadi istri kakanda, asalkan kakanda mau menjaga rahasiaku bahwa aku berasal dari seekor ikan,” kata Idris meniru ucapan sang gadis. 

Karena menyanggupinya, jadilah mereka berdua menikah dan dikaruniai seorang putra. Beranjak dewasa, si anak selalu merasa lapar. “Walapun sudah banyak makan-makanan, ia tak pernah merasa kenyang.” 

Suatu hari, karena begitu laparnya, ia makan semua makanan yang ada di meja, termasuk jatah makan kedua orang tuanya. Sepulang dari ladang, bapaknya yang lapar mendapati meja yang kosong tak ada makanan, marahlah hatinya. Karena lapar dan tak bisa menguasai diri, ayahnya pun mengumpat kelakuan sang anak. “Dasar anak keturunan ikan!” 

Dari sana bencana berawal. Sang istri yang merasa dikhianati marah dan pergi ke bukit. Dengan emosi, dia meminta agar Yang Kuasa memberikan pelajaran kepada suaminya. Tidak lama kemudian, langit pun menjadi gelap dan turunlah hujan dalam waktu yang cukup lama. Lama-kelamaan, air hujan itu terkumpul semakin banyak dan besar genangannya hingga menjadi danau.

Tidak terasa, cerita itu menghantarkan kami ke Desa Siallagan, Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir. Di sana kami disambut oleh pemandu wisata setempat, Guido Sitinjak.  

Perkampungan ini dikelilingi dengan batu-batu alam yang disusun dengan tinggi lebih dari satu meter. Guido kemudian mengajak kami menikmati peninggalan sejarah di sana, kursi dan meja yang usianya sudah lebih dari 200 tahun.  

Kursi-kursi itu ditempatkan mengelilingi sebuah meja dari batu alam. Di bagian tengahnya ada pohon Beringin, simbol adanya sebuah kampung pada masa lalu. Kursi dan meja itu digunakan untuk menggelar persidangan.  

“Saat sidang, terdakwa bisa mendengarkan sembari dipasung di bawah salah satu rumah. Yang paling sering disidang dan dihukum berat itu biasanya mata-mata musuh,” kata Guido. 

Sebelum sidang digelar, biasanya kepala suku meminta bantuan dari penasehat spiritualnya untuk menentukan hari baik. Guido sendiri menyebut penasehat spiritual raja itu sebagai dukun. Sebutan itu mungkin terkait dengan adanya tunggal panaluan (tongkat sihir) yang dimiliki oleh sang dukun.  

“Dengan tongkat itu, dia bisa menaklukan orang atau juga memanggil roh. Baik yang sudah tidak ada atau yang masih hidup.” 

Apabila dalam sidang diputuskan si terdakwa bersalah, maka dia akan dibawa ke tempat eksekusi. Letaknya terpisahkan oleh tembok batu. Di sana, si terdakwa akan mendapatkan makanan terakhirnya.  

Terdakwa akan ditutup matanya. Setelah itu badannya akan ditelentangkan di atas batu yang lebih panjang ukurannya. Agar kekuatan magis terdakwa terkuras habis dan eksekusi berjalan dengan lancar, biasanya sang dukun akan menyayat tubuh serta memberikan asam garam di atasnya. Selain itu jantung dan hatinya akan diambil. Sebelum kepalanya dipenggal, sang dukun juga bakal merapal mantera yang dibacanya dari kitab yang disimpan melintang di atas tubuh terdakwa.  

“Itu agar hukum pancung lancar. Eksekusi terakhir dilakukan tahun 1816. Setelah itu datang misionaris ke sini,” papar Guido. 

Menurut dia, perkampungan itu sendiri usianya sudah lebih dari 500 tahun berdasarkan silsilah keturunan Raja Siallagan ompu Batu Binjang. “Sekarang yang merawatnya keturunan ke-18.” 

Masih di tempat yang sama, dia mengajak kami melihat Rumah Bolon, rumah tradisional di sana. Dapur di rumah panggung itu terletak di bagian tengah. Peralatan dapur dan kayu bakar disimpan di para-para yang digantung tepat di atas posisi dapur. Seluruh anggota keluarga tinggal di dalam satu rumah.  

Tempat buang air sendiri berada di pojokan ruangan dengan lubang pembuangan yang langsung menuju ke bawah, tempat biasa binatang ternak disimpan. Atap rumah tradisional itu bagian depannya lebih tinggi dari yang belakang. Ini menjadi pesan agar sang anak nantinya lebih sukses daripada orang tuanya.  

