blabliblupblablop..

Jepret Sana Jepret Sini

Posted by adi on Jan 21, '08 4:18 AM for everyone
Bentangan kain katun yang didominasi warna hijau sebesar 2,7 meter X 2,7 meter di salah satu sudut Galeri Soemardja, Institut Teknologi Bandung (ITB) itu menyita perhatian saya. Tidak seperti biasanya, kain yang disebut sebagai batik ini menyajikan corak yang berbeda.

Struktur garis serta penempatannya yang saling tindih satu dengan lainnya, membuat kesan arah dan ruang yang dinamis. Ilusi bentuk pun tidak terhindarkan di atas kain tersebut. Seolah-olah segitiga, bujursangkar yang terpola di kain itu bergerak masuk ke dalam.

Batik yang dilukis dengan canting cap, canting tulis, colet dan celup ini merupakan satu dari sekian karya almarhum Hasanudin yang dipajang dalam Pameran Batik Bandung Kontemporer di ITB, 10-12 Januari pekan lalu.

Dalam mengolah batik, Hasan -panggilan akrab almarhum- memadukan berbagai motif batik tradisional menjadi sebuah karya baru dengan konfigurasi yang berbeda. Pengetahuan dan kepeduliannya terhadap batik diperlihatkan dengan mengambil topik penelitian soal itu semenjak sarjana hingga magister di seni rupa ITB.

"Dia pernah berkeliling Pulau Jawa dengan mobilnya selama dua bulan untuk mengumpulkan semua artefak batik," ungkap Prof Yusuf Affendi, kolega almarhum.

Hasan memang memiliki peranan penting dalam pengembangan karya batik, terutama ketika karya tersebut menjadi barang dagangan. Dia menjual karyanya dengan merek "Hasan Batik". Ciri utamanya adalah permainan pola-pola geometris, seperti persegi, lingkaran, dan kotak dengan beragam teknik dan warna dalam satu kain.

Alga Indria, salah seorang panitia menuturkan Hasan dalam melakukan pengolahan motif membakukan struktur motif yang lebih teratur. "Sehingga proses pengulangan yang dilakukan menghasilkan konfigurasi yang berbeda," kata dia.

Selain itu, pria yang pernah menjabat sebagai Ketua Departemen Kriya Tekstil Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ITB ini menciptakan batik tambal. Karya ini pengembangan dari batik-batik tambal di daerah Yogyakarta dan Pekalongan. Pada batik tambal ini, komposisi sangat mempertimbangkan struktur yang teratur. Hasilnya, kata Alga, terciptalah sebuah patch-work batik yang menampilkan efek optik yakni "Memiliki kesan arah dan ruang."

Karya-karya seperti ini, jelas Dekan FSRD ITB, Biranul Anas mencirikan kekinian dalam hal batik. Dia mencontohkan penyebutan batik oleh masyarakat sekarang ini lebih banyak dikaitkan dengan nama pembuatnya. "Misalnya batik Apip, batik Obin, dan lainnya. Individu muncul dalam pembatikan," terangnya.

Hal ini, sambungnya, tidak bisa dilepaskan dari gagasan pembatikan yang dilakukan oleh masyarakat Jawa (baca Kraton) dan juga pesisir. Kekinian yang muncul adalah pengembangan dari corak-corak batik yang sebelumnya sudah ada.

Pengamat budaya, Jacob Sumardjo mengungkapkan batik itu seni lukis. Kanvasnya kain mori dan catnya celupan. Tekniknya menggambar. Batik sebenarnya mirip grafis karena mengandung seni cetak juga.

"Dengan demikian batik tidak dapat dikategorikan dalam seni rupa modern kita. Batik adalah seni rupa pra-modern," kata Jacob.

Menurut Jacob, asal usul batik berasal dari Jawa meskipun seni ini telah menyebar di seluruh Indonesia, Asia tenggara, dan dunia. Penyebutan 'batik' itu berasal dari akar kata "thik".

"Padanannya pada sethitihik, mlethik, titik, thithik, yang berarti kecil, sedikit, percik. Barangkali karena dalam senin batik selalu ada isen-isen berupa titik-titik, baik kecil maupun besar," ujarnya ketika menjadi pembicara dalam diskusi "Membedah Batik Nusantar"' di sela-sela penyelenggaraan pameran.

Alam Pikiran Kolektif

Seni batik, kata dia, tidak dapat dipisahkan dari alam pikir Jawa pra-modern. Karena di dalamnya mengandung alam pikiran kolektif masyarakatnya.

Mengapa kolektif? Jacob mengungkapkan gambar batik yang mengandung alam pikiran itu dibutuhkan oleh masyarakatnya, bukan hanya kebutuhan nilai estetiknya, tetapi juga etik dan spiritual. Makanya, dalam seni Jawa ada tingkat-tingkat nilai.

Pertama, wirogo. "Artinya bentuk wadahnya. Anda boleh terampil membuat satu jenis gambar batik, misal parang rusak, yang bentuknya persis sama seperti dituntut oleh pakemnya (masyarakat). Namun belum tentu punya tingkat keduanya, wiromo," terang Jacob lagi.

Wiromo mengacu pada estetiknya menurut paham kita. Yakni membangkitkan pengalaman rasa dan pikir kita. "Tapi itu juga belum cukup 'seni' kalau belum mencapai tingkat wiroso, rasa sejati atau pengalaman spiritual. Ada daya-daya transenden yang bangkit dari batik itu."

