blabliblupblablop..

adi's posts with tag: budaya

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag budaya
Posted by adi on Mar 7, '08 6:18 AM for everyone
Start:     Mar 28, '08
End:     Mar 29, '08
Location:     Teater Tertutup Balai Pengelolaan Taman Budaya Jawa Barat
Memperingati hari perempuan sedunia 2008, Institut Ungu dan Yayasan Pitaloka mempersembahkan pentas teater monolog berjudul “Perempuan Menuntut Malam”, yang berbicara soal Cinta, Rumah, Sex, Politik dan Kekuasaan.

Pementasan di Bandung, bekerjsa sama dengan mainteater Bandung dan Balai Pengelolaan Taman Budaya Jawa Barat, dilaksanakan tanggal 28 dan 29 Maret 2008 di Teater Tertutup Balai Pengelolaan Taman Budaya Jawa Barat, pukul 19.30 WIB.

Monolog “Perempuan Menuntut Malam” dimainkan: Rieke Diah Pitaloka, Niniek L.Karim, Maryam Supraba.

Conference: 27 Maret 2008, pukul 14.00 WIB di Lobi Teater Tertutup Balai Pengelolaan Taman Budaya Jawa Barat.

DON'T MISS IT!!!!!!
Informasi & Reservasi: Zhu Khie Thian (0813.2064.0929 – 0813.9528.1713)

Posted by adi on Feb 12, '08 6:19 AM for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Banyak orang yang menganggap hidup di dunia ini penuh dengan kerumitan. Kalau Anda termasuk yang seperti itu, tidak ada salahnya sedikit "mengintip" falsafah hidup masyarakat Kampung Bolang, Desa Cibuluh, Kecamatan Tanjung Siang, Kabupaten Subang.

Masyarakat yang bermukim sekitar 70 kilometer sebelah Utara Kota Bandung ini mengibaratkan kehidupan seperti sebuah kolecer (baling-baling). Mainan tradisional yang berputar dan mengeluarkan bunyi ketika angin berhembus. Permainan ini menjadi bagian tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat di sana. Abah Suminta (68), tetua di kampung itu menuturkan, kolecer menggambarkan satu putaran kehidupan manusia di dunia. Ada kalanya hidup di atas dan ada kalanya hidup di bawah.

Kolecer terbuat dari bambu dan kayu yang berbentuk huruf "T".

Bagian horizontalnya akan berputar jika tertiup angin dan bisa mengeluarkan suara seperti degungan ribuan tawon kalau angin cukup besar. "Menantang angin itu seperti menantang diri kita sendiri," kata Suminta di sela-sela prosesi doa syukur Festival Kolecer 2008 yang dibuat bersamaan dengan hajat lembur atau pesta rakyat, Jumat (2/1) lalu.

Selain doa, pembukaan prosesi hajat lembur menyertakan sejumlah penganan, tumpeng, umbi-umbian, leupeut (nasi yang dibungkus dengan daun pisang), ketupat (nasi yang bungkusnya berbentuk kubus terbuat dari anyaman janur kelapa), dan berbagai makanan khas kampung lainnya.

Setiap hidangan memiliki arti. Misalnya, kata Suminta, dua leupeut yang diikat tali menjadi satu merupakan gambaran Yang Maha Penguasa dalam menciptakan segala sesuatu di dunia ini berpasang-pasangan.

Ketupat , ungkap dia, menggambarkan empat arah mata angin yang memiliki satu sumber kekuatan di bagian tengahnya. Petuah bijak yang bisa diambil adalah manusia harus bisa menunjuk salah satu arah mata angin dengan kekuatan batin untuk kehidupan yang akan dihadapinya. Sedangkan umbi-umbian, digambarkan sebagai bekal manusia ketika hidup di dunia.

Makna Nama

Masyarakat yang sudah berkumpul di tengah-tengah kampung juga mengikutsertakan tiga kolecer terbuat dari kayu jati yang diameternya lebih dari lima meter. Usai doa bersama, tiga kolecer dan penganan diarak keliling kampung dan berhenti di lapangan yang pada salah satu sisinya sudah ada tiga tiang bambu, yang menanti dipasang kolecer.

Beberapa detik setelah dipasang, hujan turun dengan lebatnya. Hujan yang turun pada saat prosesi hajat lembur dan ngadegkeun kolecer (mendirikan baling-baling) adalah pertanda baik. Masyarakat pertanian menganggap kolecer hanya bakal dipasang saat musim angin Barat.

Semakin kencang anginnya, semakin kencang putaran dan suara yang dihasilkan kolecer. "Ada kepuasan batin," ungkap Tahwat (53), warga asli Cibuluh yang menggemari kolecer sejak berusia di bawah 10 tahun.

Secara teknis, kolecer yang baik terbuat dari kayu pilihan, sehingga tidak mudah patah. Selain kayu jati, kayu yang sering dijadikan kolecer adalah kayu tisuk, kayu bihbul, kayu surilem, kayu bang bik, dan kayu padok.

Untuk bagian batang dan tiang, terbuat dari bambu gombong (bambu besar). Batang kolecer biasanya berbentuk segitiga yang dihiasi. Masing-masing bagian mempunyai nama. Bagian depan disebut pongpok (kunci) kolecer pada poros (bangbrang), jajabik (hiasan dari bilik bambu), bangbayang (badan kolecer), solobong, bubuntut dan tiang.

Nama-nama itu mempunyai arti tersendiri. Misalnya, pongpok mengandung arti, bagaimana manusia bisa mengunci roda kehidupannya agar tidak melenceng. Bubuntut mengandung arti bagaimana manusia mengendalikan jalan kehidupannya. Sedangkan, jajabig mengambil bagian kehidupan kita yang selalu dihiasi berbagai hal yang bersifat duniawi.

Pesan lainnya juga tergambar dari jumlah batang kolecer. Apabila dua, bermakna pada kesadaran bahwa kehidupan berasal dari dua orang manusia. Bertambahnya usia anak, bertambah juga jumlah batang kolecer.

Memasuki usia dewasa, biasanya kolecer dipasang di atas kayu yang lebih tinggi dan jumlah batangnya menjadi tiga. Dipercaya itu sebagai gambaran atau pemaknaan dari tiga alam di masyarakat Sunda, yakni Buana Larang (alam bawah), Buana Panca Tengah (dunia tengah), Buana Nyungcung (dunia atas).

