blabliblupblablop..

adi's posts with tag: gawe

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag gawe
Posted by adi on Apr 1, '08 8:45 AM for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Baru selesai dibangun tiga bulan lalu, satu dari tiga ruang kelas baru di komplek SD Pasundan 3 Babakan Ciparay, Kota Bandung ambruk. Akibatnya, 22 orang siswa kelas dua yang tengah belajar Bahasa Indonesia di dalamnya harus dilarikan ke Rumah Sakit (RS) Rajawali, Kamis (27/3). "Ada yang berdarah, ada juga yang menangis," kata Dedi Baihaqi (28) guru kelas enam SD Pasundan 3 yang ikut mengeluarkan para siswa dari dalam kelas.

Dua dari 22 siswa itu hingga Kamis (27/3) malam masih mendapatkan perawatan. Keduanya adalah Rofi Rahmadia (8) yang menderita patah tulang pada betis kirinya dan Asti Setiawati (8) yang retak di pelipis kirinya mendapatkan perawatan di ruang PICU RS Rajawali karena sempat tidak sadarkan diri. "Semuanya ada 22 anak," papar Kepala Unit Gawat Darurat RS Rajawali dokter Dodo Wangsaatmaja.

Ruang kelas yang ambruk itu merupakan satu dari 10 ruang kelas yang ada di komplek sekolah SD Pasundan 2, 3, dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) Pasundan 9.

Imam Maliq (8), salah seorang siswa kelas dua yang belajar di kelas itu menuturkan, atap kelas itu langsung jatuh ke bawah dan menimpanya tanpa ada tanda-tanda seperti debu atau plafon yang berjatuhan dahulu. Imam yang mendapatkan dua jahitan di bagian kepalanya ini mengaku baru bisa keluar dari dalam kelas setelah ada orang dewasa yang menariknya. "Tidak tahu oleh siapa," papar dia ketika ditemui di rumahnya.

Bersama teman-temannya, Imam baru dua hari menggunakan ruangan kelas yang biasanya digunakan oleh siswa SMP Pasundan 9 itu.

Kepala Sekolah SMP Pasundan 9 Iman Saiman menjelaskan pembangunan tiga ruang kelas yang masing-masing berukuran sekitar 8x9 meter itu sudah berlangsung ketika dirinya baru bertugas di situ. "Saya masuk November, proses (pembangunan) sudah jalan."

Berdasarkan pengamatan SP, kayu penopang utama di bagian atas kelas banyak yang berwarna hitam dan urat-urat kayunya sudah merekah. Walikota Bandung Dada Rosada yang meninjau langsung ke sekolah itu menyatakan bagian bawah ruang kelas itu memang masih baru, namun bagian atasnya tidak. "Ini tembok baru, tapi itu kayu lama," paparnya.

Sebelum kejadian ini, Pemerintah Kota Bandung sudah membentuk tim inventarisasi bangunan-bangunan yang rusak pasca runtuhnya ruangan kelas di SD Babakan Surabaya, 12 Maret lalu. Menurut Dada pada tahun 2008 ini akan ada 205 ruang kelas yang dibangun pihaknya.

Pembangunan ini menyusul hasil inventarisir data dari tim yang menyatakan 1.015 dari sekitar 5.300 ruang kelas dari berbagai tingkatan di Kota Bandung rusak parah. "Yang akan kita bangun 205 kelas dari pemprov Rp 8 miliar bantuan. Ini (SD Pasundan 3) yang di luar inventarisasi tim kita," paparnya.

Dia juga mengungkapkan pembangunan di komplek SMP Pasundan 9 ini menggunakan dana bantuan dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat sebesar Rp 110 juta. Dana itu, sambungnya, diserahkan kepada dan dikelola oleh komite sekolah yang bersangkutan. "Ini swakelola diserahkan kepada sekolah."

Menyoal biaya pengobatan, Dada mengungkapkan semua itu ditanggung oleh pemerintah kota. Mengenai kemungkinan pelanggaran hukum dalam pembangunan gedung sekolah itu, dia menyerahkan semuanya kepada polisi untuk menyidiknya.

Kepala Kepolisian Resort Kota Bandung Barat Ajun Komisaris Besar Polisi Teddy Setiady mengatakan pihaknya sementara ini masih menilai ambruknya kelas ini sebagai kecelakaan.

Namun, tidak tertutup kemungkinan akan ada yang menjadi tersangka. Polisi, sambung dia, langsung memeriksa kepala sekolah SD Pasundan 3 Iman Raksa Santosa. "Harus ada yang mempertanggungjawabkannya. Mungkin ini tidak sesuai konstruksinya," ujar dia yang juga langsung datang ke kelas tersebut.

Sekolah Rusak

Secara terpisah Kepala Dinas Pendidikan Kota Bandung Oji Mahroji mengungkapkan dari 1.015 ruang kelas yang rusak berat itu, ada 102 ruang kelas yang harus dibongkar dan sekitar 600 ruangan kelas yang bakal diperbaiki pada tahun 2008 ini.

"Dananya role sharing dari provinsi Rp 8,2 miliar, dari APBD Kota Bandung Rp 14,2 miliar. Kalau yang dari APBN belum tahu," ungkap dia.

Oji juga menghimbau kepada seluruh kepala sekolah dari berbagai tingkatan untuk selalu memperhatikan dan melakukan pengawasan pada bangunan-bangunan yang sudah rusak. "Harus ada upaya untuk menopang, membongkar, dan memperbaiki. Ini saja baru tiga bulan selesai bisa begini. Pengawasan juga harus jalan," tuturnya. [SP/Adi Marsiela]

Posted by adi on Apr 1, '08 8:35 AM for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Auditorium Sasana Budaya Ganesha (Sabuga), Bandung gelap gulita. Lampu bernuansa putih, yang tiba-tiba menyala, hanya menyoroti pemain kibor di atas panggung. Tidak ada pemain musik lain. Yang ada hanya dentingan kibor.

Suara itu juga yang akhirnya digunakan oleh sekitar tiga ribu penonton yang memadati Sabuga, Jumat (14/3) malam untuk bernyanyi bersama.

…It take some time
God knows how long
I know that I can forget you

As soon as my heart stops breakin'
Anticipating
As soon as forever is through
I'll be over you…

Usai refrain lagu itu berakhir, Greg Philinganes sang pemain kibor berdiri sembari mengacungkan tangannya kepada para penonton. Itulah momen terbaik dalam konser Toto "Falling in Between Live World Tour 2008" di Bandung.

Sayangnya, lagu yang sudah cukup dikenal penonton ini hanya dibawakan sekilas. Nuansa nostalgia akan lagu-lagu Toto yang menjadi hit di tahun 80-an terasa kurang menggigit malam itu. Pasalnya, Kota Bandung baru pertama kali ini kedatangan grup musik lawas yang sekarang ini berdomisili di Los Angeles, Amerika Serikat.

Mereka sendiri membuka konser ini dengan tiga lagu sekaligus. Masing-masing Gypsi Train, Caught in The Balance, dan Pamela. Khusus untuk dua lagu pertama, lebih banyak menonjolkan permainan gitar Steve Lukather dan dentuman dram Simon Philips.

Irama kencang di bagian awal konser ini memang masih dapat diikuti oleh Bobby Kimball, sang vokalis. Namun, usia yang semakin tua tidak dapat menipu. Bobby lebih banyak turun naik panggung. Maklum saja, kurang dari 24 jam, mereka baru menggelar pertunjukan serupa di Kota Surabaya.

Meski demikian, Steve Lukather (bernyanyi sembari main gitar), Bobby Kimball (penyanyi), Greg Philinganes (keyboard), Simon Philips (dram), Tony Spinner (gitar), dan Leland Sklar (bas) tampak tidak ingin mengecewakan penggemarnya di Bandung.

Kualitas suara Bobby Kimball juga tidak perlu dipertanyakan. Dia tetap tampil prima, meski sering sekali mengambil nafas dan meminum air mineral sembari berjalan meninggalkan panggung. Dia baru keluar pada saat suaranya akan berpadu dengan Steve, seperti pada lagu Bottom of Your Soul.

Suasana nostalgia kembali terasa usai permainan solo kibor dari Greg. Kali ini telinga penonton dimanjakan oleh hit Toto yang lain, Rosanna. Tanpa dikomando, penonton ikut bernyanyi bersama.

Pemilihan lagu yang banyak dikenal penonton itu bisa jadi sebagai salah satu strategi dari Toto untuk 'mengambil nafas'. Demikian juga waktu mereka menggeber medley lagu-lagu, I'll Supply The Love, Isolation, dan Gift of Faith. “Kita bakal bersenang-senang di sini. Bagaimana kalau kita bernyanyi bersama sembari mengingat masa lalu,” kata Steve mengawali permainan medley tersebut.