Yang cukup unik adalah pintu masuknya. Selain kecil, setiap orang masuk harus menunduk kepala di bagian dalamnya. “Itu buat menghormati yang ada di dalam rumah. Selain itu, apabila yang bertamu itu memiliki ilmu akan kalah dengan pemilik rumah. Karena dia datang sudah menghormat,” katanya.  

Pada bagian luarnya, terdapat pahatan-pahatan. Motifnya antara lain berbentuk cicak, singa, dan juga payudara. “Cicak itu pesan agar orang Batak mudah beradaptasi, sedangkan singa itu untuk melawan unsure mistis dari luar. Payudara sendiri lebih melambangkan kesuburan.” 

Dari sana perjalanan dilanjutkan menuju ke Tomok, Kecamatan Simanindo. Ternyata berdasarkan silsilah, raja di Tomok masih memiliki hubungan kekerabatan dengan Raja Siallagan. Di lokasi ini kita bisa meyaksikan objek wisata Patung Sigale-Gale dan juga Makam Sidabutar. Kali ini yang menjadi pemandu wisata adalah Parlindungan Situmorang. 

Cerita soal patung itu, katanya dimulai berabad-abad lalu ketika Raja Rahat yang memerintah di Uluan memiliki putra, Raja Manggale namanya. Putra semata wayangnya itu sangat disayangi oleh seluruh kampung, terlebih oleh ayahnya karena dia pintar menari. 

Ketika putra jatuh sakit dan tidak tertolong, Raja Rahat selalu merasa sedih dan berduka. Sampai akhirnya ada tiga orang yang menyanggupi untuk membuat patung yang mirip dengan Raja Manggale. Patung itu mereka buat terpisah, kepala, bagian leher hingga pinggang, dan kakinya. Berbekal kesaktian tiga orang tersebut, roh Raja Manggale dipanggil dan masuk ke dalam patung tersebut.  

Semenjak itu patung tersebut bisa menari dan menghibur sang raja. “Patung itu bisa menari sampai jongkok. Tapi sekarang patung itu digerakkan dengan tali dan ini adalah patung duplikatnya,” terang Parlindungan.  

Agar bisa menyaksikan patung itu menari, pengunjung diharuskan membayar Rp 60 ribu. Ada empat tarian dalam sekali pertunjukkan, dimulai dengan Gondang Mula-Mula, Gondang Somba, Gondang Mangaliat, dan diakhiri dengan Gondang Sitiotio. “Tiap tarian punya arti tentang hubungan kita dengan Sang Pencipta,” ujarnya. 

Usai menari, kami diajak berkunjung ke Makam Sidabutar yang dimakamkan semenjak 460 tahun lalu. Sebelum memasuki kawasan makam, setiap pengunjung diharuskan mengenakan ulos, kain khas Batak.  

Ulos itu sendiri merupakan kepanjangan dari unang lupa oloi sipasingot yang artinya turuti nasihat. Makanya dalam acara pernikahan, biasanya undangan memberikan kain tersebut kepada pasangan yang menikah sembari memberi nasihat-nasihat.  

Dalam kawasan makam itu ternyata ada sedikitnya delapan kuburan, empat diantaranya sudah menggunakan salib sebagai simbol kepercayaan yang dianutnya. Kuburan raja pertama di sana, kata Parlindungan, adalah tempat peristirahatan terakhir dari Raja Op. Soribuntu Sidabutar. Setiap raja yang dimakamkan di sana sebelumnya sudah dibalut terlebih dahulu dengan ulos dan juga dibalsem. “Waktu tahun 1973 batunya dibuka lewat upacara adat, tulang-tulang di dalamnya masih utuh.” 

Secara sekilas, kita bisa melihat seperti apa raut wajah raja-raja yang pernah berkuasa di sana dari ukiran yang ada di makam batu itu. Salah satu kuburan yang cukup besar dan pahatannya masih jelas adalah milik Op. Ujungbarita Sidabutar, raja kedua di sana. Konon, warna merah pada bagian ujung makam yang berukir wajah itu adalah darah manusia.  

Pada bagian depan, ada ukiran berbentuk orang yang dipercaya sebagai tangan kanan sang raja. Sedangkan di bagian belakang kuburan terdapat pahatan berbentuk perempuan yang dipercaya adalah Anting Malela boru Sinaga.  

“Mereka sempat bertunangan selama 10 tahun, namun saat hendak berlangsung pernikahan yang perempuan kena sihir sehingga malu dan lari ke hutan. Dari sana raja selalu menantinya, makanya dibuat patungnya,” tambah dia.  

Selain bisa melihat dan menikmati kisah-kisah dari masa lalu, kita juga bisa membeli berbagai oleh-oleh dari toko-toko cendera mata di sana. Para pedagang memajang dan menjual berbagai barang kerajinan seperti ulos, ukiran kayu khas tanah Batak seperti sistem penanggalan Batak, tempat obat yang terbuat dari bambu, serta gitar batak.  