Filosfi Permainan

Mohamad Zaini Alif, seorang peneliti permainan anak tradisional dari Komunitas Hong menyebutkan papat kalima pancer adalah cara pandang dunia dalam masyarakat Sunda yang erat hubungannya dengan kesadaran kosmologis. Sederhananya, kata dia, kehidupan antarmanusia sebaiknya dijalin sama baiknya dengan hubungan ke Sang Pencipta. Menurut pria yang memiliki nama panggilan Jae ini, setiap permainan yang ada sebaiknya melatih kepekaan manusia. Dia merunut pada ajaran Sunda yang mengungkapkan ingsun dina dada (diri kita ada dalam dada atau hati).

"Sadar atau tidak, orang yang tinggal di kampung, rasa empatinya lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang hidup di kota," tuturnya.

Dijelaskan, biasanya kolecer dimainkan di pematang sawah untuk mengusir burung, tetapi bunyinya dianggap bisa menyenangkan leluhur yakni Dewi Sri (Hyang Pohaci), sehingga padi menjadi subur. Tapi kepercayaan itu telah luntur dan menyebabkan kolecer tidak lagi digunakan untuk keperluan itu.

Mengenai biaya pembuatan kolecer, Tahwat mengaku dirinya rela mengeluarkan uang hingga Rp 2 juta untuk satu buah mainan tradisional itu. "Ini murni kesenangan batin. Penampilan juga indah. Suaranya merdu gitu lho," sambung guru sekolah dasar di SD Cibuluh ini.

Jae menyebut filosofi dalam permainan tradisional itu sudah ada sejak abad ke-15. Hal itu, dia temukan dalam naskah abad ke-15 Saweka Darma Sanghyang Siksakandang Karesian, Amanat Galunggung yang menyebutkan tentang hempul. Hempul adalah orang yang mengetahui aturan permainan, cara membuat, dan filosofi permainan. Namun, kini hempul sudah punah. Tidak ada masyarakat adat di Jawa Barat (Jabar) yang memiliki hempul.

Permainan kolecer bukan sekedar dibuat. Malah dari mainan itu, manusia bisa bersosialisasi, mengatasi kesepian, mengatur keseimbangan otak, dan saling bekerja sama. [SP/Adi Marsiela]

Diterbitkan tanggal 11/2/08

Posted by adi on Jan 21, '08 4:18 AM for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Bentangan kain katun yang didominasi warna hijau sebesar 2,7 meter X 2,7 meter di salah satu sudut Galeri Soemardja, Institut Teknologi Bandung (ITB) itu menyita perhatian saya. Tidak seperti biasanya, kain yang disebut sebagai batik ini menyajikan corak yang berbeda.

Struktur garis serta penempatannya yang saling tindih satu dengan lainnya, membuat kesan arah dan ruang yang dinamis. Ilusi bentuk pun tidak terhindarkan di atas kain tersebut. Seolah-olah segitiga, bujursangkar yang terpola di kain itu bergerak masuk ke dalam.

Batik yang dilukis dengan canting cap, canting tulis, colet dan celup ini merupakan satu dari sekian karya almarhum Hasanudin yang dipajang dalam Pameran Batik Bandung Kontemporer di ITB, 10-12 Januari pekan lalu.

Dalam mengolah batik, Hasan -panggilan akrab almarhum- memadukan berbagai motif batik tradisional menjadi sebuah karya baru dengan konfigurasi yang berbeda. Pengetahuan dan kepeduliannya terhadap batik diperlihatkan dengan mengambil topik penelitian soal itu semenjak sarjana hingga magister di seni rupa ITB.

"Dia pernah berkeliling Pulau Jawa dengan mobilnya selama dua bulan untuk mengumpulkan semua artefak batik," ungkap Prof Yusuf Affendi, kolega almarhum.

Hasan memang memiliki peranan penting dalam pengembangan karya batik, terutama ketika karya tersebut menjadi barang dagangan. Dia menjual karyanya dengan merek "Hasan Batik". Ciri utamanya adalah permainan pola-pola geometris, seperti persegi, lingkaran, dan kotak dengan beragam teknik dan warna dalam satu kain.

Alga Indria, salah seorang panitia menuturkan Hasan dalam melakukan pengolahan motif membakukan struktur motif yang lebih teratur. "Sehingga proses pengulangan yang dilakukan menghasilkan konfigurasi yang berbeda," kata dia.

Selain itu, pria yang pernah menjabat sebagai Ketua Departemen Kriya Tekstil Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ITB ini menciptakan batik tambal. Karya ini pengembangan dari batik-batik tambal di daerah Yogyakarta dan Pekalongan. Pada batik tambal ini, komposisi sangat mempertimbangkan struktur yang teratur. Hasilnya, kata Alga, terciptalah sebuah patch-work batik yang menampilkan efek optik yakni "Memiliki kesan arah dan ruang."

Karya-karya seperti ini, jelas Dekan FSRD ITB, Biranul Anas mencirikan kekinian dalam hal batik. Dia mencontohkan penyebutan batik oleh masyarakat sekarang ini lebih banyak dikaitkan dengan nama pembuatnya. "Misalnya batik Apip, batik Obin, dan lainnya. Individu muncul dalam pembatikan," terangnya.

Hal ini, sambungnya, tidak bisa dilepaskan dari gagasan pembatikan yang dilakukan oleh masyarakat Jawa (baca Kraton) dan juga pesisir. Kekinian yang muncul adalah pengembangan dari corak-corak batik yang sebelumnya sudah ada.

Pengamat budaya, Jacob Sumardjo mengungkapkan batik itu seni lukis. Kanvasnya kain mori dan catnya celupan. Tekniknya menggambar. Batik sebenarnya mirip grafis karena mengandung seni cetak juga.

"Dengan demikian batik tidak dapat dikategorikan dalam seni rupa modern kita. Batik adalah seni rupa pra-modern," kata Jacob.

Menurut Jacob, asal usul batik berasal dari Jawa meskipun seni ini telah menyebar di seluruh Indonesia, Asia tenggara, dan dunia. Penyebutan 'batik' itu berasal dari akar kata "thik".