Usai bersama-sama, Toto memakai repertoir (susunan lagu) yang memungkinkan personilnya untuk menunjukkan kemampuannya masing-masing. Luke dengan raungan gitarnya bermain dengan penuh penghayatan dalam lagu Kingdom of Desire. Setelahnya, giliran Simon.

Usia yang sudah tua tidak terasa begitu dia menggebuk dan menggilir dramnya. Permainan double pedal pada bas dram ketika membawakan Hydra menunjukan kematangannya sebagai pengganti Jeff Porcaro, pemain dram terdahulu yang meninggal akibat serangan jantung tahun 1992 silam. Medley itu sendiri akhirnya ditutup dengan

Taint your World.

Setelah itu, Steve pun mengenalkan satu persatu personil Toto dengan cara yang unik. Pertama dia memperkenalkan Tony sembari meminta penonton memberikan selamat ulang tahun padanya. Hal yang sama dia lakukan pada saat memperkenalkan 'gandalf of Toto' alias Leland Sklar yang menyolok dengan jenggot panjangnya. “Tahukah anda? Ini juga ulang tahunnya,” kata Steve lagi memprovokasi penonton.

Sama seperti konsernya di Jakarta tahun 2006 lalu, Toto pun menutup penampilannya dengan lagu pamungkas Africa. Lagu penutup ini dimulai oleh suara kibor dari Greg. Penonton yang sudah hafal dan menanti-nanti lagu ini langsung bersorak sembari melambai-lambaikan tangannya.

Perpaduan suara Bobby dan Steve pada nada tinggi sesaat sebelum refrain dinyanyikan menunjukan kualitas vokal keduanya. “It's gonna take a lot to drag me away from you/ There's nothing that a hundred men or more could ever do/ I bless the rains down in Africa/ Gonna take some time to do the things we never had.”

Pada bagian akhir lagu, refrain tersebut diulang-ulang. Makin lama makin melemah. Satu per satu personel Toto mundur dari panggung. Tinggal dentuman dram Simon Phillips. Tak lama, ia pun mundur, dan musik benar-benar berhenti.

Satu hal yang disayangkan dari konser ini adalah penempatan penonton festival. Mereka mengeluhkah perubahan denah tempat dari panitia di tempat konser dari yang semula dipasang di berbagai tempat penjualan tiket. “Masa saya mau nonton speaker,” kata Ipung (33) yang sudah masuk ke tempat festival dan keluar lagi mencari panitia untuk meminta klarifikasi.

Kehebohan ini ternyata menjalar. Tidak hanya satu dua orang saja melainkan hampir seluruh penonton dari kelas festival dari sayap kanan keluar lagi dari dalam tempat konser. “Di denah itu, festival di sebelah VVIP. Masih di depan panggung. Sekarang kenyataannya malah tertutup speaker. Mau lihat apa?” tanya Ijop (35), penonton lainnya.

Sebagian penonton yang tetap bertahan di kelas festival lebih memilih untuk langsung meloncat pagar pembatas di tempat konser untuk pindah kelas. “Daripada saya tidak lihat apa-apa. Ini panitia yang tidak benar, bukan saya,” tegas Anto (28) yang mengaku sangat kecewa dengan panitia.

Untungnya pihak kepolisian berhasil melobi panitia dari Original Production yang menjadi promotor. Para penonton yang merasa kecewa ini akhirnya dipersilahkan masuk ke bagian VVIP yang satu tiketnya dijual dengan harga Rp 300.000. [SP/Adi Marsiela]

Posted by adi on Mar 7, '08 6:18 AM for everyone
Start:     Mar 28, '08
End:     Mar 29, '08
Location:     Teater Tertutup Balai Pengelolaan Taman Budaya Jawa Barat
Memperingati hari perempuan sedunia 2008, Institut Ungu dan Yayasan Pitaloka mempersembahkan pentas teater monolog berjudul “Perempuan Menuntut Malam”, yang berbicara soal Cinta, Rumah, Sex, Politik dan Kekuasaan.

Pementasan di Bandung, bekerjsa sama dengan mainteater Bandung dan Balai Pengelolaan Taman Budaya Jawa Barat, dilaksanakan tanggal 28 dan 29 Maret 2008 di Teater Tertutup Balai Pengelolaan Taman Budaya Jawa Barat, pukul 19.30 WIB.

Monolog “Perempuan Menuntut Malam” dimainkan: Rieke Diah Pitaloka, Niniek L.Karim, Maryam Supraba.

Conference: 27 Maret 2008, pukul 14.00 WIB di Lobi Teater Tertutup Balai Pengelolaan Taman Budaya Jawa Barat.

DON'T MISS IT!!!!!!
Informasi & Reservasi: Zhu Khie Thian (0813.2064.0929 – 0813.9528.1713)

Posted by adi on Feb 12, '08 6:19 AM for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Banyak orang yang menganggap hidup di dunia ini penuh dengan kerumitan. Kalau Anda termasuk yang seperti itu, tidak ada salahnya sedikit "mengintip" falsafah hidup masyarakat Kampung Bolang, Desa Cibuluh, Kecamatan Tanjung Siang, Kabupaten Subang.

Masyarakat yang bermukim sekitar 70 kilometer sebelah Utara Kota Bandung ini mengibaratkan kehidupan seperti sebuah kolecer (baling-baling). Mainan tradisional yang berputar dan mengeluarkan bunyi ketika angin berhembus. Permainan ini menjadi bagian tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat di sana. Abah Suminta (68), tetua di kampung itu menuturkan, kolecer menggambarkan satu putaran kehidupan manusia di dunia. Ada kalanya hidup di atas dan ada kalanya hidup di bawah.

Kolecer terbuat dari bambu dan kayu yang berbentuk huruf "T".

Bagian horizontalnya akan berputar jika tertiup angin dan bisa mengeluarkan suara seperti degungan ribuan tawon kalau angin cukup besar. "Menantang angin itu seperti menantang diri kita sendiri," kata Suminta di sela-sela prosesi doa syukur Festival Kolecer 2008 yang dibuat bersamaan dengan hajat lembur atau pesta rakyat, Jumat (2/1) lalu.

Selain doa, pembukaan prosesi hajat lembur menyertakan sejumlah penganan, tumpeng, umbi-umbian, leupeut (nasi yang dibungkus dengan daun pisang), ketupat (nasi yang bungkusnya berbentuk kubus terbuat dari anyaman janur kelapa), dan berbagai makanan khas kampung lainnya.

Setiap hidangan memiliki arti. Misalnya, kata Suminta, dua leupeut yang diikat tali menjadi satu merupakan gambaran Yang Maha Penguasa dalam menciptakan segala sesuatu di dunia ini berpasang-pasangan.

Ketupat , ungkap dia, menggambarkan empat arah mata angin yang memiliki satu sumber kekuatan di bagian tengahnya. Petuah bijak yang bisa diambil adalah manusia harus bisa menunjuk salah satu arah mata angin dengan kekuatan batin untuk kehidupan yang akan dihadapinya. Sedangkan umbi-umbian, digambarkan sebagai bekal manusia ketika hidup di dunia.

Makna Nama

Masyarakat yang sudah berkumpul di tengah-tengah kampung juga mengikutsertakan tiga kolecer terbuat dari kayu jati yang diameternya lebih dari lima meter. Usai doa bersama, tiga kolecer dan penganan diarak keliling kampung dan berhenti di lapangan yang pada salah satu sisinya sudah ada tiga tiang bambu, yang menanti dipasang kolecer.

Beberapa detik setelah dipasang, hujan turun dengan lebatnya. Hujan yang turun pada saat prosesi hajat lembur dan ngadegkeun kolecer (mendirikan baling-baling) adalah pertanda baik. Masyarakat pertanian menganggap kolecer hanya bakal dipasang saat musim angin Barat.

Semakin kencang anginnya, semakin kencang putaran dan suara yang dihasilkan kolecer. "Ada kepuasan batin," ungkap Tahwat (53), warga asli Cibuluh yang menggemari kolecer sejak berusia di bawah 10 tahun.

Secara teknis, kolecer yang baik terbuat dari kayu pilihan, sehingga tidak mudah patah. Selain kayu jati, kayu yang sering dijadikan kolecer adalah kayu tisuk, kayu bihbul, kayu surilem, kayu bang bik, dan kayu padok.

Untuk bagian batang dan tiang, terbuat dari bambu gombong (bambu besar). Batang kolecer biasanya berbentuk segitiga yang dihiasi. Masing-masing bagian mempunyai nama. Bagian depan disebut pongpok (kunci) kolecer pada poros (bangbrang), jajabik (hiasan dari bilik bambu), bangbayang (badan kolecer), solobong, bubuntut dan tiang.