Perjalanan wisata di Danau Toba dan Pulau Samosir memang tidak bisa dinikmati dalam waktu sekejab. Sayang rasanya meninggalkan kawasan yang begitu kaya akan hal-hal menarik. Tapi, waktu kunjungan yang hanya beberapa jam di sana, setidaknya memberikan pemahaman dan kesenangan tersendiri bagi saya. 

Makanya tidak salah kalau Maringan Simbolon, Kepala Dinas Pariwisata, Seni Budaya, dan Perhubungan mencoba meningkatkan kualitas masyarakat di sana, terutama para pedagang. Pasalnya, ketika wisatawan hendak pulang dengan segala kenangan yang sudah didapatnya, tiba-tiba ada saja pedagang yang memaksa mereka untuk membeli barang dagangannya.  

“Kita membentuk kelompok sadar wisata untuk mengelola objek wisata. Karena kita tidak ingin wisatawan hanya datang sekali dan tidak datang kembali,” tuturnya. 

Oleh karena itu, katanya, pelatihan sadar wisata bagi pelaku bisnis pariwisata dan masyarakat sekitar kawasan wisata, menjadi program penting pemerintah daerah untuk membangun industri pariwisata yang menjadi andalan sumber pendapatan daerah. 

Tampaknya usaha membuat kelompok sadar wisata itu harus menjadi perhatian bagi pemerintah setempat. Karena bukan tidak mungkin, wisatawan seperti saya, yang baru datang sekali dan memiliki kenangan indah justru memilih tidak kembali ke sana. Penyebabnya, kebiasaan masyarakat yang memaksa pengunjung membeli barang-barang mereka. [SP/Adi Marsiela]

 

 


Posted by adi on Oct 31, '07 6:00 AM for everyone

Berlibur di Kota Bandung tidak melulu identik dengan belanja dan makan. Wisata belanja - bisa jadi menyenangkan bagi yang memiliki uang – memang masih menjadi primadona buat mereka yang berlibur ke Bandung. Jajaran toko busana disertai aneka ragam jajanan seakan tidak pernah lelah dikunjungi wisatawan.

 

Memang mengasyikan melakukan hal seperti itu. Namun, apa jadinya kalau semua orang memilih Bandung sebagai tujuan wisatanya? Yang ada pastilah kemacetan di mana-mana, mengingat ruas jalan yang pendek dan kecil-kecil di Bandung ini. Konon, Bandung memang dibuat sebagai kota peristirahatan, jadi wajar saja kalau tidak mampu menampung banyak kendaraan pribadi.

 

Baru-baru ini, atau tepatnya tanggal 9 September lalu, saya berkesempatan mengikuti sebuah kegiatan jalan-jalan menikmati sisi-sisi lain Kota Bandung. Selain sarat sejarah, kegiatan rutin yang sudah memasuki tahun ke-empat penyelenggaraannya ini juga dipastikan tidak membuat jalan raya di Bandung menjadi macet dan padat. Nama acaranya Bandung Historical Walk 2007.

 

Kegiatan yang digagas oleh komunitas Bandung Trails ini memang sengaja dibuka untuk mereka yang memiliki ketertarikan dengan sejarah, khususnya Kota Bandung. Tidak disangka-sangka ternyata pesertanya cukup beragam, mulai dari pelajar sekolah dasar, sekolah menengah pertama dan atas, mahasiswa, karyawan, serta ibu rumah tangga.

 

Para peserta ini dibagi ke dalam delapan kelompok, yang masing-masing kelompoknya diberi nama sesuai bangunan-bangunan bersejarah yang masih berdiri di Bandung.  Saya sendiri masuk dalam kelompok de Vries – toko kelontong yang menjual berbagai kebutuhan di persimpangan Jalan Braga dengan Jalan Asia Afrika. Kelompok yang lain mendapatkan nama seperti Preanger, Homann, dan Jaarbeurs.

Pembagian kelompok itu dilakukan pertama kali saat para peserta mendaftar ulang dan berkumpul di Gedung Merdeka, pukul setengah tujuh pagi. Gedung yang awalnya bernama Societiet Concordia ini merupakan tempat berkumpulnya kaum elit Eropa dan penduduk non Asia sekitar tahun 1895. Pada masa itu, berbagai kegiatan seperti teater hingga pelayanan gereja sempat memakai gedung tersebut.

Memasuki tahun 1921, gedung itu direkontruksi oleh C.P Wolf Schoemaker, seorang arsitek Belanda yang konon dilahirkan di tanah Indonesia. Lewat pengetahuan dan daya kreatifitasnya, bangunan ini menjadi sebuah gedung yang eksklusif dan modern untuk di Kota Bandung.