"Padanannya pada sethitihik, mlethik, titik, thithik, yang berarti kecil, sedikit, percik. Barangkali karena dalam senin batik selalu ada isen-isen berupa titik-titik, baik kecil maupun besar," ujarnya ketika menjadi pembicara dalam diskusi "Membedah Batik Nusantar"' di sela-sela penyelenggaraan pameran.

Alam Pikiran Kolektif

Seni batik, kata dia, tidak dapat dipisahkan dari alam pikir Jawa pra-modern. Karena di dalamnya mengandung alam pikiran kolektif masyarakatnya.

Mengapa kolektif? Jacob mengungkapkan gambar batik yang mengandung alam pikiran itu dibutuhkan oleh masyarakatnya, bukan hanya kebutuhan nilai estetiknya, tetapi juga etik dan spiritual. Makanya, dalam seni Jawa ada tingkat-tingkat nilai.

Pertama, wirogo. "Artinya bentuk wadahnya. Anda boleh terampil membuat satu jenis gambar batik, misal parang rusak, yang bentuknya persis sama seperti dituntut oleh pakemnya (masyarakat). Namun belum tentu punya tingkat keduanya, wiromo," terang Jacob lagi.

Wiromo mengacu pada estetiknya menurut paham kita. Yakni membangkitkan pengalaman rasa dan pikir kita. "Tapi itu juga belum cukup 'seni' kalau belum mencapai tingkat wiroso, rasa sejati atau pengalaman spiritual. Ada daya-daya transenden yang bangkit dari batik itu."

Meski demikian, tidak semua batik dibuat dengan tujuan spiritualitas sampai tingkat wiroso. "Banyak batik yang hanya memenuhi kebutuhan wirogo belaka, yakni kebutuhan profam (duniawi) manusia sehari-hari. Tapi ada juga yang tingkat wiroso diperlukan, misalnya kalau acara pernikahan, kelahiran, kematian, dan sebagainya," tutur dia.

Keterampilan seni semacam ini tidak hanya berlaku pada seni batik, tapi juga seni gerabah misalnya. Ada gerabah untuk memasak sehari-hari, ada juga yang untuk hajatan, sesajen. "Proses pembuatannya berbeda meskipun menghasilkan bentuk wirogo yang sama."

Jacob sendiri memandang seniman batik (empu batik) adalah mereka-mereka yang menciptakan batik dengan daya-daya transenden, spiritualitas, meskipun menyalahi aturan wirogo. Kesalahan itu bukanlah sesuatu yang fatal, kata Jacob. Pasalnya, seperti seniman modern, seniman batik juga memiliki semacam licentia puitica atau hak istimewa untuk "salah".

Karena lewat yang 'beda' atau 'lain' itu, seniman mampu menghadirkan yang transenden. Bedanya, samnbung dia, seniman modern menghadirkan yang transenden dalam wilayah pengalaman dan pikiran (kesadaran), sedang seniman batik benar-benar menghadirkan daya-daya transenden itu.

"Seniman modern menghadirkannya lewat bentuk simbolik, sedangkan seniman batik lewat medium batiknya. Itu juga sebabnya, batik merupakan salah satu benda pusaka, sedangkan lukisan modern tetap benda biasa," ujar Jacob.

Terkait dengan karya-karya Hasan yang sekarang ini lebih banyak dikembangkan dengan merek dagang Batik Hasan, Anas mengatakan tidak ada masalah. "Karena ini semua berkembang dan semenjak awal kriya memang terkait dengan (kebutuhan) pasar," terangnya.

Menurutnya, identitas Indonesia dalam urusan batik tidak akan pudar pada pasar apabila tidak memiliki nilai-nilai transenden. Buktinya, usaha Hasan yang dilanjutkan oleh ketiga orang puterinya Sania Sari, Tri Asayani, dan Rani Tria Rani bisa menyentuh ruang-ruang pribadi orang.

Batik tidak hanya menjadi urusan fesyen. Karyanya juga bisa diaplikasikan pada produk-produk lain seperti pelengkap dekorasi dalam rumah, mulai meja, sofa, hingga partisi ruangan. Batik makin bisa dinikmati dalam tampilan yang lebih modern.

Menyoal judul diskusi yang menyebut-nyebut batik Nusantara, Anas mengatakan, seharusnya dunia kampus khususnya di bidang kriya meredefinisi istilah "batik Nusantara" Pasalnya, pengakuan atas istilah tersebut bisa menimbulkan perdebatan.

Secara sederhana, Biranul Anas, Dekan Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung (ITB) mewacanakan "Nusantara" sebagai sebuah kawasan wilayah yang bukan hanya monopoli Indonesia. "Malaysia, Filipina, juga ada di dalamnya," tuturnya.

Anas juga mengungkapkan penciptaan batik, misal di Jawa Barat, sudah berlangsung semenjak dahulu seperti batik Trusmi dari Cirebon , batik Priangan serta batik Garutan. Dengan berbagai motif seperti parang, sawat, meru, sido mukti, prabu anom, atau kawung, seperti yang dikenal di Solo dan Yogyakarta. Ada juga motif liris seno, naga liman, atau gendongan sunyaragi, seperti yang terdapat pada motif batik Cirebon.

Menurut Anas, penciptaan batik seperti yang dilakukan oleh Batik Hasan lebih terbuka terhadap berbagai gagasan, khususnya dalam hal ide pencorakan. Namun berisiko merambah tidak terkendali sehingga sama sekali kehilangan sentuhan batik.

"Ini yang harus diwaspadai, sebab bagaimanapun, batik adalah sebuah ungkapan budaya yang bertolak dari tradisi kaya dan panjang dalam kebudayaan bangsa Indonesia," tegas Anas yang dikenal lewat karya-karya seni seratnya.

[SP/Adi Marsiela]-published 21/1/08

Posted by adi on Jan 16, '08 6:11 AM for everyone
Start:     Jan 19, '08 6:30p
Location:     Amphitheater-Selasar Sunaryo Art Space
Acara bedah buku almarhum Ivan Burgerkill. Tapi pembicaranya jauh lebih berwarna karena akan mengupas buku ini dari berbagai latar. Cek, ada psikolog Tedy Hidayat, ahli filsafat Ignatius Bambang Sugiharto, ahli sejarah Reiza Dienaputra, vokalis Padi Fadly, dan Kimung sang penulis.