Nama-nama itu mempunyai arti tersendiri. Misalnya, pongpok mengandung arti, bagaimana manusia bisa mengunci roda kehidupannya agar tidak melenceng. Bubuntut mengandung arti bagaimana manusia mengendalikan jalan kehidupannya. Sedangkan, jajabig mengambil bagian kehidupan kita yang selalu dihiasi berbagai hal yang bersifat duniawi.

Pesan lainnya juga tergambar dari jumlah batang kolecer. Apabila dua, bermakna pada kesadaran bahwa kehidupan berasal dari dua orang manusia. Bertambahnya usia anak, bertambah juga jumlah batang kolecer.

Memasuki usia dewasa, biasanya kolecer dipasang di atas kayu yang lebih tinggi dan jumlah batangnya menjadi tiga. Dipercaya itu sebagai gambaran atau pemaknaan dari tiga alam di masyarakat Sunda, yakni Buana Larang (alam bawah), Buana Panca Tengah (dunia tengah), Buana Nyungcung (dunia atas).

Filosfi Permainan

Mohamad Zaini Alif, seorang peneliti permainan anak tradisional dari Komunitas Hong menyebutkan papat kalima pancer adalah cara pandang dunia dalam masyarakat Sunda yang erat hubungannya dengan kesadaran kosmologis. Sederhananya, kata dia, kehidupan antarmanusia sebaiknya dijalin sama baiknya dengan hubungan ke Sang Pencipta. Menurut pria yang memiliki nama panggilan Jae ini, setiap permainan yang ada sebaiknya melatih kepekaan manusia. Dia merunut pada ajaran Sunda yang mengungkapkan ingsun dina dada (diri kita ada dalam dada atau hati).

"Sadar atau tidak, orang yang tinggal di kampung, rasa empatinya lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang hidup di kota," tuturnya.

Dijelaskan, biasanya kolecer dimainkan di pematang sawah untuk mengusir burung, tetapi bunyinya dianggap bisa menyenangkan leluhur yakni Dewi Sri (Hyang Pohaci), sehingga padi menjadi subur. Tapi kepercayaan itu telah luntur dan menyebabkan kolecer tidak lagi digunakan untuk keperluan itu.

Mengenai biaya pembuatan kolecer, Tahwat mengaku dirinya rela mengeluarkan uang hingga Rp 2 juta untuk satu buah mainan tradisional itu. "Ini murni kesenangan batin. Penampilan juga indah. Suaranya merdu gitu lho," sambung guru sekolah dasar di SD Cibuluh ini.

Jae menyebut filosofi dalam permainan tradisional itu sudah ada sejak abad ke-15. Hal itu, dia temukan dalam naskah abad ke-15 Saweka Darma Sanghyang Siksakandang Karesian, Amanat Galunggung yang menyebutkan tentang hempul. Hempul adalah orang yang mengetahui aturan permainan, cara membuat, dan filosofi permainan. Namun, kini hempul sudah punah. Tidak ada masyarakat adat di Jawa Barat (Jabar) yang memiliki hempul.

Permainan kolecer bukan sekedar dibuat. Malah dari mainan itu, manusia bisa bersosialisasi, mengatasi kesepian, mengatur keseimbangan otak, dan saling bekerja sama. [SP/Adi Marsiela]

Diterbitkan tanggal 11/2/08

Posted by adi on Jan 21, '08 4:18 AM for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Bentangan kain katun yang didominasi warna hijau sebesar 2,7 meter X 2,7 meter di salah satu sudut Galeri Soemardja, Institut Teknologi Bandung (ITB) itu menyita perhatian saya. Tidak seperti biasanya, kain yang disebut sebagai batik ini menyajikan corak yang berbeda.

Struktur garis serta penempatannya yang saling tindih satu dengan lainnya, membuat kesan arah dan ruang yang dinamis. Ilusi bentuk pun tidak terhindarkan di atas kain tersebut. Seolah-olah segitiga, bujursangkar yang terpola di kain itu bergerak masuk ke dalam.

Batik yang dilukis dengan canting cap, canting tulis, colet dan celup ini merupakan satu dari sekian karya almarhum Hasanudin yang dipajang dalam Pameran Batik Bandung Kontemporer di ITB, 10-12 Januari pekan lalu.

Dalam mengolah batik, Hasan -panggilan akrab almarhum- memadukan berbagai motif batik tradisional menjadi sebuah karya baru dengan konfigurasi yang berbeda. Pengetahuan dan kepeduliannya terhadap batik diperlihatkan dengan mengambil topik penelitian soal itu semenjak sarjana hingga magister di seni rupa ITB.

"Dia pernah berkeliling Pulau Jawa dengan mobilnya selama dua bulan untuk mengumpulkan semua artefak batik," ungkap Prof Yusuf Affendi, kolega almarhum.

Hasan memang memiliki peranan penting dalam pengembangan karya batik, terutama ketika karya tersebut menjadi barang dagangan. Dia menjual karyanya dengan merek "Hasan Batik". Ciri utamanya adalah permainan pola-pola geometris, seperti persegi, lingkaran, dan kotak dengan beragam teknik dan warna dalam satu kain.

Alga Indria, salah seorang panitia menuturkan Hasan dalam melakukan pengolahan motif membakukan struktur motif yang lebih teratur. "Sehingga proses pengulangan yang dilakukan menghasilkan konfigurasi yang berbeda," kata dia.

Selain itu, pria yang pernah menjabat sebagai Ketua Departemen Kriya Tekstil Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ITB ini menciptakan batik tambal. Karya ini pengembangan dari batik-batik tambal di daerah Yogyakarta dan Pekalongan. Pada batik tambal ini, komposisi sangat mempertimbangkan struktur yang teratur. Hasilnya, kata Alga, terciptalah sebuah patch-work batik yang menampilkan efek optik yakni "Memiliki kesan arah dan ruang."

Karya-karya seperti ini, jelas Dekan FSRD ITB, Biranul Anas mencirikan kekinian dalam hal batik. Dia mencontohkan penyebutan batik oleh masyarakat sekarang ini lebih banyak dikaitkan dengan nama pembuatnya. "Misalnya batik Apip, batik Obin, dan lainnya. Individu muncul dalam pembatikan," terangnya.

Hal ini, sambungnya, tidak bisa dilepaskan dari gagasan pembatikan yang dilakukan oleh masyarakat Jawa (baca Kraton) dan juga pesisir. Kekinian yang muncul adalah pengembangan dari corak-corak batik yang sebelumnya sudah ada.

Pengamat budaya, Jacob Sumardjo mengungkapkan batik itu seni lukis. Kanvasnya kain mori dan catnya celupan. Tekniknya menggambar. Batik sebenarnya mirip grafis karena mengandung seni cetak juga.

"Dengan demikian batik tidak dapat dikategorikan dalam seni rupa modern kita. Batik adalah seni rupa pra-modern," kata Jacob.

Menurut Jacob, asal usul batik berasal dari Jawa meskipun seni ini telah menyebar di seluruh Indonesia, Asia tenggara, dan dunia. Penyebutan 'batik' itu berasal dari akar kata "thik".

"Padanannya pada sethitihik, mlethik, titik, thithik, yang berarti kecil, sedikit, percik. Barangkali karena dalam senin batik selalu ada isen-isen berupa titik-titik, baik kecil maupun besar," ujarnya ketika menjadi pembicara dalam diskusi "Membedah Batik Nusantar"' di sela-sela penyelenggaraan pameran.

Alam Pikiran Kolektif

Seni batik, kata dia, tidak dapat dipisahkan dari alam pikir Jawa pra-modern. Karena di dalamnya mengandung alam pikiran kolektif masyarakatnya.

Mengapa kolektif? Jacob mengungkapkan gambar batik yang mengandung alam pikiran itu dibutuhkan oleh masyarakatnya, bukan hanya kebutuhan nilai estetiknya, tetapi juga etik dan spiritual. Makanya, dalam seni Jawa ada tingkat-tingkat nilai.

Pertama, wirogo. "Artinya bentuk wadahnya. Anda boleh terampil membuat satu jenis gambar batik, misal parang rusak, yang bentuknya persis sama seperti dituntut oleh pakemnya (masyarakat). Namun belum tentu punya tingkat keduanya, wiromo," terang Jacob lagi.

Wiromo mengacu pada estetiknya menurut paham kita. Yakni membangkitkan pengalaman rasa dan pikir kita. "Tapi itu juga belum cukup 'seni' kalau belum mencapai tingkat wiroso, rasa sejati atau pengalaman spiritual. Ada daya-daya transenden yang bangkit dari batik itu."

Meski demikian, tidak semua batik dibuat dengan tujuan spiritualitas sampai tingkat wiroso. "Banyak batik yang hanya memenuhi kebutuhan wirogo belaka, yakni kebutuhan profam (duniawi) manusia sehari-hari. Tapi ada juga yang tingkat wiroso diperlukan, misalnya kalau acara pernikahan, kelahiran, kematian, dan sebagainya," tutur dia.