Tubagus Adhi, yang menjadi pemandu kelompok de Vries, mengatakan saat itu hanyalah orang-orang Eropa dari golongan sosial elit yang boleh masuk ke dalam gedung tersebut. Malah di depannya sempat terpasang tulisan kalau Inlander dan anjing dilarang masuk. Sampai-sampai, Schoemaker sendiri yang lahir di Indonesia dilarang masuk ke dalam klub tersebut.

Di dalam sayap timur gedung yang sekarang fungsinya menjadi bagian dan Museum Konferensi Asia Afrika itu, kami menikmati sajian film tentang Bandung tempo dahulu yang dipadukan dengan kondisi saat ini. Film yang disutradarai Garin Nugroho ini juga sempat diputarkan pada saat peringatan 50 tahun Konferensi Asia Afrika, pada tahun 2005 lalu.

“Di bawah sini terdapat tempat penyimpanan sepeda dan pernah juga dijadikan tempat untuk menjagal (anggota Partai Komunis Indonesia) pada tahun 1966,” tutur Adhi menjelaskan kondisi di bawah lantai bagian utama Gedung Merdeka. Usai menonton dan berkeliling di museum, para peserta pun mendapatkan kesempatan mengabadikan kenangannya dengan berfoto bersama.

Selesai dari sana, kelompok de Vries pun melangkah menuju ke titik kilometer 0 (nol) di Jalan Asia Afrika. Titik ini merupakan penanda jarak ke Cileunyi di sebelah timur Bandung dan Padalarang di sebelah baratnya. Di bawah tulisan Padalarang tertera angka 18 dan di bawah tulisan Cileunyi tertera angka 20 yang artinya baru ada istal pada jarak tersebut. Jarak itu pula - yang dipergunakan sampai sekarang – untuk menandai jarak dari dan menuju ke Bandung.

 

Konon di titik yang sama inilah, Gubernur Jenderal Hindia Belanda Daendels yang terkenal kejam menancapkan tongkat kayu di dekat kakinya seraya berkata “Zorg, dat als ik terug kom hier een stad is gebouwd” yang diartikan “Pastikan, ketika aku kembali, aku sudah melihat sebuah kota baru dibangun di sini.”

Berbagai sumber tertulis menyebutkan, Daendels melakukan itu dalam kaitan pembangunan "Jalan Raya Pos" atau Grote Postweg pada tahun 1810-1825. Raja Belanda saat itu, Louis Napoleon memerintahkannya untuk memperkuat pertahanan Belanda di Pulau Jawa untuk mengantisipasi serangan Inggris. Jalan Raya Pos dibangun membentang dari Anyer (Serang, Banten) hingga Panarukan di Jawa Timur.

Peristiwa penancapan tongkat yang dilakukan Daendels, bukanlah tanda dimulainya pembangunan jalan di Bandung ketika itu. Dia menancapkannya setelah mengontrol pembangunan jalan dan menyeberangi jembatan Sungai Cikapundung sebelah barat Gedung Merdeka sekarang.

Daendels adalah orang pertama yang berjalan di atas jembatan yang baru selesai itu. Kemudian dengan ditemani Bupati Bandung, Wiranatakusumah II, Sang Gubernur Jenderal berjalan kaki hingga ke sebuah tempat yang berjarak beberapa meter saja ke sebelah timur dari seberang hotel Savoy Homann sekarang. Di situ dia berhenti, menancapkan tongkat kayunya sambil mengucapkan kalimat pengharapan tentang pembangunan sebuah kota. Tugu itu kini berada tepat di depan kantor PU Bina Marga Jawa Barat.

Di belakang tugu itu berdiri monumen mesin giling jalan atau disebut stoomwalls, yang kemudian disebut setum, Konon, alat bertenaga uap buatan Jerman yang menggunakan bahan bakar kayu ini adalah yang dipakai untuk meratakan dan mengeraskan jalanan tersebut.

Dari sana, de Vries meneruskan perjalanannya ke Grand Hotel Preanger. Bangunan yang dibuat pada tahun 1889 ini awalnya adalah sebuah guest house. Namun pada tahun 1928 dilakukan renovasi oleh C.P Wolf Schoemaker sehingga menjadi bangunan yang lebih besar dengan gaya arsitektur geometric art deco dengan adopsi ornamen suku indian maya.

“Waktu itu Sukarno juga pernah sempat ikut praktek kuliah lapangan bersama Schoemaker,” terang Adhi seraya menambahkan bangunan ini merupakan bahan referensi bagi para arsitek yang ingin mempelajari gaya arsitektur art deco di Indonesia.