Posted by adi on Jan 9, '08 4:05 AM for everyone
Start:     Jan 23, '08
End:     Jan 27, '08
Location:     Kampung Budaya Sindangbarang, Pasir Eurih, Bogor
Jadwal acara,
Rabu, 23 Januari 2008
ziarah ke Makam Mama H. Ali, Makam Embah Jamaka, Makam Mama H. Abdullah, Makam Abah Lurah Etong

Kamis, 24 januari 2008
Pembukaan Bakti Sosial dan Doa
Proses Khitanan masal (Sudat: salah satu acara mengawali Seren Taun Guru Bumi)

Jumat, 25 Januari 2008
Mengambil air dari 7 mata air (Cai Kukulu)
Upacara Pembukaan Seren Taun (Ngangkat)
Siraman Rohani dalam rangka 1 Muharam
Doa

Sabtu, 26 Januari 2008
Ijab
Sedekah kue (meupeus Kue)
Ngarak Munding (Pelen) untuk disembelih
Penyembelihan Munding
Sedekah daging
Acara hiburan panggung
Hiburan Umum
Kecapi pantun Buhun

Minggu, 27 Januari 2008
Persiapan ngarak Dongdang
Helaran kesenian menuju kampung budaya
Acara inti upacara adat Seren Taun:
- Upacara Majikeun Pare
- Sambutan - sambutan
- Persembahan tarian masal oleh padepokan
- Doa bersama oleh saksi adat
- Berebut isi Dongdang

Warga Sindangbarang menyambut para tamu, rombongan tamu akan dipersilakan untuk menginap di rumah warga setelah mendaftar pada panitia.
Terima kasih atas perhatian Anda.

Salam Hormat,
Pupuhu
Ama Maki
Kontak:
Karbet 0859 2163 6414
Agi 0813 1660 3534

Posted by adi on Jan 8, '08 7:08 AM for everyone
Start:     Jan 10, '08
End:     Jan 12, '08
Location:     Galeri Soemardja, Kampus ITB, Jalan Ganesha 10 Bandung
Jejak-jejak pemikiran Almarhum Drs. H. Hasanudin M.Sn dalam Pengembangan Batik Nusantara

Pameran tersebut ditujukan untuk meningkatkan dan menstimulus apresiasi masyarakat terhadap perkembangan batik, serta membawa kembali batik ke dalam wilayah edukasi yang sarat akan muatan lokal melalui karya-karya Alm. Bpk. Drs. H. Hasanudin, M.Sn.

Pameran akan diadakan pada tanggal 10 – 12 Januari 2008 bertempat di Galeri Soemardja, Kampus ITB, Jl. Ganesha No. 10 Bandung

Kamis 10 jan 2008
19.00 – 21.00
Pembukaan Pameran
-prosesi pembukaan pameran
-pemutaran video profile batik bandung
-fashion show batik bandung

Jum’at 11 jan 2008
13.30 – 16.30
Dialog “ Membedah Batik Nusantara”
Pembicara:
1. Prof. Yususf Affendi
2. Prof. Jacop Sumarja
3. Dr. Biranul ANas
4. H. Afif Syakur

Sabtu 12 jan 2008
09.00 – 17.00
Demo Batik
Demo pembuatan cap Batik

Informasi selanjutnya dapat menghubungi Panitia Pameran Batik Bandung Kontemporer
Jl. Cigadung Raya Timur 136 Bandung. Ph. +62.22.2501029
Jl. Muararajeun Baru II No. 18 Bandung. Ph. +62.22.7272043
Sania Sari – 0818464354
Alga Indria – 0818921766 / 022 -70969774

Posted by adi on Sep 14, '07 11:09 AM for everyone

Pernahkah Anda bertanya-tanya di dalam hati, bagaimana sebenarnya asal-muasal kita ini? Pertanyaan sederhana ini ternyata masih belum dapat dipastikan jawabannya oleh para pakar dan peneliti secara ilmiah.

Temuan kerangka tengkorak Toumai di Danau Chad, Afrika sekitar 6,5 juta tahun lalu serta temuan tulang paha Orrorin tugenensis di Kenya sekitar 6 juta tahun masih belum mampu mengungkap tabir misteri tersebut.

Kedua penemuan itu menjadi benang merah dalam pameran dan warisan prasejarah dari kepulauan-kepulauan Asia Tenggara. bertema "First Islanders" di Campus Centre Institut Teknologi Bandung (ITB) yang berlangsung semenjak 5 September hingga 5 Oktober 2007 mendatang.

Kedua temuan penting dalam bidang paleontologi atau antropologi itu ditampilkan secara berjejer dalam ilustrasi foto. Keduanya berdasarkan hasil penelitian dipercaya merupakan nenek moyang manusia yang berdiri di atas dua kaki, seperti kita sekarang ini.

Indonesia sendiri memiliki peranan besar dalam pameran ini. Penyebabnya, tiada lain adalah temuan dari dokter sekaligus antropolog Belanda, Eugene Dubois di balik endapan Pleistocene di Jawa Timur dekat Kedung Broeboes dan Trinil. Rasa penasarannya akan kabar temuan tulang belulang di daerah itu membuat Dubois melakukan penggalian di sana.

Dia berhasil menggegerkan dunia lewat temuan berupa tengkorak dan paha Pithecantropus erectus yang dipresentasikan pertama kali di Prancis pada tahun 1900. Temuan itu merupakan salah satu specimen Homo erectus, satu diantara garis dan cabang keturunan nenek moyang manusia modern yang pertama kali meninggalkan benua Afrika.

Kerangka tengkorak lain yang cukup menarik untuk diperhatikan adalah tengkorak kepala bayi yang diperkirakan sudah berusia 1,5 juta tahun lalu. Tengkorak Homo erectus dari seorang bayi yang diambil dari Mojokerto, Jawa Timur ini diperkirakan berusia 1,5 juta tahun lalu dan merupakan yang termuda dari yang pernah ditemukan di dunia.

Para peneliti yang tergabung dalam jejaring Human Origins Patrimony in Southeast Asia (HOPsea) ini membagi pameran ke dalam empat segmen besar, Evolusi, Migrasi, Adaptasi, dan Sapiens. Beberapa tengkorak dan kerangka yang disebut di atas dapat kita 'nikmati' dalam segmen Evolusi.