Keterampilan seni semacam ini tidak hanya berlaku pada seni batik, tapi juga seni gerabah misalnya. Ada gerabah untuk memasak sehari-hari, ada juga yang untuk hajatan, sesajen. "Proses pembuatannya berbeda meskipun menghasilkan bentuk wirogo yang sama."

Jacob sendiri memandang seniman batik (empu batik) adalah mereka-mereka yang menciptakan batik dengan daya-daya transenden, spiritualitas, meskipun menyalahi aturan wirogo. Kesalahan itu bukanlah sesuatu yang fatal, kata Jacob. Pasalnya, seperti seniman modern, seniman batik juga memiliki semacam licentia puitica atau hak istimewa untuk "salah".

Karena lewat yang 'beda' atau 'lain' itu, seniman mampu menghadirkan yang transenden. Bedanya, samnbung dia, seniman modern menghadirkan yang transenden dalam wilayah pengalaman dan pikiran (kesadaran), sedang seniman batik benar-benar menghadirkan daya-daya transenden itu.

"Seniman modern menghadirkannya lewat bentuk simbolik, sedangkan seniman batik lewat medium batiknya. Itu juga sebabnya, batik merupakan salah satu benda pusaka, sedangkan lukisan modern tetap benda biasa," ujar Jacob.

Terkait dengan karya-karya Hasan yang sekarang ini lebih banyak dikembangkan dengan merek dagang Batik Hasan, Anas mengatakan tidak ada masalah. "Karena ini semua berkembang dan semenjak awal kriya memang terkait dengan (kebutuhan) pasar," terangnya.

Menurutnya, identitas Indonesia dalam urusan batik tidak akan pudar pada pasar apabila tidak memiliki nilai-nilai transenden. Buktinya, usaha Hasan yang dilanjutkan oleh ketiga orang puterinya Sania Sari, Tri Asayani, dan Rani Tria Rani bisa menyentuh ruang-ruang pribadi orang.

Batik tidak hanya menjadi urusan fesyen. Karyanya juga bisa diaplikasikan pada produk-produk lain seperti pelengkap dekorasi dalam rumah, mulai meja, sofa, hingga partisi ruangan. Batik makin bisa dinikmati dalam tampilan yang lebih modern.

Menyoal judul diskusi yang menyebut-nyebut batik Nusantara, Anas mengatakan, seharusnya dunia kampus khususnya di bidang kriya meredefinisi istilah "batik Nusantara" Pasalnya, pengakuan atas istilah tersebut bisa menimbulkan perdebatan.

Secara sederhana, Biranul Anas, Dekan Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung (ITB) mewacanakan "Nusantara" sebagai sebuah kawasan wilayah yang bukan hanya monopoli Indonesia. "Malaysia, Filipina, juga ada di dalamnya," tuturnya.

Anas juga mengungkapkan penciptaan batik, misal di Jawa Barat, sudah berlangsung semenjak dahulu seperti batik Trusmi dari Cirebon , batik Priangan serta batik Garutan. Dengan berbagai motif seperti parang, sawat, meru, sido mukti, prabu anom, atau kawung, seperti yang dikenal di Solo dan Yogyakarta. Ada juga motif liris seno, naga liman, atau gendongan sunyaragi, seperti yang terdapat pada motif batik Cirebon.

Menurut Anas, penciptaan batik seperti yang dilakukan oleh Batik Hasan lebih terbuka terhadap berbagai gagasan, khususnya dalam hal ide pencorakan. Namun berisiko merambah tidak terkendali sehingga sama sekali kehilangan sentuhan batik.

"Ini yang harus diwaspadai, sebab bagaimanapun, batik adalah sebuah ungkapan budaya yang bertolak dari tradisi kaya dan panjang dalam kebudayaan bangsa Indonesia," tegas Anas yang dikenal lewat karya-karya seni seratnya.

[SP/Adi Marsiela]-published 21/1/08

Posted by adi on Jan 16, '08 5:28 AM for everyone
Start:     Jan 20, '08 10:00a
Location:     Ching Wan Resto, Ciwalk, Bandung
Press Screening, Konferensi Pers, dan Ketemuan Film 'Otomatis Romantis'
karya Guntur Soeharjanto, dibintangi oleh Tora Sudiro, Tukul Arwana, Marsha Timothy, dan Wulan Guritno.
Jam 10 nonton dulu
Jam 12.30 Konferensi Pers
Jam 15.00 Ketemuan di Foodcourt Ciwalk

informasi lebih lanjut : Wix Alexander (0816601262)

Posted by adi on Jan 8, '08 7:08 AM for everyone
Start:     Jan 10, '08
End:     Jan 12, '08
Location:     Galeri Soemardja, Kampus ITB, Jalan Ganesha 10 Bandung
Jejak-jejak pemikiran Almarhum Drs. H. Hasanudin M.Sn dalam Pengembangan Batik Nusantara

Pameran tersebut ditujukan untuk meningkatkan dan menstimulus apresiasi masyarakat terhadap perkembangan batik, serta membawa kembali batik ke dalam wilayah edukasi yang sarat akan muatan lokal melalui karya-karya Alm. Bpk. Drs. H. Hasanudin, M.Sn.

Pameran akan diadakan pada tanggal 10 – 12 Januari 2008 bertempat di Galeri Soemardja, Kampus ITB, Jl. Ganesha No. 10 Bandung

Kamis 10 jan 2008
19.00 – 21.00
Pembukaan Pameran
-prosesi pembukaan pameran
-pemutaran video profile batik bandung
-fashion show batik bandung

Jum’at 11 jan 2008
13.30 – 16.30
Dialog “ Membedah Batik Nusantara”
Pembicara:
1. Prof. Yususf Affendi
2. Prof. Jacop Sumarja
3. Dr. Biranul ANas
4. H. Afif Syakur

Sabtu 12 jan 2008
09.00 – 17.00
Demo Batik
Demo pembuatan cap Batik

Informasi selanjutnya dapat menghubungi Panitia Pameran Batik Bandung Kontemporer
Jl. Cigadung Raya Timur 136 Bandung. Ph. +62.22.2501029
Jl. Muararajeun Baru II No. 18 Bandung. Ph. +62.22.7272043
Sania Sari – 0818464354
Alga Indria – 0818921766 / 022 -70969774

Posted by adi on Dec 27, '07 11:30 PM for everyone
Start:     Dec 29, '07 3:30p
Location:     Jalan Braga Sabtu (29/12) mulai pukul 15.30 WIB
Katanya acara dengan tema "Ngabaraga" ini sebagai ajang apresiasi mayarakat terhadap seni budaya tradisional maupun modern di Jawa Barat. Apalagi Pemprov Jabar lagi mencanangkan "Visit West Java Years 2008".
Puncak acara ini bakal digelar di Gedung Merdeka Bandung dengan inti acara Gubernur Jabar, Danny Setiawan menyampaikan pidato umum akhir tahun, sekaligus menyerahkan anugerah budaya bagi para seniman, budayawan, dan pelaku pariwisata di Jabar.
Ketua penyelenggara Braga Festival, Winny Citra Dewi Utami (yang anak gubernur ini) bilang Braga Festival bakal diisi berbagai materi acara, antara lain pameran produk industri kreatif (kuliner, kriya/ kerajinan, dll.). Selain itu, pameran seni rupa Jawa Barat, pameran fotografi, serta berbagai hiburan, meliputi musik tradisional maupun modern. Seluruh acara tersebut digelar di sepanjang Jln. Braga, Gedung YPK Jln. Naripan, dan Gedung AACC.

Festival ini pun akan diramaikan pertujukan band indie yang diikuti sekitar 120 band indie dari berbagai daerah di Jabar dan Indonesia. Juga akan hadir 1000 fotografer dengan 1000 model yang rencananya masuk rekor Muri.

Nantinya, usai pidato itu, bakal ada pesta kembang api di sekitar alun-alun Bandung.

Posted by adi on Dec 27, '07 2:09 AM for everyone
Start:     Jan 18, '08 7:30p
Location:     Auditorium CCF Bandung
Usia 50 tahun bagi sebuah perkumpulan kesenian adalah prestasi. Pada tahun 2008, Studiklub Teater Bandung (STB) sengaja mengawali pembukaan perayaan "LUSTRUM–50 TAHUN STB" dengan mempersembahkan monolog: "Satu Malam Tiga Repertoar" karya/sutradara IGN. Arya Sanjaya, sebagai titik awal perayaan ulang tahun STB yang ke-50 tahun.

Dalam pentas kali ini, STB akan menyuguhkan tiga repertoar, yang masing-masing akan dibawakan secara monolog oleh tiga aktor. Ketiga repertoar tersebut: "Symphoni Patet Pat", "Symphoni #4", dan "Symphoni April".