Kami juga sempat menikmati keindahan arsitektur hotel tertua di Bandung, Savoy Homann. Tempat yang dahulu dimiliki oleh keluarga Homann dari Jerman sejak tahun 1880 baru mendapatkan renovasi pada tahun 1939 oleh A.F. Aalbers dengan gaya Art Deco seperti yang terlihat sekarang.

Selain sempat menjadi tempat menginap para pemimpin dunia dan delegasi Konferensi Asia Afrika tahun 1955, hotel ini juga menjadi tempat mampir Charlie Chaplin dan Marlyn Monroe ketika berkunjung ke Bandung.

Menyusuri trotoar di depan hotel itu ke arah barat, para peserta bisa menemukan gedung tua yang disebut de Vries. Bangunan gedung bergaya romantik ini adalah bekas toko kelontong pertama di Bandung. Penanda bangunan ini adalah sebuah menara di sebelah sisinya yang dibangun pada awal 1900-an.

Saat ini bangunan tersebut tidak lagi terlihat indah dengan kaca patrinya, karena sudah pecah oleh lemparan batu saat bobotoh Persib mengamuk beberapa tahun silam ke belakang. Kaca-kaca itu sekarang digantikan oleh tembok putih yang bisu dan kusam.

Selain bisa lebih mengenal berbagai gaya arsitektur, jalan-jalan ini juga membuat pesertanya menjadi lebih tahu tentang sejarah kotanya sendiri. Misalnya lewat kunjungan ke makam pendiri Kota Bandung, Raden Wiranatakusumah II (1794-1829) yang letaknya tepat di belakang Masjid Raya Jawa Barat.

 

Sayangnya, kondisi makam ini tidak diketahui oleh sebagian besar peserta. Wajar saja, lokasi makam itu tertutup oleh maraknya pertokoan di sana. Di tempat itu sendiri terdapat 138 makam dari keluarga dan kerabat Wiranatakusumah II. Selain di sini, lokasi makam para bupati Bandung lainnya berjarak sekitar 700 meter ke arah barat di Jalan Karang Anyar.

 

Menurut Cindy Permatasari, Koordinator Acara Bandung Historical Walk 2007, acara ini memang diselenggarakan untuk memperkenalkan sejarah Kota Bandung dan perkembangannya sekarang.

 

Seusai mengunjungi makam Bupati Bandung, para peserta bisa menikmati suasana Bandung dari menara masjid raya di Alun-Alun Bandung. Perjalanan dilanjutkan ke Penjara Banceuy, Sumur Bandung di Gedung PLN, Restoran Braga Permai, Gereja Katedral, Gedung SMP 5 dan 2, Gedung Jaarbeurs, dan berakhir di Gedung Sate.

 

Dalam jalan-jalan ini, peranan seorang pemandu menjadi sangat penting. Informasi yang didapat dari leaflet hanyalah menjadi pegangan yang bisa dibaca kapan saja oleh peserta. Sedangkan informasi tambahan di luar perancang gedung, gaya arsitektur, dan lainnya hanya bisa didapatkan dari pemandu.

 

Misalnya saja, informasi tentang Pendopo Kota Bandung yang sekarang menjadi rumah dinas Walikota Bandung. Adhi yang menjadi pemandu kelompok de Vries mampu mengemas informasi mengenai penataan komplek Alun-alun secara keseluruhan dan peranan pendopo pada masa lalu.

 

Keberadaan lonceng di pendopo juga menjadi menarik, karena ternyata itu adalah alat pemanggil untuk rakyat ketika akan diadakan eksekusi hukuman gantung di depan pendopo atau kantor pemerintahan pertama di Bandung setelah dipindahkan dari Karapyak.

 

“Sebaiknya informasi memang jangan hanya terkait arsitektur bangunan saja, perlu informasi tambahan dari pemandungnya,” terang Ade Mardiah (36), General Manager Hotel Sawung Galing yang menjadi peserta bersama empat orang rekan kerjanya.

 

Menurut Ade, dia sengaja mengikuti kegiatan ini bersama rekan-rekan kerjanya agar mengetahui seluk beluk tentang sejarah Bandung dan juga kekayaan bangunan tuanya. Strategi wisata seperti ini, tambahnya, bisa menjadi daya tarik Kota Bandung yang lain. “Bisa menjadi barang jualan yang menarik,” tambahnya.

 

Penempatan beberapa pos di tengah perjalanan untuk diadakan kuis menjadi kombinasi yang menarik dalam acara ini. Panitia cukup jeli memanfaatkan waktu ini untuk beristirahat bagi peserta yang sudah berjalan kaki sekaligus menyegarkan ingatan setiap peserta mengenai situs-situs atau bangunan sejarah serta jalanan yang sudah dilaluinya.