Kawasan Asia Tenggara, jelas Andri Purnomo, peneliti muda Indonesia pada Museum National D'histoire Naturelle (Prancis) merupakan laboratorium yang fantastik untuk mempelajari paleobiodiversitas, termasuk keturunan genus Homo. "Sudah menjadi rahasia umum 40 persen temuan fosil ada di Sangiran," terang dia.

Sangiran yang disebut-sebut oleh Andri adalah nama sebuah daerah di Jawa Timur yang mendapatkan banyak kunjungan dari peneliti luar negeri karena 'kekayaan fosilnya'. Jejak itu bisa kita dapatkan dalam jajaran ilustasi dan replika fosil di ruang pameran.

Human Origins Patrimony in Southeast Asia (HOPsea) memang sengaja menggelar pameran fosil dan warisan prasejarah dari kepulauan-kepulauan Asia Tenggara ini. Pasalnya, temuan yang didapat dari Indonesia banyak yang 'dibawa' ke luar negeri untuk diteliti.

Peneliti pada Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional, Amelia mengatakan apabila tidak ada pameran seperti ini maka kecil kemungkinannya bagi masyarakat Indonesia untuk melihat kekayaan cagar budaya.

"Karena untuk membawa artefak dari satu daerah ke satu daerah lain di Indonesia saja harus ada perijinan segala. Apalagi yang sekarang antar pemerintah," terangnya.

Membuka Wawasan

Pameran ini juga bakal membuka wawasan kita mengenai napak tilas perjalanan manusia hingga akhirnya dapat tiba dan berkembang di Asia Tenggara. Runtutan peristiwa ini bisa kita amati dalam segmen Migrasi, yang menggambarkan adanya perubahan besar pada aspek geografi dan iklim pada beberapa juta tahun terakhir di kawasan itu.

Pada masa lampau, Kepulauan Sunda ternyata sering terhubungkan dengan Asia daratan oleh jembatan darat akibat surutnya samudra. Banyak alur laut menyempit yang memungkinkan fauna darat menyeberang atau berpindah tempat.

Kondisi ini menjelaskan persebaran manusia di kepulauan dan membantu kita memahami hunian-hunian purba pada pulau-pulau terpencil. Homo erectus tertua mencapai pulau Jawa segera setelah kedatangan mamalia pertama di sekitar 1,5 juta tahun yang lalu.

Terkait dengan kondisi iklim saat itu, para peneliti mempelajarinya dari sebuah kulit kura-kura raksasa yang sudah menjadi fosil dan ditemukan di kubah Sangiran, Jawa Timur. Kedatangannya ke pulau Jawa-dari rekaman di batoknya-diperkirakan sekitar 2 juta tahun lalu.

Andri memberi contoh lain. Fosil kuda nil, Hexaprotodon sivalensis yang ditemukan di Bukuran, kubah Sangiran. Dengan mempelajari fosil berusia 1,2 juta tahun itu, para ahli bisa mengetahui bagaimana kondisi iklim saat itu.

"Kuda nil tidak mungkin hidup di suhu dingin. Diperkirakan juga suhu di Jawa saat itu lebih hangat daripada tempat asal mulanya. Sehingga mencari makan lebih mudah dengan bergerak ke arah selatan, seperti Jawa," ujar dia.

Mengenai makanan yang tersedia, para peneliti mempelajarinya dari temuan rahang atau gigi. Semakin tinggi sebuah mahkota gigi baik pada manusia atau hewan maka bisa disimpulkan makanan yang dikunyahnya sudah semakin lunak.

Selesai mengamati evolusi dan migrasi, kali ini asal muasal manusia bakal dibahas dari cara mereka menyesuaikan diri dengan lingkungan pada masanya dahulu. Ternyata pada saat beradapatasi, seringkali ada perubahan yang tidak dapat disangka-sangka. Misalnya, temuan Dwarf stegodon di Timor.

Gajah purba ini tingginya hanya seukuran manusia namun gadingnya cukup besar dan mampu menanduk hingga kita terpental jauh. Ternyata, proses kehidupan dalam lingkungan khusus berimplikasi pada tingkah laku yang adaptif.

Khusus untuk konteks kepulauan, setiap pulau memiliki karakter anatomi dan sejarah evolusinya sendiri. Misalnya, hewan yang mengalami pengkerdilan atau pembesaran secara spektakuler.

Contoh lain proses adaptasi yang mendapatkan perhatian dunia adalah temuan Homo floresiensis di Liang Bua, Flores. Pada pameran ini ditampilkan tengkorak kepala dari manusia Flores yang memang cukup mungil itu. Terlepas dari kontroversi yang masih diperdebatkan oleh para ahli soal temuan tersebut, pameran ini hanya memberikan gambaran awal proses pencarian jati diri manusia.

Pada bagian terakhir, pengunjung disuguhi dengan penelusuran jejak spesies Homo sapiens sebagai penjelajah di kepulauan Asia Tenggara. Dalam pameran ini diperlihatkan antara lain fosil yang ditemukan di Gua Tabon, Filipina, hampir 20 ribu tahun lalu, ataupun kuburan manusia di Gua Song Terus, Punung, Pacitan, Jawa Timur, sekitar 10 ribu tahun lalu.

Pameran First Islanders yang digarap selama tiga tahun dan melibatkan lima negara dalam jaringan kerjanya ini terbuka untuk umum. "Kami mengharapkan masyarakat di luar mahasiswa terdorong untuk mengetahui dan menumbuhkan kepedulian soal budayanya sendiri," papar Christine Hertler, ahli paleobiologi dari J W Goethe University, Jerman.

Antusiasme

Sayangnya, antusiasme masyarakat terhadap hal-hal seperti ini masih kurang. Banyak yang menganggap ilmu seperti arkeologi dan sejenisnya tidak mampu menghidupi. Yahdi Zaim, ahli geologi ITB menjelaskan secara keilmuan, paleontologi atau antropologi mungkin masih kurang populer di telinga masyarakat Indonesia. "Apalagi masih susah orang cari makan dari ilmu ini," katanya.