Informasi & reservasi: Afif (0813.2114.7411) ; Zhu Khie (0813.2064.0929)




Posted by adi on Nov 5, '07 6:54 AM for everyone
Start:     Nov 11, '07 07:00a
Location:     Grand Ballroom Hotel Savoy-Homann
Memperingati 80 Tahun Hubungan Radio Gelombang Pendek Indonesia - Belanda.

Kota Bandung sebagai Kota Infokom. Karena di era penjajahan Belanda, dari Bandung, informasi dari Hindia-Belanda, meluncur cepat ke Eropa melalui sebuah pemancar radio di Gunung Malabar Pangalengan.
Bekas stasiun pemancar tersebut, sayangnya kini tinggal puing-puing, begitu pula Prasasti yang terletak di taman yang kini berdiri Mesjid Istiqamah Bandung.

Melalui pemancar di Gunung Malabar itu pula, teks proklamasi dikumandangkan ke seluruh dunia pada Tanggal 18 Agustus 1945 dengan
pembaca Teks Proklamasi yang juga salah seorang pendiri koran PR.

Kisah sejarah ini akan diungkap kembali secara lugas oleh sejarawan UNPAD
Nina Lubis untuk memperingati peran Kota Bandung sebagai Kota Infokom.

Kegiatan ini diselenggarakan oleh Radio Nederland Wereldomroep (RNW) atau
Radio Nederland Siaran Internasional, yang pada tahun 2007 ini genap berusia 60 tahun (1947). Sekaligus dimulainya siaran bahasa Indonesia pada saat yang sama. Suatu kebanggaan tersendiri karena bahasa Indonesia dipilih sebagai bahasa internasional pertama (setelah bahasa Belanda).

Dalam rangka memperingati momen bersejarah ini, sepanjang tahun 2007 Radio Nederland Wereldomroep menyelenggarakan beberapa kegiatan khusus, baik di Belanda, Indonesia, Amerika Latin dan Afrika.
Acara yang akan dihadiri oleh Wakil Duta Besar Belanda, Dr. Ad Koekkoek, ini diharapkan akan menjadi tonggak penghargaan yang diberikan oleh pemerhati sejarah-budaya serta insan pers kedua negara terhadap era komunikasi perintis siaran radio internasional di Indonesia.

Acara ini juga dimeriahkan dengan penampilan anak-anak dari Saung Anglung
Mang Udjo yang telah dikenal dengan permainan angklungnya yang menawan.
Keseluruhan acara ini direkam oleh Radio Nederland Wereldomroep dan
akan dikelola untuk produksi multimedia.



Posted by adi on Oct 31, '07 6:08 AM for everyone

Fenomena pemanasan global yang menjadi perhatian dunia belakangan ini seakan terpatahkan di Indonesia. Es yang mencair dan mengakibatkan tenggelamnya wilayah daratan, ternyata tidak terjadi di Kampung Laut, Laguna Sagara Anakan.

 

Wilayah yang terletak di antara Pulau Jawa dan Nusa Kambangan ini terus menerus mengalami pendangkalan dari tahun ke tahun. Hasilnya, banyak bermunculan daratan baru yang tidak berpenghuni dan bertuan. Apabila diukur, luas Sagara Anakan yang  mencapai 6.450 hektare pada tahun 1903, sekarang ini daerah yang tergenang tidak mencapai 10 persennya.

 

Perubahan benteng alam menimbulkan masalah baru pada masyarakat Kampung Laut. Misalnya, mereka yang sehari-hari berprofesi sebagai nelayan, mau tidak mau harus alih profesi menjadi petani di atas tanah yang dulunya adalah laut tempat mereka menyandarkan hidup.

 

Kepemilikan tanah timbul - yang semakin luas - tidak hentinya dipertanyakan. Lembaga Pemasyarakatan Nusa Kambangan, Departemen Kehutanan, dan Badan Konservasi Sagara Anakan hanyalah sebagian dari banyaknya kepentingan untuk ‘memanfaatkan’ pulau-pulau baru tersebut. Masyarakat berharap agar tanah itu bisa mereka miliki dan gunakan.

 

Sementara tanah itu diklaim dan diambil alih dengan mengembangkan hutan mangrove oleh lembaga negara. Warga menginginkan agar tanah itu bisa digunakan bercocok tanam. Semuanya itu terangkai dalam sebuah film dokumenter berjudul Laut yang Tenggelam (The Drowning Sea).

 

Film produksi Komunitas Perfilman Intertekstual (KoPI) Bandung yang bekerjasama dengan Kantor Bantuan Hukum Purwokerto dan Masyarakat Ujung Alang, Kampung Laut, Sagara Anakan ini berhasil meraih Awards of Excellence untuk kategori New Asian Currents pada Yamagata International Documentary Film Festival (YIDFF) 2007, 4-11 Oktober lalu.

 

Yuslam Fikri Ansari, sang sutradara mengaku lewat ini film ini ingin mengadvokasi masyarakat di sana terkait masalah yang beragam. “Tidak ada niat untuk kompetisi,” tutur Yufik, panggilan akrabnya, beberapa waktu lalu.

 

Awalnya, terang dia, kedatangannya ke sana untuk ‘memotret’ kegiatan perempuan di sana sehubungan dengan perubahan bentang alam. “Tadinya buat film pendidikan dan pengorganisasian. Ternyata di sana banyak fenomena menarik.”

 

Sebelum Yufik dan kawan-kawannya datang ke sana, ternyata sudah banyak pendatang. Bedanya, mereka datang untuk mempertaruhkan hidup. Menjual tanah di daerah asalnya, seperti Karawang dan Ciamis guna memulai hidup baru di atas tanah timbul.

 

“Kita ajak masyarakat merefleksikan diri atas masalah sehingga dapat memberdayakan diri untuk merubah kondisi penghidupan mereka. Aturan soal menempati tanah timbul itu belum ada, terlebih statusnya,” ungkap Yufik yang memang semenjak dahulu tertarik dengan advokasi bidang agraria.

 

Kampung Laut, yang menjadi tempat pengambilan gambar itu, dihuni sekitar 14 ribu penduduk, terdiri dari empat wilayah. Masing-masing, Ujung Alang, Ujung Gagak, Panikel, dan Klaces. Perkembangan penduduk semakin memperluas kawasan-kawasan ini dengan Klaces sebagai pusatnya. Namun sampai saat ini belum tersambung listrik.

 

“Kita bawa-bawa genset,” kenang Yufik yang memproduksi film itu selama 1,5 hingga 2 tahun, semenjak bulan Mei tahun 2005 silam.

 

Film ini tidak banyak menampilkan teks dan narasi. Jalan ceritanya menggunakan teknik lost documentary, di mana dialog dan ekspresi yang diambil lebih spontan dan natural. Setting sutradara tidak menjadi yang utama. Para narasumber dibebaskan bicara mengenai masalah, pandangan, dan harapannya.

 

Berkenaan dengan keikutsertaan film ini di ajang festival sendiri, Moh. Syafari Firdaus sang produser mengatakan, pengiriman film itu lebih untuk menyebarkan pesan yang ada di dalam film tersebut. “Tidak kepikiran buat menang,” papar pria gondrong yang biasa dipanggil Daus ini.

 

Seleksi awal dalam festival ini diikuti 664 film dari 44 negara Asia. Dari 664 film itu, disaring 20 film untuk mengikuti festival yang bersifat kompetisi ini. YIDFF sendiri merupakan festival film dokumenter yang cukup terkemuka. Festival ini digelar dua tahun sekali sejak tahun 1989.

 

Selain New Asian Currents, YIDFF 2007 juga menggelar kompetisi untuk kategori International Competition yang pada seleksi awal diikuti 969 film dari 100 negara.

 

Sebelum Laut yang Tenggelam, sineas Indonesia sudah lima kali berturut-turut mengikutsertakan film dokumenternya dalam festival serupa. Sebut saja, Riri Riza dengan filmnya Merry Go Round (1995) dan Nan T. Achnas dengan filmnya The Little Gayo Singer (1997).

 

Pada tahun 2007 ini, ada satu film Indonesia yang juga ikut serta, yakni Playing Between Elephants karya Aryo Danusiri. “Sepanjang keikutsertaan di YIDFF, Laut yang Tenggelam merupakan film pertama yang mendapat penghargaan,” tegas Daus yang tengah mengusahakan agar film ini bisa turut diputar di bioskop-bioskop Indonesia.

Festival yang bersifat kompetitif itu juga memberikan penghargaan utama (Ogawa Shinsuke Prize) untuk kategori New Asian Currents kepada film dari Cina, Bingai yang disutradarai Feng Yan. Selain mendapat penghargaan utama, Bingai pun meraih Community Cinema Award.