 

Nuki (43), salah seorang peserta yang merupakan warga Bandung menuturkan wisata atau kegiatan jalan-jalan seperti ini cukup penting. Pasalnya, tidak seluruh orang Bandung sudah mengetahui sejarah kotanya sendiri. “Banyak potensinya,” kata dia yang datang bersama dengan isterinya Vivi (38).

 

Mereka berdua mengaku cukup puas dengan jalan-jalan yang dipungut biaya Rp 50 ribu per orangnya ini. “Tidak mahal, sudah cukup memuaskan. Bisa dapat makan juga, games-games dari panitia juga asik,” terang Nuki yang mengharapkan agar pemerintah memperhatikan kebedaraan dan kelestarian situs-situs yang sudah dikunjunginya.

 

Pengalaman ini senada dengan pengakuan Rina Rahmawati yang baru satu tahun ini tinggal di Bandung. Dia merasa kecewa ketika melihat monumen penjara Banceuy, yang dahulu pernah dipakai untuk menahan Soekarno, Presiden pertama Indonesia. “Tempat bersejarah di tengah-tengah kota, tapi kumuh, banyak tunawisma. Sayang,” ujarnya seraya menikmati makan siang yang diberikan panitia bersama dengan sajian musik dari Klinik Keroncong di komplek Gedung Sate.

 

 

Banyaknya gedung dan jalanan di Bandung yang sarat dengan sejarah ini bisa menjadi salah satu alternatif bagi anda-anda yang merasa bosan dengan wisata belanja di Bandung. Pilihan itu ada di tangan anda, apakah ingin berjalan-jalan dengan menguras keringat tapi mendapatkan banyak wawasan tambahan atau tetap memilih berkendaraan dan menimbulkan polusi? [SP/Adi Marsiela]

 


Posted by adi on Jul 12, '07 8:55 AM for everyone
Berangkat ke Pangandaran, ada acara Pangandaran Tersenyum, Selasa (10/7) kemarin. Di acara itu pemerintah mengundang pengisi acara seperti Naif, Time Bomb, Andi /rif, dan lainnya. Maklum, 17 Juli 2006, atau sehari setelah ada festival layang-layang internasional, Pangandaran dihempas tsunami.
ironis memang, pemerintah mengajak masyarakat atau calon wisatawan datang ke Pangandaran, tapi di sana masih ada sekitar 34 kepala keluarga yang tidur dan hidup di tenda-tenda pengungsian. Lokasi kamp pengungsian itu beberapa ratus meter sebelum gerbang masuk Pangandaran. Serba salah memang, mengajak wisatawan datang agar pelaku pariwisata, tukang pecel, tukang sewain sepeda, papan selancar, tukang pijet, tukang makanan, tukang baju, nelayan, koki, dan lainnya bisa hidup tapi di bagian depan masih ada yang tidak bisa bekerja. Rumah saja tidak ada.
Di sana sempet kenalan sama Slamet. Umurnya 30 tahun, kerjanya dua kali dalam sehari menaiki 37 batang pohon kelapa yang ada di pantai barat. Dia pembuat gula kelapa. Setiap sari yang diambilnya dari tunas dikumpul sebelum dibuat jadi gula. Harganya Rp 5000 per kilogram. Prosesnya sama seperti buat gula aren.
Kenalan sama nelayan yang setelah tsunami ini jarang menjual ikannya ke tempat pelelangan ikan. Kata dia, sesudah tsunami banyak nelayan yang tidak punya modal beli alat tangkap ikan seperti jaring dan sebagainya. Makanya ada tengkulak yang kasih bensin, alat tangkap, buat mereka melaut. hasilnya, ikan dijual ke tengkulak ga ke pelelangan. Padahal kalau ke pelelangan yang dikelola koperasi, hasilnya bisa ditabung buat beli alat penangkap ikan. perahu ga jadi masalah, soalnya pemerintah sudah bantu perahu, kalau ada waktu datang ke sana pasti liat kondisi semrawutnya perahu. di gang-gang juga ada perahu.
yang punya hotel juga aneh. tau masih sedikit yang datang, eh begitu ada masa libur, langsung harga dinaikkin...serba salah emang.
tapi ya seperti itu kondisinya di sana.
Pangandaran memang menarik untuk dikunjungi lagi.


Posted by adi on Jun 16, '07 7:54 AM for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Ini sedikit oleh-oleh waktu jalan lewat Kampung Ganeas, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Sumedang sewaktu mau motret ruwatan bumi di Dam Sentig yang berbeda kampungnya tapi masih satu kecamatan di Kampung Andir.
Anak-anak yang main di balong itu ga ragu-ragu loncat atau guling-guling di air, padahal di bagian ujung balong ada bangkai ayam yang terapung-apung.
Yang lebih dashyat (buat gue), anak-anak di dekat Dam Sentig yang tiba-tiba meloncat ke daerah aliran airnya. Tidak terlihat rasa takut yang penting bisa senang sama teman-temannya.