Karena itu, dengan pameran ini, kata dia, diharapkan masyarakat dapat mengerti betapa pentingnya sebuah temuan sejarah, meskipun kecil. "Dari situ, masyarakat bisa tertarik dan memiliki rasa memiliki serta tanggung jawab," katanya.

Hal senada disampaikan oleh Anne Marie Semah, peneliti dari Institut de recherche, Prancis. Keberhasilan pameran seperti ini, sambungnya, dilihat dari seberapa banyak anak-anak yang datang berkunjung.

"Kalau sampai anak-anak datang dan banyak bertanya, berarti pameran ini berhasil. Ajang ini sekaligus untuk menumbuhkan minat mereka mempelajari atau mengenal budayanya sendiri."

Apabila semua sudah mengenal dan mengetahui pentingnya temuan-temuan atau fosil maka kekhawatiran tentang pengambilan dan penjualan fosil secara tidak bertanggungjawab seperti di Sangiran dapat dikurangi atau ditinggalkan sama sekali.

Francois Semah, ahli palaeolitik, prasejarah Asia dan Eropa dari Museum National d'histoire Naturelle Prancis mengatakan pameran ini merupakan hasil kerja dari para peneliti, pengajar, serta mahasiswa Indonesia, Filipina, Prancis, Belanda, dan Jerman.

Anggota HOPsea yaitu Museum National d'histoire Naturelle, Institut Teknologi Bandung, Ikatan Ahli Arkeologi, National Museum of the Philippines, University of the Philippines Diliman, Johann Wolfgang Goethe Universitat, Senckenberg Forschungsinstitut und Naturmuseum Frankfurt, Naturalis Nationaal Natuurhistorich Museum, dan Centre for Prehistoric and Austronesian Studies Indonesia.

Setelah digelar di ITB, pameran akan dilanjutkan dengan keliling Prancis, Filipina, dan negara lainnya. Setelah itu, sebuah seminar internasional akan diadakan di Paris pada bulan Desember 2007 dengan tujuan untuk mengambil kesimpulan dari pameran tersebut serta dampaknya terhadap publik. [SP/Adi Marsiela]

Published: 14/9/07


Posted by adi on Jun 11, '07 9:33 AM for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Sebuah kebudayaan apabila ditata dengan baik akan menghasilkan apresiasi yang baik pula. Lihat saja, peristiwa Ruwatan Bumi yang berlangsung di Desa Bantarmara, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Sumedang, Rabu (30/5) lalu.

Sekitar 500 kepala keluarga di sana mengumpulkan uang antara Rp 5.000 hingga Rp 20.000 guna memeriahkan beragam acara yang dirancang oleh komunitas masyarakat adat Sumedang Larang. Kegiatan dimulai dengan ziarah ke makam leluhur Soemadilaga, ampih pare (memasukkan padi ke lumbung), hajat tumpeng (pesta tumpeng), numbal bumi, numbal lemah cai, saweran, hingga menyembelih kambing.

Semuanya dilakukan semata-mata sebagai bentuk ucapan syukur kepada Sang Pencipta, Sayangnya, di saat yang sama masyarakat di sana tengah berusaha membenarkan saluran irigasi mereka yang rusak akibat adanya longsor. Rekayasa budaya yang tidak mengakar di masyarakat memang baik untuk menciptakan sebuah komoditas wisata. Namun, alangkah baiknya jika sebuah kebudayaan itu lahir sebagai bentuk ekspresi masyarakat.

Saya berhasil mengabadikan kegiatan itu, beberapa diantaranya bisa dilihat di sini. Selamat menikmati

Posted by adi on May 25, '07 7:44 AM for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
susah motretnya gelap euy...sayang..

Posted by adi on May 25, '07 7:36 AM for everyone
Bahasa tubuh atau gesture memang layak mendapat sebutan sebagai bahasa universal. Sebuah bahasa sederhana yang mampu menembus batas-batas perbedaan daerah bahkan rasionalitas.

Konsep itu pula yang coba diangkat oleh grup sandiwara boneka C Koi Ce Cirk asal Perancis. Dalam pergelarannya di Auditorium CCF, Selasa, 22 Mei 2007 kemarin, boneka-boneka yang tidak berbicara dengan bahasa ibunya itu mampu memberikan sebuah hiburan segar yang terasa baru.

Kebaruan itu coba ditampilkan oleh Ludovic Harel, Eglantine Le Coz, Maud Beraudy, dan Jerome Guillot di depan sebuah panggung berlatar hitam. Mereka memainkan boneka-boneka berbentuk bulan sabit, ikan, ular, laba-laba, semut, hiu martil, jamur, bunga, kupu-kupu, sampai lebah dengan sebuah teknik pencahayaan yang memikat dengan bantuan sinar ultra violet. Glow in the dark, mungkin itu istilah yang tepat.

Grup yang lahir pada tahun 2001 ini mempersembahkan pertunjukkan mereka kepada remaja dan juga kaum muda, bahkan anak kecil sekalipun bisa mengapresiasinya.

Cerita bisu penuh warna-warni itu sendiri awali oleh rutinitas bulan sabit yang memahat bintang dengan menggunakan palunya. Satu persatu bintang itu menerangi panggung yang gelap. Di tengah keasyikannya, sang bulan kebingungan karena palunya hilang, dia pun melayang-melayang melawan hukum gravitasi sampai akhirnya tiba di bumi.

Ternyata di bumi, sang bulan yang ukurannya lebih besar dari postur orang dewasa ini menemui banyak hal baru. Kupu-kupu, lebah, bunga, dan jamur-yang lagi-lagi penuh warna-warni itu-memukau bulan. Bahkan dia sampai mabuk sempoyongan sehabis mencium aroma jamur.

Kelucuan sendiri semakin terasa saat bulan berhadapan dengan ular cobra yang ukurannya tidak kalah besar dengan tubuhnya. Untung saja, lebah datang membawakan seruling yang membuncit di bagian tengahnya, seperti suling-suling yang banyak dipakai pawang ular di India. Dari pemahat bintang, jadilah bulan sebagai pawang ular.

Pertemuan bulan dengan semut di bumi ternyata memberikan keuntungan tersendiri. Pasalnya, dia harus berhadapan dengan laba-laba berkaki delapan yang jahat dan menyerangnya. Untung saja semut mau berkorban untuk bulan.