Awards of Excellence diberikan pula kepada film Back Drop Kurdistan yang disutradarai Nomoto Masaru. Film hasil produksi bersama Jepang, Turki, dan Selandia Baru ini pun sekaligus dinobatkan sebagai film pilihan penonton, dan berhak atas Citizens’ Prize. [SP/Adi Marsiela]


Posted by adi on Oct 31, '07 6:00 AM for everyone

Berlibur di Kota Bandung tidak melulu identik dengan belanja dan makan. Wisata belanja - bisa jadi menyenangkan bagi yang memiliki uang – memang masih menjadi primadona buat mereka yang berlibur ke Bandung. Jajaran toko busana disertai aneka ragam jajanan seakan tidak pernah lelah dikunjungi wisatawan.

 

Memang mengasyikan melakukan hal seperti itu. Namun, apa jadinya kalau semua orang memilih Bandung sebagai tujuan wisatanya? Yang ada pastilah kemacetan di mana-mana, mengingat ruas jalan yang pendek dan kecil-kecil di Bandung ini. Konon, Bandung memang dibuat sebagai kota peristirahatan, jadi wajar saja kalau tidak mampu menampung banyak kendaraan pribadi.

 

Baru-baru ini, atau tepatnya tanggal 9 September lalu, saya berkesempatan mengikuti sebuah kegiatan jalan-jalan menikmati sisi-sisi lain Kota Bandung. Selain sarat sejarah, kegiatan rutin yang sudah memasuki tahun ke-empat penyelenggaraannya ini juga dipastikan tidak membuat jalan raya di Bandung menjadi macet dan padat. Nama acaranya Bandung Historical Walk 2007.

 

Kegiatan yang digagas oleh komunitas Bandung Trails ini memang sengaja dibuka untuk mereka yang memiliki ketertarikan dengan sejarah, khususnya Kota Bandung. Tidak disangka-sangka ternyata pesertanya cukup beragam, mulai dari pelajar sekolah dasar, sekolah menengah pertama dan atas, mahasiswa, karyawan, serta ibu rumah tangga.

 

Para peserta ini dibagi ke dalam delapan kelompok, yang masing-masing kelompoknya diberi nama sesuai bangunan-bangunan bersejarah yang masih berdiri di Bandung.  Saya sendiri masuk dalam kelompok de Vries – toko kelontong yang menjual berbagai kebutuhan di persimpangan Jalan Braga dengan Jalan Asia Afrika. Kelompok yang lain mendapatkan nama seperti Preanger, Homann, dan Jaarbeurs.

Pembagian kelompok itu dilakukan pertama kali saat para peserta mendaftar ulang dan berkumpul di Gedung Merdeka, pukul setengah tujuh pagi. Gedung yang awalnya bernama Societiet Concordia ini merupakan tempat berkumpulnya kaum elit Eropa dan penduduk non Asia sekitar tahun 1895. Pada masa itu, berbagai kegiatan seperti teater hingga pelayanan gereja sempat memakai gedung tersebut.

Memasuki tahun 1921, gedung itu direkontruksi oleh C.P Wolf Schoemaker, seorang arsitek Belanda yang konon dilahirkan di tanah Indonesia. Lewat pengetahuan dan daya kreatifitasnya, bangunan ini menjadi sebuah gedung yang eksklusif dan modern untuk di Kota Bandung.

Tubagus Adhi, yang menjadi pemandu kelompok de Vries, mengatakan saat itu hanyalah orang-orang Eropa dari golongan sosial elit yang boleh masuk ke dalam gedung tersebut. Malah di depannya sempat terpasang tulisan kalau Inlander dan anjing dilarang masuk. Sampai-sampai, Schoemaker sendiri yang lahir di Indonesia dilarang masuk ke dalam klub tersebut.

Di dalam sayap timur gedung yang sekarang fungsinya menjadi bagian dan Museum Konferensi Asia Afrika itu, kami menikmati sajian film tentang Bandung tempo dahulu yang dipadukan dengan kondisi saat ini. Film yang disutradarai Garin Nugroho ini juga sempat diputarkan pada saat peringatan 50 tahun Konferensi Asia Afrika, pada tahun 2005 lalu.

“Di bawah sini terdapat tempat penyimpanan sepeda dan pernah juga dijadikan tempat untuk menjagal (anggota Partai Komunis Indonesia) pada tahun 1966,” tutur Adhi menjelaskan kondisi di bawah lantai bagian utama Gedung Merdeka. Usai menonton dan berkeliling di museum, para peserta pun mendapatkan kesempatan mengabadikan kenangannya dengan berfoto bersama.

Selesai dari sana, kelompok de Vries pun melangkah menuju ke titik kilometer 0 (nol) di Jalan Asia Afrika. Titik ini merupakan penanda jarak ke Cileunyi di sebelah timur Bandung dan Padalarang di sebelah baratnya. Di bawah tulisan Padalarang tertera angka 18 dan di bawah tulisan Cileunyi tertera angka 20 yang artinya baru ada istal pada jarak tersebut. Jarak itu pula - yang dipergunakan sampai sekarang – untuk menandai jarak dari dan menuju ke Bandung.

 

Konon di titik yang sama inilah, Gubernur Jenderal Hindia Belanda Daendels yang terkenal kejam menancapkan tongkat kayu di dekat kakinya seraya berkata “Zorg, dat als ik terug kom hier een stad is gebouwd” yang diartikan “Pastikan, ketika aku kembali, aku sudah melihat sebuah kota baru dibangun di sini.”

Berbagai sumber tertulis menyebutkan, Daendels melakukan itu dalam kaitan pembangunan "Jalan Raya Pos" atau Grote Postweg pada tahun 1810-1825. Raja Belanda saat itu, Louis Napoleon memerintahkannya untuk memperkuat pertahanan Belanda di Pulau Jawa untuk mengantisipasi serangan Inggris. Jalan Raya Pos dibangun membentang dari Anyer (Serang, Banten) hingga Panarukan di Jawa Timur.

Peristiwa penancapan tongkat yang dilakukan Daendels, bukanlah tanda dimulainya pembangunan jalan di Bandung ketika itu. Dia menancapkannya setelah mengontrol pembangunan jalan dan menyeberangi jembatan Sungai Cikapundung sebelah barat Gedung Merdeka sekarang.

Daendels adalah orang pertama yang berjalan di atas jembatan yang baru selesai itu. Kemudian dengan ditemani Bupati Bandung, Wiranatakusumah II, Sang Gubernur Jenderal berjalan kaki hingga ke sebuah tempat yang berjarak beberapa meter saja ke sebelah timur dari seberang hotel Savoy Homann sekarang. Di situ dia berhenti, menancapkan tongkat kayunya sambil mengucapkan kalimat pengharapan tentang pembangunan sebuah kota. Tugu itu kini berada tepat di depan kantor PU Bina Marga Jawa Barat.

Di belakang tugu itu berdiri monumen mesin giling jalan atau disebut stoomwalls, yang kemudian disebut setum, Konon, alat bertenaga uap buatan Jerman yang menggunakan bahan bakar kayu ini adalah yang dipakai untuk meratakan dan mengeraskan jalanan tersebut.

Dari sana, de Vries meneruskan perjalanannya ke Grand Hotel Preanger. Bangunan yang dibuat pada tahun 1889 ini awalnya adalah sebuah guest house. Namun pada tahun 1928 dilakukan renovasi oleh C.P Wolf Schoemaker sehingga menjadi bangunan yang lebih besar dengan gaya arsitektur geometric art deco dengan adopsi ornamen suku indian maya.

“Waktu itu Sukarno juga pernah sempat ikut praktek kuliah lapangan bersama Schoemaker,” terang Adhi seraya menambahkan bangunan ini merupakan bahan referensi bagi para arsitek yang ingin mempelajari gaya arsitektur art deco di Indonesia.

Kami juga sempat menikmati keindahan arsitektur hotel tertua di Bandung, Savoy Homann. Tempat yang dahulu dimiliki oleh keluarga Homann dari Jerman sejak tahun 1880 baru mendapatkan renovasi pada tahun 1939 oleh A.F. Aalbers dengan gaya Art Deco seperti yang terlihat sekarang.

Selain sempat menjadi tempat menginap para pemimpin dunia dan delegasi Konferensi Asia Afrika tahun 1955, hotel ini juga menjadi tempat mampir Charlie Chaplin dan Marlyn Monroe ketika berkunjung ke Bandung.

Menyusuri trotoar di depan hotel itu ke arah barat, para peserta bisa menemukan gedung tua yang disebut de Vries. Bangunan gedung bergaya romantik ini adalah bekas toko kelontong pertama di Bandung. Penanda bangunan ini adalah sebuah menara di sebelah sisinya yang dibangun pada awal 1900-an.

Saat ini bangunan tersebut tidak lagi terlihat indah dengan kaca patrinya, karena sudah pecah oleh lemparan batu saat bobotoh Persib mengamuk beberapa tahun silam ke belakang. Kaca-kaca itu sekarang digantikan oleh tembok putih yang bisu dan kusam.