Meski demikian, tidak semua batik dibuat dengan tujuan spiritualitas sampai tingkat wiroso. "Banyak batik yang hanya memenuhi kebutuhan wirogo belaka, yakni kebutuhan profam (duniawi) manusia sehari-hari. Tapi ada juga yang tingkat wiroso diperlukan, misalnya kalau acara pernikahan, kelahiran, kematian, dan sebagainya," tutur dia.

Keterampilan seni semacam ini tidak hanya berlaku pada seni batik, tapi juga seni gerabah misalnya. Ada gerabah untuk memasak sehari-hari, ada juga yang untuk hajatan, sesajen. "Proses pembuatannya berbeda meskipun menghasilkan bentuk wirogo yang sama."

Jacob sendiri memandang seniman batik (empu batik) adalah mereka-mereka yang menciptakan batik dengan daya-daya transenden, spiritualitas, meskipun menyalahi aturan wirogo. Kesalahan itu bukanlah sesuatu yang fatal, kata Jacob. Pasalnya, seperti seniman modern, seniman batik juga memiliki semacam licentia puitica atau hak istimewa untuk "salah".

Karena lewat yang 'beda' atau 'lain' itu, seniman mampu menghadirkan yang transenden. Bedanya, samnbung dia, seniman modern menghadirkan yang transenden dalam wilayah pengalaman dan pikiran (kesadaran), sedang seniman batik benar-benar menghadirkan daya-daya transenden itu.

"Seniman modern menghadirkannya lewat bentuk simbolik, sedangkan seniman batik lewat medium batiknya. Itu juga sebabnya, batik merupakan salah satu benda pusaka, sedangkan lukisan modern tetap benda biasa," ujar Jacob.

Terkait dengan karya-karya Hasan yang sekarang ini lebih banyak dikembangkan dengan merek dagang Batik Hasan, Anas mengatakan tidak ada masalah. "Karena ini semua berkembang dan semenjak awal kriya memang terkait dengan (kebutuhan) pasar," terangnya.

Menurutnya, identitas Indonesia dalam urusan batik tidak akan pudar pada pasar apabila tidak memiliki nilai-nilai transenden. Buktinya, usaha Hasan yang dilanjutkan oleh ketiga orang puterinya Sania Sari, Tri Asayani, dan Rani Tria Rani bisa menyentuh ruang-ruang pribadi orang.

Batik tidak hanya menjadi urusan fesyen. Karyanya juga bisa diaplikasikan pada produk-produk lain seperti pelengkap dekorasi dalam rumah, mulai meja, sofa, hingga partisi ruangan. Batik makin bisa dinikmati dalam tampilan yang lebih modern.

Menyoal judul diskusi yang menyebut-nyebut batik Nusantara, Anas mengatakan, seharusnya dunia kampus khususnya di bidang kriya meredefinisi istilah "batik Nusantara" Pasalnya, pengakuan atas istilah tersebut bisa menimbulkan perdebatan.

Secara sederhana, Biranul Anas, Dekan Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung (ITB) mewacanakan "Nusantara" sebagai sebuah kawasan wilayah yang bukan hanya monopoli Indonesia. "Malaysia, Filipina, juga ada di dalamnya," tuturnya.

Anas juga mengungkapkan penciptaan batik, misal di Jawa Barat, sudah berlangsung semenjak dahulu seperti batik Trusmi dari Cirebon , batik Priangan serta batik Garutan. Dengan berbagai motif seperti parang, sawat, meru, sido mukti, prabu anom, atau kawung, seperti yang dikenal di Solo dan Yogyakarta. Ada juga motif liris seno, naga liman, atau gendongan sunyaragi, seperti yang terdapat pada motif batik Cirebon.

Menurut Anas, penciptaan batik seperti yang dilakukan oleh Batik Hasan lebih terbuka terhadap berbagai gagasan, khususnya dalam hal ide pencorakan. Namun berisiko merambah tidak terkendali sehingga sama sekali kehilangan sentuhan batik.

"Ini yang harus diwaspadai, sebab bagaimanapun, batik adalah sebuah ungkapan budaya yang bertolak dari tradisi kaya dan panjang dalam kebudayaan bangsa Indonesia," tegas Anas yang dikenal lewat karya-karya seni seratnya.

[SP/Adi Marsiela]-published 21/1/08

21 batik hasan-adi1.jpg
  
21 batik hasan-adi2.jpg
  
21 batik hasan-adi3.jpg
  
[SP/Adi Marsiela] Salah satu alat yang dapat digunakan untuk membatik atau menutup kain dengan malam (lilin perintang warna). Alat ini disebut canting cap yang dipercaya mendorong pelipatgandaan hasil batik secara kuantitas produksi.
  
[SP/Adi Marsiela] Kain batik dengan dasar katun ini bertuliskan 64 buah Asma Allah yang dibuat dengan menggunakan canting cap, tulis, colet, dan kemudian dicelup. Jenis batik seperti ini tampak pada kain Basurek (Jambi).
  
21 batik hasan-adi6.jpg
  
[SP/Adi Marsiela] Kain batik dengan dasar katun ini bertuliskan 64 buah Asma Allah yang dibuat dengan menggunakan canting cap, tulis, colet, dan kemudian dicelup. Jenis batik seperti ini tampak pada kain Basurek (Jambi).
  
[SP/Adi Marsiela] Kekhasan Batik Hasan terletak pada komposisi yang konsisten dan membentuk struktur yang teratur. Karya yang dibuat dengan canting cap, tulis, colet, dan dicelup ini terlihat memiliki ruang dan ilusi bentuk.
  


boedzielt wrote on Jan 22
batik tasik, nasibnya merana kang! kasian dec!
aquariusgirl wrote on Jun 5
lg gogling batik nemu page ini
mampir bntar aaah ^^

batik oh batik, nasibmu,,,
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help