Dia pun melanjutkan perjalanannya ke dalam laut. Mimik bulan semakin lucu ketika dia harus mengenakan masker dan snorkel (alat pernafasan). Di alam bawah air itu, bulan juga menemukan cintanya, sang bintang laut. Mereka berdua bahkan sempat berciuman dan menari bersama layaknya anak remaja yang baru jatuh cinta, lengkap dengan rona pipi yang memerah.

Kejelian para pemain boneka ini patut diacungi jempol. Selain hanya memainkan bonekanya dengan tangan, tampilannya secara visual cukup memukau mata. Kisah itu sendiri ditutup dengan pertemuan antara hiu martil dengan sang bulan. Ternyata palu yang selama ini dicarinya, ada di mulut ikan tersebut.
Menemukan palunya, sang bulan pun kembali melayang ke langit. Dia kembali duduk dan memahat bintang untuk menerangi malam-malam kita di dunia

Posted by adi on May 24, '07 9:21 AM for everyone
 Pameran fotografi mode (baca: busana) tidak harus identik dengan tampilan model cantik. Topi, kerutan baju, stocking (pelapis kaki), anting, sepatu, dan aksesoris lainnya bisa menjadi detil dari sebuah foto mode yang seksi atau memiliki kisah tersendiri.

Lewat cara inilah, Wilfrid Rouff mencoba mengekspresikan persepsinya tentang dunia fashion dari balik rana kameranya. Dia tidak berusaha menggambarkan kecocokan sebuah busana dengan orang yang memakainya, melainkan mengeksplorasi hasil fotonya agar dapat memaksimalkan rancangan atau aksesoris yang melengkapi busana itu.

Padahal, fotografi dalam dunia fashion menjadi aspek yang penting. Satu hal yang paling sederhana untuk mempublikasikan karya atau rancangan yang terbaru dari seorang desainer.

Lihat saja karyanya yang berjudul “Kelly”. Rouff sengaja memotret dengan sudut ekstrim dari depan sang model yang mengenakan topi berwarna orange. Lewat komposisi berdiri, dia seakan ingin menegaskan bahwa topi yang bertabur payet-payet itu memang indah digunakan sebagai sebuah aksesoris.

Wajah sang model sendiri tidak diungkapnya. Fotografer kelahiran tahun 1951 ini hanya mengambil gambar dari bagian hidung ke bawah, sedangkan bagian atas atau dua pertiga dari foto berformat vertikal itu ditutupi oleh topi.

Ketertarikan Rouff akan kekayaan aksesoris guna meningkatkan tampilan seseorang, ia tampilkan dalam karya lainnya berjudul ‘Patou’. Masih dalam format berdiri, dia mengambil gambar muka seorang perempuan dengan cadar berpola polkadot hitam. Cadar itu sendiri terlihat dengan jelas seperti sebuah jaring laba-laba.

Bukannya memperburuk atau merusak riasan sang model yang memang sudah terlihat cantik, cadar polkadot itu malah menambah kesan misterius dari sang pemakainya. Fungsi publikasi dari foto ini menjadi semakin terasa meskipun hanya terfokus pada bagian wajah sang model.

Dua foto tadi hanya sebagian kecil saja dari 45 buah foto karyanya yang turut dipamerkan di Galeri Soemardja, Institut Teknologi Bandung (ITB). Kurator galeri tersebut, Wiyoga Muhardanto menuturkan karya-karya Rouff terlihat lebih spesifik atau mengkhususkan diri dalam memandang dunia adibusana.

Gagasan berkarya Rouff, terangnya, adalah dengan melakukan cropping images (pemotongan gambar). Memang sebagian besar karya yang dipamerkan ini tampak seperti dipotong, entah di bagian kepala, kaki, atau malah di bagian (maaf) buah dada sang model.

Namun, jika kita mengingat esensi berbusana adalah sebagai sebuah cara menutupi malu atau meningkatkan kepercayaan diri seseorang yang mengenakannya, maka pemotongan gambar yang dilakukan Rouff tidak akan terasa menganggu. Pemotongan itu lebih terasa sebagai sebuah ‘jurus’ untuk mendramatisir hasil fotonya.
Jurus itu sangat terasa pada karyanya yang diberi judul ‘Ungaro’. Terlihat di foto itu kalau sang perancang memang memberikan kesan glamour  pada karyanya dengan memberikan banyak kerutan di busana yang digunakan oleh sang model, lengkap dengan bunga berwarna emas, serta membawa baquet bunga matahari.

Namun dia, malah memotong bagian kepala sang model dan hanya menampilkan bagian tengah rancangan tersebut lengkap dengan bunga-bunganya. Keindahan dan keanggunan busana tersebut juga tidak terasa berkurang.

Keunikan Rouff dalam mempresentasikan karya-karyanya ini tidak terlepas dari pencariannya dalam dunia seni. Dia juga aktif menciptakan pertunjukkan dan menjadi pembicara dalam bidang seni. Selain itu dia juga membuat karya video, situs seni, dan berkolaborasi dengan seni-seni yang lain.

Salah satu karyanya yang cukup menarik perhatian pengunjung pameran adalah ‘Yves Saint-Laurent’. Rouff mengabadikan gambar seorang model yang tengah mengikat tali sepatunya yang memiliki lebar seperti pita untuk mengikat rambut anak-anak pada tungkai kakinya.

Saat gambar diambil, sang model tengah menunduk dengan posisi sepatu kiri yang hendak diikatkan talinya itu menyilang sembari naik ke atas papan di depan kakinya yang kanan. Keanggunan seorang model sangat terwakilkan dalam gaya mengikatnya.

Tidak hanya itu, penampilannya dengan mengenakan setelan celana dan kemeja lengan panjang yang dilengkapi warna merah dan biru garis-garis vertikal membuat komposisi warna dari foto itu cukup kaya. Ditambah lagi, potongan topi bundar yang menutupi wajah sang model berwarna kuning.

Gaya model itu membawakan busana sudah cukup terwakili dalam foto tersebut. Dia tidak perlu lagi melenggak-lenggok di atas catwalk. Pasalnya, lekukan, kenyamanan sang model dalam mengikat tali sepatunya sudah menunjukkan betapa cantiknya rancangan itu. [Adi Marsiela]
 
 

Posted by adi on May 18, '07 3:19 AM for everyone

Beragam cara orang memaknai dan mengungkapkan rasa. Tenunan dan rajutan benang yang dipadukan dengan teknik tempelan (collage) menjadi pilihan Biranul Anas dalam memuji kebesaran Sang Pencipta.