Selain bisa lebih mengenal berbagai gaya arsitektur, jalan-jalan ini juga membuat pesertanya menjadi lebih tahu tentang sejarah kotanya sendiri. Misalnya lewat kunjungan ke makam pendiri Kota Bandung, Raden Wiranatakusumah II (1794-1829) yang letaknya tepat di belakang Masjid Raya Jawa Barat.

 

Sayangnya, kondisi makam ini tidak diketahui oleh sebagian besar peserta. Wajar saja, lokasi makam itu tertutup oleh maraknya pertokoan di sana. Di tempat itu sendiri terdapat 138 makam dari keluarga dan kerabat Wiranatakusumah II. Selain di sini, lokasi makam para bupati Bandung lainnya berjarak sekitar 700 meter ke arah barat di Jalan Karang Anyar.

 

Menurut Cindy Permatasari, Koordinator Acara Bandung Historical Walk 2007, acara ini memang diselenggarakan untuk memperkenalkan sejarah Kota Bandung dan perkembangannya sekarang.

 

Seusai mengunjungi makam Bupati Bandung, para peserta bisa menikmati suasana Bandung dari menara masjid raya di Alun-Alun Bandung. Perjalanan dilanjutkan ke Penjara Banceuy, Sumur Bandung di Gedung PLN, Restoran Braga Permai, Gereja Katedral, Gedung SMP 5 dan 2, Gedung Jaarbeurs, dan berakhir di Gedung Sate.

 

Dalam jalan-jalan ini, peranan seorang pemandu menjadi sangat penting. Informasi yang didapat dari leaflet hanyalah menjadi pegangan yang bisa dibaca kapan saja oleh peserta. Sedangkan informasi tambahan di luar perancang gedung, gaya arsitektur, dan lainnya hanya bisa didapatkan dari pemandu.

 

Misalnya saja, informasi tentang Pendopo Kota Bandung yang sekarang menjadi rumah dinas Walikota Bandung. Adhi yang menjadi pemandu kelompok de Vries mampu mengemas informasi mengenai penataan komplek Alun-alun secara keseluruhan dan peranan pendopo pada masa lalu.

 

Keberadaan lonceng di pendopo juga menjadi menarik, karena ternyata itu adalah alat pemanggil untuk rakyat ketika akan diadakan eksekusi hukuman gantung di depan pendopo atau kantor pemerintahan pertama di Bandung setelah dipindahkan dari Karapyak.

 

“Sebaiknya informasi memang jangan hanya terkait arsitektur bangunan saja, perlu informasi tambahan dari pemandungnya,” terang Ade Mardiah (36), General Manager Hotel Sawung Galing yang menjadi peserta bersama empat orang rekan kerjanya.

 

Menurut Ade, dia sengaja mengikuti kegiatan ini bersama rekan-rekan kerjanya agar mengetahui seluk beluk tentang sejarah Bandung dan juga kekayaan bangunan tuanya. Strategi wisata seperti ini, tambahnya, bisa menjadi daya tarik Kota Bandung yang lain. “Bisa menjadi barang jualan yang menarik,” tambahnya.

 

Penempatan beberapa pos di tengah perjalanan untuk diadakan kuis menjadi kombinasi yang menarik dalam acara ini. Panitia cukup jeli memanfaatkan waktu ini untuk beristirahat bagi peserta yang sudah berjalan kaki sekaligus menyegarkan ingatan setiap peserta mengenai situs-situs atau bangunan sejarah serta jalanan yang sudah dilaluinya.

 

Nuki (43), salah seorang peserta yang merupakan warga Bandung menuturkan wisata atau kegiatan jalan-jalan seperti ini cukup penting. Pasalnya, tidak seluruh orang Bandung sudah mengetahui sejarah kotanya sendiri. “Banyak potensinya,” kata dia yang datang bersama dengan isterinya Vivi (38).

 

Mereka berdua mengaku cukup puas dengan jalan-jalan yang dipungut biaya Rp 50 ribu per orangnya ini. “Tidak mahal, sudah cukup memuaskan. Bisa dapat makan juga, games-games dari panitia juga asik,” terang Nuki yang mengharapkan agar pemerintah memperhatikan kebedaraan dan kelestarian situs-situs yang sudah dikunjunginya.

 

Pengalaman ini senada dengan pengakuan Rina Rahmawati yang baru satu tahun ini tinggal di Bandung. Dia merasa kecewa ketika melihat monumen penjara Banceuy, yang dahulu pernah dipakai untuk menahan Soekarno, Presiden pertama Indonesia. “Tempat bersejarah di tengah-tengah kota, tapi kumuh, banyak tunawisma. Sayang,” ujarnya seraya menikmati makan siang yang diberikan panitia bersama dengan sajian musik dari Klinik Keroncong di komplek Gedung Sate.

 

 

Banyaknya gedung dan jalanan di Bandung yang sarat dengan sejarah ini bisa menjadi salah satu alternatif bagi anda-anda yang merasa bosan dengan wisata belanja di Bandung. Pilihan itu ada di tangan anda, apakah ingin berjalan-jalan dengan menguras keringat tapi mendapatkan banyak wawasan tambahan atau tetap memilih berkendaraan dan menimbulkan polusi? [SP/Adi Marsiela]

 


Posted by adi on Sep 20, '07 3:25 AM for everyone

Paduan suara warga lanjut usia GKI Taman Cibunut menyumbangkan suaranya dalam ibadah bersama pada pembukaan Pertemuan Raya Warga Lanjut Usia yang diselenggarakan di Resort Shalom, Cisarua, mulai Selasa (11/9) hingga Kamis (13/9). Berpartisipasi di paduan suara merupakan salah satu cara membuat hidup semakin berarti di usia lanjut pada kehidupan jemaat gerejawi.

Tua-tua keladi, makin tua makin jadi. Pastilah sebagian dari kita sudah mengenal istilah tersebut. Namun, bagi para lanjut usia yang tergabung dalam jemaat GKI Sinode Wilayah Jawa Tengah istilah tersebut tampaknya kurang pas. Menurut mereka yang turut dalam Pertemuan Raya Warga Usia Lanjut (wulan) di Pine Resort Shalom, Cisarua, 11-13 September 2007, usia semakin tua haruslah semakin berarti.

Pendeta Emeritus GKI Budhiadi Henoch yang membuka acara itu dalam ibadah bersama di GKI Taman Cibunut, Bandung, mengatakan memang sudah seharusnya seseorang yang usianya terbilang lanjut haruslah dapat memberikan arti kepada lingkungan sekitarnya.

"Tua-tua keladi, makin tua makin jadi. Kadang orang tidak tahu usianya sudah tua tapi perilakunya seperti yang tidak tahu usia. Genit untuk laki-laki, merindukan daun muda. Seharusnya semakin tua itu makin berarti," tutur dia di hadapan 150 peserta pertemuan raya dari berbagai GKI di Sinode Wilayah Jawa Tengah dan Klasis Jakarta II.

Ibadah tersebut mendasarkan pada kitab Mazmur 71: 17-18. "Ya Allah, Engkau telah mengajar aku sejak kecilku, dan sampai sekarang aku memberitakan perbuatanMu yang ajaib; juga sampai masa tuaku dan putih rambutku, ya Allah, janganlah meninggalkan aku, supaya aku memberitakan kuasaMu kepada angkatan ini, keperkasaanMu kepada semua orang yang akan datang."

Menurut Budhiadi, 'berarti' dalam usia sudah lanjut itu pertama kali harus diterapkan kepada diri sendiri. Pasalnya, masih banyak orang yang sudah tua namun tidak dapat menerima kenyataan tersebut. "Hidup itu biarkanlah mengalir bagai air," paparnya.

Setiap mereka yang mengikuti pertemuan raya ini, sambung dia, bakal memiliki makna keajaiban yang berbeda-beda untuk masing-masing orang. "Adalah keperkasaan Tuhan yang menjiwai sehingga kita masih bisa melakukan kegiatan gerejawi. Usia bukanlah sebuah halangan untuk bersuka cita dan berkarya. Seperti yang diberitakan dalam Mazmur 71."

Setelah bisa menerima kenyataan dalam diri bahwa usia sudah lanjut, maka sebaiknya kita juga mampu memberikan arti pada keluarga. Menurut Budhiadi, dalam usia yang sudah lanjut memang sering orang tua itu diibaratkan kera. Hidup menclak-menclok dari satu pohon ke pohon yang lain. "Pindah-pindah rumah."

Hal itu, kata dia, merupakan sebuah kewajaran. Para orang tua janganlah menganggapnya sebagai hal yang negatif. "Minimal bisa dijadikan sebagai pusat untuk mengumpulkan keluarga, misalnya kalau Natal. Memperkenalkan sanak famili satu dengan yang lainnya," terang pendeta yang sudah menginjak usia 66 tahun ini.