Posted by adi on May 17, '07 8:44 AM for everyone
Rendevouz at Dagostraat
By: Arya Dipa

Perempuan itu terlihat asyik membolak-balik halaman majalah yang dipegangnya. Ia tampak tidak terganggu oleh suasana kepadatan Kota Bandung, Jumat (11/5) petang. Majalah yang dipinjamnya dari perpustakaan café Prefere 72 itu, dia pakai untuk menghabiskan waktunya menikmati suasana santai di sore hari.

Perempuan bernama lengkap, Cut Nany, 22, itu tidak sendirian. Dia ditemani oleh Bhakti P. Rahardjo, 29, yang sedang menyeruput rokoknya dalam-dalam ketika saya menghampiri keduanya. Bhakti yang berprofesi sebagai konsulan interior design rumah ini mengaku sering menghabiskan waktunya di sana. Mulai dari sekedar ngobrol dengan rekannya sampai membuat perjanjian bisnis dengan partnernya.

Mereka juga memilih tempat duduk di bagian belakang café yang baru berdiri enam bulan ke belakangan ini. Alasannya tidak lain, mencari kenyamanan. Memang café yang satu ini menjadi sebuah tempat alternatif baru bagi mereka yang ingin nongkrong di sekitar Jalan Dago, Bandung.

Jalanan yang tadinya berupa jalan setapak saja semenjak tahun 1810 ini berkembang menjadi tempat ngobrol, bisa serius atau ngalor-ngidul, ngegosip, menyebar isu nggak penting, membahas makanan dan minuman, membicarakan kekonyolan, politik, politikus ataupun pakar sampai sekarang.

Sudarsono Katam, 61, penulis sekaligus kolektor buku menuturkan dirinya sudah bermain sepeda di jalanan itu semenjak tahun 1952. “Tempat itu nyaman,” kata dia. Memasuki tahun 1960-an, mulai ada terlihat anak-anak muda yang nongkrong di bagian selatan jalanan tersebut.

Sepuluh tahun berlanjut, jalanan yang tadinya hanya untuk nongkrong saja berubah menjadi sebuah jalanan yang memiliki daya tarik tersendiri. Mulai dari tempat makan roti bakar hingga perempuan, ada di sana. “Istilahnya kalau dulu itu ‘gong-li’ (bagong liar-babi liar),” terang Katam merujuk pada istilah perempuan yang suka mangkal di sana.

Pertambahan penduduk dan juga pertumbuhan ekonomi, paparnya, mulai terasa memasuki kawasan pemukiman elit di bagian utara Bandung ini pada awal tahun 1990. Hal itu ditandai dengan mulai maraknya pertokoan. Padahal awalnya, Jalan Dago hanya diperuntukan untuk rumah tinggal dan villa para tuan dan noni asal Belanda.

Merunut pada situs resmi Bandung Heritage Society, pembangunan di sana sudah dimulai pada tahun 1910. Ini seiring dengan keinginan pemerintah Gemeente (kotamadya) Bandung untuk  memperluas wilayah administrasinya ke arah utara. Orang merambah kebun dan sawah, membangun jalan Dago dan Cipaganti di Bandung Utara. Pembangunan dan pengerasan jalan Dago sampai ke hutan Pakar bersamaan dengan usaha Gemeente membangun reservoir air minum di Bukit Dago.


Katam yang menulis buku Bandung Kilas Peristiwa di Mata Filatelis Sebuah Wisata Sejarah mengungkapkan jalanan itu pada awalnya hanya menghubungkan daerah selatan Bandung, Karapyak (Dayeuh Kolot) dengan Mandalawangi, Sumedang Larang di sebelah timur Kota Bandung sekarang.

“Jalanan itu digunakan untuk jalur pengangkutan hasil bumi dari daerah Bandung utara ke gudang yang sekarang menjadi kantor Walikota Bandung,” imbuh dia seraya menambahkan pada jaman dahulu Kota Bandung dikelilingi oleh berbagai perkebunan seperti kopi, teh, dan kina.

Seiring dengan semakin banyaknya barang yang perlu dibawa, jalanan yang sampai sekarang masih dipenuhi dengan pohon damar di kiri kanannya itu, diperbesar sehingga mampu dilewati pedati. “Semenjak tahun 1910, kawasan itu digunakan untuk tempat tinggal orang Belanda.”