 

Lihat saja karyanya yang bertajuk ‘Godaan di Lahan Meranggas’, di situ tampak kegairahan seekor cendrawasih dan merak yang ingin menggoda pasangannya masing-masing. Mereka berdua bertengger di sebuah dahan tanpa dedaunan. Warna kuning dan merah dari kedua burung itu, terpancar mendominasi warna coklat muda yang menjadi warna latar dari karyanya.

 

Karya lainnya, ‘Bara di Tanah Zamrud’ menunjukkan betapa komitmen Anas dalam seni serat yang sudah digelutinya semenjak tahun 1970-an. Dia memadukan batang-batang dan ranting kayu yang sudah kering dengan benang menjadi sebuah pohon berwarna merah, sekali lagi tanpa daun.

 

Kegelisahannya akan kehancuran alam Indonesia tampak dalam karya itu. Menurut Anas seharusnya tidak ada pohon yang mati di Zamrud Khatulistiwa ini. Idealnya, pohon itu penuh dengan daun-daun hijau yang menyejukkan badan dan jiwa. Keindahan bunga, burung-burung, senja, dan bentuk yang ada dalam benaknya menjadi benang merah proses kreatif Anas.

 

Dua karya Anas tadi merupakan bagian dari pameran tunggalnya “Serat-Serat Budaya” yang digelar di Selasar Sunaryo Art Space, Bandung dari tanggal 4 hingga 20 Mei 2007.

 

Meskipun karya-karyanya cenderung tampil dalam format vertikal, Anas tampaknya tidak terjebak dalam sebuah bentuk yang geometris dan dekoratif. Dia mengolah warna dan bentuk dengan material yang hanya diikat. Teknik ini merupakan teknik tapestry (permadani) yang paling tua dalam seni serat.

 

Dia menggabungkan berbagai komponen seperti benang, daun kering, bambu, rotan, dan lainnnya di atas tenun. Jim Supangkat dalam kurasinya menyatakan Anas berhasil mengembangkan teknik ikatan, teknik tenun, rajutan, dan mengolahnya menjadi bahasa ungkapan untuk membangun gambaran yang nyaris realistik.

 

Motif-motif yang tampil dalam karya Anas mengandung berbagai makna dan pesan yang tidak semuanya ada pada teknik tenun. Gambaran bunga pada kain tradisional Jawa, misalnya adalah gambaran yang dikerjakan dengan teknik batik. Anas mengungkapkan kembali gambaran bunga dengan teknik batik ini dengan teknik tenun.

 

Perjalanan Anas dengan seri seratnya sendiri sudah dimulai semenjak tahun 1970-an. Saat itu, dia mengandalkan teknik simpul atau macramé. Lepas masa itu, dia mencoba teknik-teknik lain, terutama tenun (tapestry), sulam, dan tempelan (collage). Tahun 1990-an hingga sekarang, dia mencampuradukkan berbagai teknik itu demi menguatkan gagasan yang diusung.

Obyek yang diangkat dalam karya juga berkembang. Hal yang sama diakui oleh Jim Supangkat. Bermula dari tema abstrak yang menonjolkan teknik sulaman berwarna monokrom, dia menjamah corak impresif dari alam semesta. Belakangan, ia kepincut pada obyek bunga, dalam berbagai bentuknya.

 

Dia tak sungkan membalut bentuk bunga dalam paduan warna yang cerah ceria, bahkan acap terasa “manis” melebihi kenyataannya, semisal daun yang dianyam bersama benang pada tulang-tulangnya. Hal ini dia tuangkan dalam ‘Suar Alam 1’, ‘Black Garden 3’, ‘Putik Mas’, dan ‘Anyaman Alam’.

 

Anas mengenal seni serat sejak belajar desain tekstil di ITB. Salah satu dosennya, Yusuf Affendi—yang baru datang dari studi desain tekstil di Rochester Institute of Technology, Amerika Serikat—dikenal sebagai perintis seni serat kontemporer sejak pertengahan tahun 1970-an. Tetapi, Anas mengaku benar-benar menyadari potensi serat sebagai ekspresi seni saat mengikuti kursus desain tekstil di Osaka, Jepang, tahun 1974-1975. Ketekunannya pada seni serat menghantarnya ke berbagai pameran sampai sekarang. Dia juga menjadi satu-satunya orang dari Indonesia yang pernah mengikuti Triennale Tapestry di Polandia.


Perjalanan seni serat Anas dan perupa lainnya di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari tumbuhnya cara pandang baru di arus utama dalam melihat gejala rupa. Pemandangan baru itu mulai nampak pada akhir 50-an dan awal 60-an. Di masa itu istilah new fiber (seni serat baru) telah menjadi pembicaraan di Amerika dan Eropa Tengah, salah satu produknya tenunan tapestry.

 

Gelombang besar perubahan ini menaikkan citra baru seni serat. Pada 1969 untuk pertama kali, dibawah bendera Seni Serat Kontemporer Amerika, seni serat masuk ke ruang pamer bergengsi Museum Seni Modern, New York City. Sebelumnya pada 1962, telah berlangsung International Biennial of Tapestry di Switzerland.

 

Karya-karya Anas menyiratkan semangat multikulturalisme. Dengan keterampilan tinggi, dia meracik berbagai elemen rupa dari kebudayaan asing dan lokal. Ornamen tradisional yang dekoratif dan dibuat dengan keterampilan teknis diangkat dan dipadukan dengan seni tenunan tapestry yang berlatar belakang sejarah Barat.

 

Anas lincah meramu berbagai material—seperti bambu, rotan, kayu, dan manik-manik—menjadi jalinan serat yang menyuarakan gagasan tentang perenungan batin, impresi semesta, atau penghargaan terhadap perempuan.

 

Karya dan proses kreatif seniman ini termaktub dalam buku tulisan Jim Supangkat-Rizky Ahmad Zaelani, Ikatan Silang Budaya: Seni Serat Biranul Anas, yang diluncurkan tahun 2006 lalu. [Adi Marsiela]


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help