Usia lanjut juga bukan suatu halangan untuk berkarya di jemaat gerejawi. Memang usia terkadang merepotkan saat harus mengikuti berbagai rapat yang diadakan oleh komisi-komisi atau penatua di gereja. Makanya, kata Budhiahi, yang sudah lanjut usia bisa menjadi pendoa bagi kegiatan gereja. "Berdoa supaya setiap rapat tidak berlama-lama," candanya seraya tersenyum.

Selain itu, warga jemaat yang sudah memasuki usia lanjut bisa memberikan kebahagiaan kepada jemaat lainnya. Misalnya dengan menjadi usher atau penyambut tamu dalam kebaktian. "Itu bisa membuat suasana menjadi hangat antarjemaat."

Masuk ke dalam lingkup yang lebih luas, warga usia lanjut juga dapat berarti bagi masyarakat. "Tidak perlu ingin menjabat sebagai ketua RT atau RW. Kita cukup menjadi juru damai karena itu akan sangat berarti bagi orang lain," tegas Budhiadi.

Menjadi seseorang yang sudah sepuh juga tidak harus seperti sepah yang rasanya sepet. Tidak perlu merasa kesepian dalam menjalani sisa-sisa waktu hidup.

"Manusia memang tidak dapat melawan kodrat. Hidup ini sangat singkat, yang terpenting adalah mutu hidup kita. Daripada umur panjang namun malah buat orang lain susah karena tidak mati-mati."

Mutu Hidup

Refleksi untuk mutu hidup itu dia dasarkan pada pemberitaan Mazmur 92: 13-16. "orang benar akan bertunas seperti pohon korma, akan tumbuh subur seperti pohon Aras di Libanon; mereka yang ditanam di bait Tuhan akan bertunas di pelataran Allah kita. Pada masa tuapun mereka masih berbuah, menjadi gemuk dan segar, untuk memberitakan, bahwa Tuhan itu benar, bahwa Ia gunung batuku dan tidak ada kecurangan padaNya."

Pohon Korma, jelas Budhiadi, memiliki sifat yang tahan di segala musim dan rasa yang manis. Pohon Aras, paparnya, digunakan untuk berbagai macam keperluan di Lebanon. "Begitu kuat dan indah. Kuat tidak harus diartikan fisik tapi rohani. Saya harapkan Anda sekalian tidak absen ke gereja, karena itu adalah cara untuk bertunas dan bertumbuh di pelataran Bait Allah," urai dia seraya berharap pertemuan raya itu tidak hanya berlangsung sekali saja dan tidak menyisakan apa-apa.

Pertemuan raya yang diisi berbagai acara seperti sharing kegiatan antarjemaat, latihan penyusunan program, berbagai ceramah mengenai hidup dan kesehatan ini ternyata mendapatkan respon yang sangat positif.

Dalam kesempatan tersebut, Pendeta Emeritus Stefanus mengatakan orang lanjut usia itu memiliki kebutuhannya sendiri. Mereka berbeda secara kebutuhan psikis dan juga lingkup pergaulan. "Agar tidak loyo, makanya warga usia lanjut butuh teman dalam melakukan kegiatan-kegiatan teknis di lingkungan gereja," paparnya.

Kebutuhan tersebut diakui oleh Lapian (72), salah seorang peserta dari GKI Pamulang. "Saya berharap dengan pertemuan raya ini dapat mengajak mereka yang sudah memasuki usia lanjut untuk tidak malu-malu atau segan bergabung dalam komisi wulan. Makanya perlu yang namanya sharing antara sesama jemaat," terang kakek dari 12 cucu yang menjabat sebagai Ketua Komisi Wulan di GKI Pamulang itu.

Senada dengannya, Happy Hapsari (44) yang menjadi perwakilan dari GKI Nusukan, Solo mengungkapkan para warga usia lanjut memang terkadang membutuhkan refreshing. Pertemuan raya ini, ujar dia, dapat menjadi penghiburan bagi mereka yang sudah mulai terlupakan dari keluarga. "Kebanyakan anak-anak mereka sibuk. Pertemuan ini dapat menjadikan warga usia lanjut bisa lebih berkembang dan lebih mandiri," tuturnya. [SP/Adi Marsiela]


Posted by adi on Sep 4, '07 5:16 AM for everyone
Start:     Sep 7, '07 06:00a
Location:     Hotel Savoy Homann, Jln. Asia Afrika Bandung
Pembicara Sesi I: Prof. Dr. Sudjono Dirjosisworo, S.H., M.B.A., M.M. dan Jaya Suprana.
Pembicara Sesi I: K.H. Abdullah Gymnastiar (Aa Gym), H. Benny Soetrisno, Dipl.Ing. dan K.H. Abdurahman Wahid (Gus Dur).
Seminar tersebut akan dipandu Drs. Imam B. Prasodjo, M.Si.

Posted by adi on Sep 4, '07 5:06 AM for everyone
Start:     Sep 7, '07 2:00p
End:     Sep 9, '07
Location:     Blind Resto-Jl. Pasirkaliki no. 16 C-D (Komp. Grand Eastern)
Dalam rangka membangun kreatifitas & meningkatkan rasa percaya diri kaum tunanetra, BLIND resto bekerjasama dengan PSBN Wyata Guna menyelenggarakan suatu acara charity yang bertajuk “KITA SAMA !”.
akan menampilkan berbagai
pameran hasil karya, ketrampilan & pentas seni dari
para kaum tunanetra diantaranya: teater, band, kecapi
suling, pijat, kerajinan tangan, dll.

Dalam rangkaian acara tersebut juga akan dilakukan penyerahan piagam penghargaan MURI atas keunikan konsep Blind resto & resto pertama yang menggunakan tenaga tunanetra sebagai pramusaji resto.


Posted by adi on Aug 23, '07 8:49 AM for everyone
Start:     Aug 26, '07 09:00a
Location:     Score-Ciwalk Bandung
it's only rock and roll..yes i like it
memperingati 1 tahun berdirinya komunitas Rolling Stone Bandung yang lahir dari permintaan penggemar Rolling Stone di program Radio Mara 106,7 FM.

Posted by adi on Aug 21, '07 3:54 AM for everyone
Start:     Aug 22, '07
Location:     Netra Klinik-Jalan Supratman no 17
Pembukan Netra Klinik-Diskusi soal Konsep Baru Pelayanan Kesehatan Mata
oleh Prof. DR. Gantira N, Spesialis Mata (konsuler) dan Dr. Dewi Trini, Spesialis Mata., Magister Kesehatan.
Jam 12.00-14.00

Posted by adi on Aug 19, '07 2:13 AM for everyone
Start:     Aug 20, '07 03:00a
Location:     BLK Depkes, Jl Sukajadi No 155 Bandung
diskusi publik "Permasalahan Jaringan Pengguna Napza Jawa Barat" yang diselenggarakan oleh LSM Rumah Cemara.
Tanggal : 20 Agustus 2007
Waktu : 09.00 s/d selesai

Narasumber:
Kejaksaan Tinggi Provinsi Jawa Barat
Kantor Kehakiman Provinsi Jawa Barat
Polda Jawa Barat
Yesmil Anwar S.H,Kriminolog
Wirawan S.H, Pengacara

Posted by adi on Aug 11, '07 6:33 AM for everyone
Start:     Aug 25, '07
End:     Aug 26, '07
Location:     Stasiun Pengamat Dirgantara LAPAN-Tanjung Sari-Kabupaten Sumedang
Dalam rangka memperkenalkan dan memasyarakatkan astronomi secara luas kepada khalayak, maka tim rig-k dan HIMASTRON ITB bersama-sama mengadakan acara pertemuan dalam bentuk star party untuk para skywatcher, fotografer yang suka motret langit dan semua orang yang tertarik untuk mengenal astronomi.

Starparty adalah tempat yang tepat bagi pengunjung yang ingin berbagi pengetahuan tentang antariksa. Pengunjung juga bisa memasang teleskopnya di sana. Berbagi ilmu memakai teleskop, peta langit, membidik galaksi, nebula atau objek deep-field lainnya bisa juga dilakukan. Pastinya starparty adalah ajang yang tepat untuk menyalurkan hobi dan rasa ingin tahu pengunjung akan dunia yang kita tempati ini, bumi dan alam semesta.

Posted by adi on Aug 9, '07 7:54 AM for everyone
Start:     Aug 12, '07 12:00a
Location:     Embargo Cafe,Ciwalk
A Mild CreaTips ini akan digelar di pusat keramaian dan tempat nongkrong anak-anak muda di 12 kota besar di Indonesia, yakni di Medan, Padang, Pekanbaru, Palembang, Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Malang, Surabaya, Banjarmasin, Makassar, Pontianak, sepanjang bulan Juli hingga November mendatang.

Pages:12
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help