Bukti nyata kuda dan pedati pernah menjadi pengguna jalan itu masih bisa dilihat di depan Rumah Sakit Santo Borromeus, dekat perempatan Jalan Dago-Jalan Ganesha, depan SMAK Dago, dan SMAN 1.

Pada jaman penjajahan Belanda, jalanan ini juga digunakan sebagai lalu lintas pasukan kavaleri dari mulai daerah Van Houtenweg (Taman Sari bawah)-Huygensweg (Taman Sari)- sampai ke Dago. Bahkan, pada tahun 1960, jalanan itu sempat dibagi menjadi jalur kendaraan umum dan jalur kuda di sisi paling kiri dan kanannya. Bagian kiri untuk menuju ke jalur utara dan sisi kanannya untuk menuju ke selatan.

Penamaan Dago pada jalan itu juga menyimpan berbagai pertanyaan. Melansir pada tulisan ‘kuncen’ Bandung, Haryoto Kunto di buku ‘Semerbak Bunga di Bandung Raya’, nama jalan itu berasal dari bahasa Sunda.

Menurut dia, pada pertengahan abab ke-19, di antara Simpang Dago (sekarang) dengan kampus Institut Teknologi Bandung (ITB) merupakan daerah hutan belukar yang sepi. Jalanannya belum bisa dilalui oleh kendaraan. Makanya, penduduk yang pergi pagi-pagi buta ke pasar biasanya saling menunggu satu sama lain agar dapat pergi dalam bentuk rombongan. Mereka juga melengkapi rombongannya dengan lelali yang bersenjata parang dan tombak untuk mengawalnya dari begal (penyamun). Kebiasaan menunggu itu dalam bahasa Sunda biasa disebut padago-dago.

Kebiasaan nongkrong dan berkumpul pada tahun 1970, kata Katam, menjadi embrio yang menunjukkan eksistensi Jalan Dago di Bandung. “Kebiasaan berkumpul di sekitar jalanan itu sampai sekarang masih terasa.”

Penamaan resmi jalan itu pun berubah menjadi Ir. H. Juanda pada tahun yang sama. Hal ini dilakukan untuk mengenang jasa-jasanya dalam pergerakan kemerdekaan Indonesia.

Setiap Sabtu malam, ribuan orang tumpah-ruah memadati pinggir jalan Dago ini. Kebanyakan merupakan anak baru gede. Mereka berkumpul di sana untuk menikmati makanan di cafe tenda pinggir jalan. Sementara puluhan klub pecinta kendaraan baik motor dan mobil memiliki tempat-tempat favoritnya sendiri. Bahkan kadang-kadang kita bisa menikmati life music gratis dari berbagai aliran musik mulai dari brass-band, pop, hingga musik 'underground' yang dimainkan di pinggir jalan.

Kawasan Dago memang dikenal sebagai kawasan paling 'hip' di Bandung. Setiap malam Minggu terutama pada awal-awal bulan orang berjubel memenuhi trotoar dan bahkan badan jalan untuk sekedar menghirup udara malam.

“Bandung itu Dago, Dago itu Bandung,” tegas Cut Nany mendeskripsikan pandangannya tentang jalanan itu.

Sampai sekarang, Jalan Dago bagi Cut Nany, yang tengah menyelesaikan kuliahnya di Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Padjadjaran merupakan jantung utama dari Kota Bandung. Perempuan asal Jakarta itu mengaku setiap kali kebingungan menentukan arah, maka dia akan mencari angkutan kota yang menuju ke Dago. “Kalau sudah di Dago, jadi mudah mau ke mana-mana,” terangnya.

Bhakti sendiri memiliki impian yang berbeda. Menurut dia seharusnya, jalanan itu bisa menjadi sebuah kawasan pedestrian mall.

“Mobil tidak boleh masuk kawasan itu. Semuanya berjalan kaki. Jadi café pinggir jalan yang sekarang mulai berkurang jumlahnya menjadi pertokoan, masih bisa ada. Kalau kawasan Braga itu sebagai kawasan heritage, Dago menjadi tempat belanja para pejalan kaki,” paparnya.

Memang kondisi Dago berbeda dengan Braga, yang semenjak awal pembangunannya sudah menjadi tempat berkumpul bos-bos perkebunan untuk menghabiskan uangnya. Berdasarkan Data Bangunan Bersejarah Kota Bandung tahun 1997 milik Bandung Society Heritage, ada sekitar 25 bangunan bersejarah yang dilindungi di jalan Dago itu. Seluruhnya termasuk klasifikasi A, yang berarti bangunan tersebut sangat istimewa dan tidak boleh diubah sama sekali. “Memang seharusnya Dago juga menjadi tempat belajar sejarah,” imbuh Bhakti.  





© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help